Bandung memang dikenal dengan udara sejuk, hamparan perbukitan, serta julukan Kota Kembang yang telah melekat sejak lama. Namun, di balik pesona kota yang ramai oleh kuliner, kreativitas, dan aktivitas anak muda, Bandung juga menghadapi persoalan lingkungan yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Sampah yang menumpuk di sungai, polusi udara dari kendaraan, berkurangnya ruang hijau, hingga tekanan terhadap mata air menjadikan gerakan peduli lingkungan semakin penting.
Di tengah dinamika kota tersebut tumbuh banyak komunitas yang tidak sekadar mengeluh, melainkan turun langsung membersihkan sungai, mengolah sampah, menanam pangan, dan mendorong warga memilih gaya hidup lebih ramah lingkungan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut tujuh komunitas lingkungan di Bandung yang patut detikers kenal, sekaligus bisa diikuti bila ingin berkontribusi.
1. Komunitas Masagi Tjibogo
Komunitas Masagi Tjibogo lahir dari keresahan warga Kampung Cibogo terhadap persoalan sampah yang belum tuntas. Mengutip dari beberapa sumber, komunitas ini berdiri pada 2019 dan mengusung pendekatan berbasis budaya lokal untuk membangun kesadaran warga sekaligus mengolah sampah menjadi produk bernilai ekonomi.
Kegiatannya mencakup Perelek Sampah, urban farming, serta Sakola Lingkungan atau Sakoling. Melalui program tersebut, warga diajak memilah sampah, menanam di ruang terbatas, dan belajar bahwa sampah dapat menjadi sumber kreativitas.
Daya tariknya semakin terlihat ketika Masagi Tjibogo berkolaborasi dengan Institut Teknologi Bandung dalam workshop daur ulang botol plastik PET. Limbah botol diolah menjadi filamen untuk pencetakan 3D, menunjukkan bahwa sampah bisa berubah menjadi produk kreatif dan bermanfaat.
2. Pandawara Group
Pandawara Group adalah kelompok lima pemuda asal Bandung yang dikenal luas melalui aksi membersihkan sungai dan pantai dari sampah. Mengutip dari jurnal karya Alifia Zahira Shofa Setyawan berjudul 'Analisis Kampanye Creator Contribution Pandawara Group untuk Mencapai Tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) di Instagram' (2025), menyebutkan bahwa mereka mulai aktif membagikan konten lingkungan di media sosial pada Agustus 2022, lalu cepat menarik perhatian publik karena aksinya yang nyata dan dokumentasinya yang kuat.
Anggotanya, yakni Gilang Rahma, Ikhsan Destian, Rifqi Sa'dulah, Rafly Pasya, dan Agung Permana, kerap membentuk tim rangers berjumlah 8 sampai 15 orang untuk membersihkan satu sungai. Aksi tersebut tidak hanya mengangkat sampah, tetapi juga mengajak masyarakat melihat skala pencemaran yang sering tersembunyi dari pandangan sehari-hari.
Yang menarik, Pandawara Group menggabungkan aktivisme dengan konten digital. Melalui kampanye Creator Contribution di Instagram @pandawaragroup, mereka mengajak kreator turut menyuarakan isu lingkungan, sehingga pesan konservasi menjangkau audiens yang lebih luas.
3. Komunitas Cika-cika
Mengutip dari beberapa sumber, komunitas Cika-cika telah bergerak sejak 2012 untuk menjaga kebersihan Sungai Cikapundung. Sungai yang membelah Bandung ini kerap menghadapi tekanan sampah dan aktivitas warga di sekitarnya, sehingga kehadiran komunitas menjadi penting bagi keberlanjutan ekosistem perkotaan.
Fokus utama Cika-cika adalah membersihkan sungai, menjaga bantaran, serta menumbuhkan rasa memiliki di kalangan warga. Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa perawatan sungai tidak cukup hanya dilakukan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Bagi detikers yang ingin melihat Bandung dari sisi yang lebih hidup, keberadaan Cika-cika menjadi pengingat bahwa Sungai Cikapundung bukan sekadar aliran air. Ia adalah ruang sosial, ekologis, dan budaya yang perlu dijaga bersama.
