Bandung Makin 'Berbahaya' gegara Polusi Udara

Round Up

Bandung Makin 'Berbahaya' gegara Polusi Udara

Tim detikJabar - detikJabar
Jumat, 30 Okt 2026 09:30 WIB
Jembatan Layang Pasupati terlihat dari Jalan Cihampelas, Bandung, Jawa Barat, Selasa (22/2/2022). Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengganti nama Jembatan Layang Pasupati menjadi Jalan Prof Dr Mochtar Kusumaatmadja yang merupakan tokoh penggagas wawasan nusantara. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/foc.
Ilustrasi Kota Bandung (Foto: ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI)
Bandung -

Padatnya aktivitas dan lalu lintas di Kota Bandung menyisakan persoalan lain yang tak selalu terlihat mata. Bagaimana tidak, kualitas udara di Ibu Kota Jawa Barat itu masuk dalam kategori yang begitu buruk dan tidak sehat.

Berdasarkan pantauan detikJabar di situs IQAir, kualitas udara Kota Bandung sejak siang berwarna merah dengan angka 167 dan menurun menjadi 152. Memasuki sore hari, kualitas udara itu sedikit membaik menjadi warna oranye dengan angka 148-142.

Sementara pemantauan di situs AQMS Bandung secara real tim, kualitas udara Kota Bandung pukul 17.15 WIB berada pada angka 76 atau sedang. Di situs tersebut juga mencantumkan keterangan bahwa kualitas udara terjadi karena peningkatan polutan ringan dari kendaraan, debu jalanan atau pembakaran skala kecil.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Indeks kualitas udara sendiri dikategorikan tidak sehat pada rentang 101-200. Sementara itu, tingkat polusi yang mencapai angka 201-300 menandakan indikator berwarna merah, yang berarti kualitas udara berada dalam kategori sangat tidak sehat.

ADVERTISEMENT

Rekomendasi yang perlu dilakukan masyarakat, khususnya penderita asma dan penyakit jantung, adalah menghindari aktivitas di luar ruangan, tetap berada di dalam ruangan, dan ikuti petunjuk medis bila gejala muncul. Untuk warga Kota Bandung, kurangi aktivitas di luar ruangan, gunakan masker bila harus keluar rumah, dan tutup jendela serta pintu untuk mengurangi masuknya udara luar.

Kondisi ini pun tentu membawa keluhan. Salah satu warga, Dian mengatakan, akhir-akhir ini kualitas udara di Kota Bandung cukup buruk, bahkan terasa saat berkendara di jalanan.

"Gak enak udaranya, harus pakai masker biar tetap aman," katanya kepada detikJabar dijumpai di Jalan Anggrek.

Menurut Dian, dia harus menggunakan masker double demi kesehatan. "Saya sampai pakai masker dua, khawatir sakit lagi, soalnya dua minggu lalu sempat batuk dan flu, ini tuh baru sembuh," ujarnya.

Hal serupa juga dikeluhkan oleh Nuri. Nuri menyebut saat berkendara, udara Kota Bandung tidak enak dihirup, apalagi di siang hari.

"Kalau pagi lumayan segar lah, kalau siang duh sumpek banget, semua orang juga rasakan. Apalagi kalau lewat Jalan Soekarno Hatta yang mau ke Cimahi tuh, atau sekitaran Kopo, berdebu juga duh," terang Nuri.

Nuri berharap ada langkah strategis yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi permasalahan udara di Kota Bandung. "Harus ada langkah-langkah strategis dan antisipatif yang dilakukan pemerintah. Kalau tidak ada tindakan, kesehatan warga terancam," ucapnya.

Saat dikonfirmasi detikJabar, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung Darto menjelaskan soal kondisi tersebut. Penyebabnya kata Darto, diduga berasal dari polusi jalanan kendaraan.

"Dugaannya memang karena sektor transportasi publik, kecenderungannya karena polusi. Terus polusi karena gesekan ban dengan aspal sampai asap knalpot yang keluar, termasuk semburan kendaraan yang membawa debu dan seterusnya," katanya.

Darto mengatakan, kualitas udara di Kota Bandung saat ini memang mengkhawatirkan. Biasanya, kondisi itu terjadi di jam-jam sibuk seperti pukul 06.00 s/d 09.00 WIB, lalu di pukul 16.00 s/d 19.00 WIB.

"Di jam-jam itu memang kecenderungannya buruk kualitas udaranya," ungkap Darto.

DLH sendiri memiliki 5 alat pemantau kualitas udara. Bahkan, DHL sudah dibekali alat yang bisa mobile memantau kondisi itu di lapangan secara langsung.

Sementara di situs resminya, AQMS Bandung, DLH telah memberi imbauan kepada masyarakat. Jika kondisinya sudah buruk, maka situs tersebut memberi rekomendasi seperti imbauan memakai masker bagi kelompok yang rentan terkena penyakit saluran pernapasan.

"Jadi di kondisi baik itu kita harus ngapain, di kondisi sedang harus ngapain, di kondisi kurang baik, buruk, sangat buruk, kita ngapain, itu sudah ada panduannya. Misalnya penderita asma dan penyakit jantung untuk menghindari aktivitas di luar ruangan dan ikuti petunjuk medis," paparnya.

Menurut perbincangannya, Darto menyatakan bahwa DLH sebetulnya sudah memiliki upaya untuk menjaga kualitas udara di Kota Bandung. Misalnya dengan merekomendasikan supaya kendaraan yang mengaspal sudah terlebih dahulu dinyatakan lolos uji emisi.

"Karena dugaannya kan emisi gas buang kendaraan bermotor. Maka upaya kita adalah memastikan supaya kendaraan yang beroperasi di Bandung teh lulus uji emisi. Kemudian kita merawat pohon merawat tanaman, pohon, supaya bisa menyerap oksigennya lebih banyak," karanya.

"Terus sebenarnya yang perlu lebih signifikan dilakukan tuh adalah kita berharap supaya penggunaan kendaraan yang mengeluarkan emisi yang berlebihan dikurangi. Makanya kita mendorong selain ada transportasi massal yang lebih ramah lingkungan, kita juga menganjurkan supaya semua orang menggunakan transportasi publik bukan kendaraan pribadi," pungkasnya.



(ral/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads