Sabtu pagi (24/10/2026), suasana di jantung Kota Kembang terasa lebih hidup dari biasanya. Ratusan warga menyemut di sepanjang trotoar, antusias menanti iring-iringan warna-warni yang membelah jalanan dalam gelaran Karnaval Jampana. Hajatan besar ini digelar Pemerintah Kota Bandung sebagai puncak perayaan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216.
Parade dimulai dari kawasan Jalan Diponegoro dan berakhir di Balai Kota Bandung. Ada pemandangan unik dalam pengaturan lalu lintas kali ini. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, ruas Jalan Ir H Djuanda hingga Jalan Merdeka tidak ditutup total. Petugas menerapkan sistem sepenggal jalan, lajur kiri tetap bisa dilintasi kendaraan, sementara lajur kanan sepenuhnya menjadi panggung bagi para peserta karnaval.
Kreativitas warga dan aparatur kewilayahan tumpah ruah di jalanan. Sebanyak 30 kecamatan dan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) mengirimkan perwakilan terbaik mereka. Tak hanya dari internal kota, tamu dari daerah lain seperti Kabupaten Bantul pun turut unjuk gigi memamerkan kekayaan budayanya.
Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah aksi teatrikal dari Dinas Cipta Bintar. Mereka tampil nyentrik dengan kostum yang tak biasa, memadukan unsur humor dan pesan sosial.
"Keren-keren, tadi yang dari Dinas Cipta Bintar cosplaynya malaikat kematian. Tapi temanya masuk sih, karena mereka juga bawa poster soal TPU-TPU di Kota Bandung," kata Widi salah satu warga yang hadir di lokasi.
Tak mau kalah, rombongan dari DSDABM Kota Bandung tampil dengan gaya industrial. Mereka mengenakan kostum bertema alat-alat bangunan, bahkan ada peserta yang mengangkut miniatur backhoe di tengah barisan.
Sebagai karnaval budaya, akar tradisi tetap menjadi ruh utama acara. Suara tabuhan dog-dog bersahutan dengan atraksi singa depok dan reak. Tak ketinggalan, kesenian benjang yang menjadi kebanggaan warga Kecamatan Ujungberung turut memukau penonton dengan gerakannya yang dinamis.
"Kegiatan seperti ini harus sering digelar, menarik soalnya. Juga bisa mengundang wisatawan," kata Widi.
Harapan serupa juga terlontar dari Dini. Baginya, karnaval seperti ini adalah suntikan kebahagiaan bagi warga di tengah rutinitas kota. Namun, ia memberikan sedikit catatan kritis mengenai pengaturan arus lalu lintas yang dirasanya kurang memberikan kesan "megah" karena jalan yang tidak ditutup sepenuhnya.
"Sayangnya jalannya gak ditutup, jadi tidak terlihat padat. Kalau ditutup kan masuk barengan rombongannya jadi padat," ujar Dini.
Simak Video "Video: Melihat Uniknya Truk Karnaval 17 Agustus Lintas Kementerian"
(wip/dir)