Senjakala Petani Tembakau di Kampung Ciawitali Bandung

Yuga Hassani - detikJabar
Senin, 01 Agu 2022 01:30 WIB
Petani tembakau di Kabupaten Bandung.
Foto: Petani tembakau di Kabupaten Bandung (Yuga Hassani/detikJabar).
Kabupaten Bandung -

Petani tembakau di Kampung Ciawitali, Desa Tanjungwangi, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung saat ini telah berkurang. Dari sebelumnya setiap rumah memproduksi tembakau, saat ini hanya tersisa sebanyak 10 orang petani.

Pantauan detikJabar di lokasi, beberapa petani masih bertahan memproduksi tembakau. Terlihat para petani masih menjemur tembakau kering di depan rumahnya.

Tak hanya itu, beberapa petani pun menjemur tembakau di pinggir jalan. Penjemuran tersebut beralaskan anyaman kayu yang berjejer.


Salah seorang petani tembakau, Muslih (52) mengatakan saat ini petani tembakau di wilayahnya telah berkurang. Hal tersebut disebabkan tidak ada generasi penerus yang melirik profesi tersebut.

"Dulu di sini hampir setiap rumah pasti produksi tembakau. Hampir setiap warga menjemur tembakau. Rame lah dulu mah. Tapi sekarang nggak ada yang nerusin," ujar Muslih kepada detikJabar, Minggu (31/7/2022).

Pihaknya menambahkan saat ini petani tembakau di wilayahnya tak mencapai puluhan. Apalagi, kata dia, pada saat pandemi COVID-19 jumlah petani semakin berkurang.

"Pas lagi Corona, jadi banyak yang gulung tikar. Terus emang anak-anaknya nggak pada mau nerusin. Sekarang di RW 08 ini aja cuma ada sekitar 10 petani," katanya.

Muslih menyebutkan saat ini tembakau hasil olahannyadijual ke bandar. Namun, pihaknya melayani masyarakat yang membutuhkan tembakau untuk keperluan pribadi.

"Pembeli yang langsung ke saya ya ada. Cuma ngecer khusus yang butuh aja. Misalnya ada orang butuh buat ngerokok, ya kita jual aja per sasak. Harga yang dijual persasaknya sekitar Rp 25 ribu," ucapnya.

"Kalau ngejual ke bandar sistemnya per kilo, kalau bako (tembakau) nya bagus ada yang Rp 70 ribu sampai Rp 80 ribu per kilo. Nah kalau bandar mah nggak tahu ngejual ke pasaran mah," tambahnya.

Dia mengungkapkan tembakau yang diproduksinya murni hasil panen yang ditanamnya. Kata dia, penanaman tersebut bisa mencapai beberapa bulan.

"Ini memang hasil panen, hasil nanam sendiri dari masih biji, di ladang di gunung warisan. Nanamnya bisa sampai panen sekitar 8 bulan. Setelah itu dijemur, ada yang seminggu, ada yang dua minggu," jelasnya.

Muslih menambahkan produksi tembakau telah dilakukannya sejak dari zaman orang tuanya. Hingga saat ini mencoba untuk mempertahankannya.

"Ini produksi udah dari zaman dari orang tua saya. Pas saya masih kecil ini udah ada. Makanya saya coba terusin aja penjualan tembakau ini," ujarnya.

(mso/mso)