Pasar Lelang Komoditas Agro Jawa Barat Kembali Bergairah

Sudirman Wamad - detikJabar
Sabtu, 20 Agu 2022 03:30 WIB
Pekerja pemetik daun teh di Brastagi. 
dikhy sasra/ilustrasi/detikfoto
Ilustrasi pemetik teh (Foto: dikhy sasra)
Bandung -

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jabar memastikan pasar lelang komoditas agro kembali bergairah. Nilai transaksinya selama 2021 mencapai Rp 4,497 miliar.

Kepala Disperindag Jabar Iendra Sofyan mengatakan pasar lelang sempat terhenti saat awal pandemi COVID-19 atau 2020. Kemudian, kembali aktif pada 2021 hingga sekarang.

"Menurut Koperasi Pasar Lelang Jawa Barat (KPLJB), pada 2021 lalu berhasil mencatatkan nilai transaksi Rp 4,497 miliar dari 11 kali lelang, komoditasnya kopi dan teh," kata Iendra dalam keterangan yang diterima detikJabar, Jumat (19/8/2022).


"Untuk Januari-Juli 2022 sudah terekapitulasi hasil lelang sebesar Rp 1,090 miliar. Kami tidak melihat angka, tapi dalam masa pemulihan ekonomi, mulai berjalannya KPLJB sudah sangat baik, harapannya bisa lebih baik lagi seperti sebelum 2019," kata Iendra menambahkan.

Iendra mengatakan teh menjadi komoditas unggulan dibandingkan kopi. Pada 2021, volume lelang teh mencapai 655.900 kilogram, kemudian 2022 volumenya sebesar 182.200 kilogram. Sementara kopi masih ada di angka 125 kilogram.

Iendra memastikan pihaknya terus berupaya menciptakan sistem distribusi dan pemasaran komoditas agro pasar lelang dalam rangka efisiensi rantai perdagangan dari lelang yang sudah digelar sejak 2022 lalu tersebut.

Sejak 2021 pihaknya sudah dua kali menggelar bimbingan teknis sistem pasar lelang terpadu. "Bimtek kami lakukan secara terpadu, ini harus terus dilakukan agar kita memperkuat SDM dan para pelaku lelang komoditas agro," katanya.

Dalam bimtek yang digelar para pelaku diberikan pemahaman untuk mempermudah transaksi perdagangan komoditas dengan cara yang lebih mudah. Sehingga diharapkan transaksi di pasar lelang semakin meningkat.

"Sekaligus mempersiapkan SDM pelaku usaha di Jawa Barat untuk dapat terus mencermati informasi terkini terkait perkembangan SPLT dimana dahulunya ofline outcry sekarang online oucry," ujarnya.

Iendra juga tidak menutup kemungkinan ke depan KPLJB membuat inovasi dengan membuka peluang komoditas pertanian lain untuk di lelang agar tata niaga komoditas makin berkembang.

"Syaratnya kita harus memberi pemahaman pada para pelaku, memperkuat kelembagaan, melihat sisi produksi dan kapasitas juga suplai dan demand-nya," katanya.

Menurutnya sektor pertanian di Jabar menduduki posisi yang strategis karena kontribusinya terhadap penyerapan tenaga kerja masih sangat dominan, yaitu 26,10 persen.

"Sehingga pengembangan sektor pertanian akan berpengaruh signifikan terhadap kecukupan stok pangan, mengurangi bahkan menghapuskan impor bahan pangan, dan yang lebih penting meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani dan ujungnya turut mengendalikan inflasi," katanya.

(yum/yum)