4. Komunitas CAI
Melansir dari laman Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, Komunitas CAI atau Cinta Alam Indonesia dibentuk pada 2017 oleh pemuda kreatif dari Kelurahan Ledeng, Kota Bandung, dan resmi berbadan hukum pada tahun 2020.
Nama CAI dalam bahasa Sunda berarti air, sesuatu yang sangat relevan dengan perhatian mereka terhadap lingkungan dan tata ruang di Bandung Utara. Komunitas ini dikenal melalui upaya revitalisasi lingkungan sekitar Gedong Cai Tjibadak 1921.
Mereka merawat kawasan bersejarah tersebut sekaligus menjadikannya ruang untuk memperkuat kesadaran warga akan pentingnya lingkungan yang sehat. CAI juga aktif membangun jejaring dengan komunitas lain.
Dalam pertemuan bersama WWF-Indonesia, CAI menyuarakan persoalan keterbatasan ruang, ketimpangan sosial, dan pengawasan tata ruang yang masih lemah di Bandung Utara.
5. Masyarakat Kreatif Kampoeng Tjibarani
Mengutip dari artikel detikJabar yang berjudul "Menilik Kampung Cibarani dari Bantaran Sungai Cikapundung Bandung", masyarakat Kreatif Kampoeng Tjibarani berada di bantaran Sungai Cikapundung, tepatnya di Kelurahan Hegarmanah, Kecamatan Cidadap. Komunitas ini terbentuk pada awal 2020 dan awalnya berfokus memberdayakan ruang terbuka hijau agar dapat dimanfaatkan warga.
Gerakan mereka menggabungkan pemberdayaan masyarakat dan konservasi lingkungan. Warga diajak merawat kawasan sungai, mengelola ruang hijau, serta menghadirkan edukasi lingkungan bagi masyarakat sekitar.
Kampoeng Tjibarani menarik karena menunjukkan bahwa kampung di tepi sungai dapat menjadi ruang kreatif, edukatif, dan lebih bersih. Kolaborasinya dengan berbagai komunitas lingkungan juga memperkuat upaya menjaga Cikapundung agar tidak semakin tercemar.
6. Kebun Seni Tani
Melansir dari laman resminya, Kebun Seni Tani adalah komunitas yang mengubah lahan tidur di Bandung menjadi kebun pangan produktif. Mereka menerapkan urban farming dengan pertanian organik berkelanjutan, terutama di kawasan Arcamanik yang memiliki lahan di bawah saluran udara tegangan tinggi.
Komunitas ini mengusung model Community Supported Agriculture atau CSA. Melalui model tersebut, masyarakat dapat terhubung langsung dengan petani lokal dan memperoleh sayur segar secara berkala, sementara petani mendapatkan dukungan yang lebih stabil.
Pada 2025, Seni Tani kembali membangunkan lahan tidur seluas 1.700 meter persegi di kawasan Cigadung. Program utamanya meliputi Tani Berdaya, Tani Bestari, dan Daur Tani, yang menempatkan pemberdayaan, keberlanjutan, dan lokalitas sebagai fondasi gerakannya.
7. Eco Camp
Melansir dari laman resminya, Eco Camp adalah ruang belajar lingkungan yang berlokasi di Jalan Dago Pakar Barat No 3, Ciburial, dekat Taman Hutan Raya Djuanda. Awalnya bernama Spirit Camp pada 2002, komunitas ini kemudian resmi lahir sebagai Eco Camp pada 2013 dengan mengintegrasikan alam, budaya, dan sains.
Fokusnya adalah mengembalikan hak anak untuk belajar melalui alam. Kegiatannya dirancang berbasis pengalaman, sehingga anak-anak, keluarga, dan komunitas dapat bermain, menjelajah, sekaligus memahami pentingnya menjaga bumi.
Eco Camp juga menjalin program bersama mitra untuk meningkatkan kesadaran ekologi dan kesehatan, termasuk mendorong guru menjadi pemimpin hijau di sekolah. Bagi keluarga di Bandung, tempat ini menjadi pilihan menarik untuk liburan yang sekaligus edukatif.
(sud/sud)
