Suara mesin bergemuruh sejak mentari mulai menunjukkan sinarnya. Derap langkah para pekerja tampak terampil memadukan satu demi satu bahan baku.
Hentakan mesin pengeras mengalun, membentuk kepingan logam menjadi karya bernilai jual. Timah putih dan tembaga berpadu, melebur menghasilkan kepingan bundar yang kita kenal sebagai simbal.
Karakter suara yang dihasilkan simbal memiliki keunikan tersendiri. Kehadiran alat musik ini krusial untuk memperkaya dinamika dalam sebuah ansambel atau set drum.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Simbal berfungsi sebagai penjaga ritme, pemberi aksen, hingga penekanan suara. Karena itulah, alat musik ini diproduksi dalam berbagai jenis dan ukuran.
Proses produksi Cymbal Nebulae di Kampung Tenjolaya, Desa Ciluncat, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung (Foto: Yuga Hasani/detikJabar). |
Selama ini, simbal identik dengan produk impor asal China. Namun, siapa sangka, Indonesia memiliki produsen simbal berkualitas yang berbasis di Kabupaten Bandung.
Salah satu pemain lokal yang sukses menembus pasar adalah Nebulae Cymbal. Bisnis ini telah eksis sejak tahun 1997.
Pemilik Nebulae Cymbal, Surya Sumirat, menuturkan bahwa usahanya bermula dari kedekatannya dengan mesin bubut sejak kecil. Saat beranjak remaja, ia mulai serius mempelajari teknik pembuatan simbal.
"Awalnya itu saya punya rental studio musik. Terus kesulitan membeli simbal, karena dalam bisnis tersebut yang kerap mengalami kerusakan adalah pada bagian simbal," ujar Surya, saat ditemui di kediamannya, Kampung Tenjolaya, Desa Ciluncat, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung, Jumat (23/10/2026).
Menurut Surya, biaya operasional sering habis hanya untuk mengganti simbal yang rusak. Kondisi itulah yang memicu tekadnya untuk memproduksi simbal secara mandiri.
"Nah, tahun 97 digagas dan sudah bisa membuat, dan langsung dipakai, tapi belum sempurna. Baru kemudian tahun 98 orang-orang pada tahu, dan kami mulai menjualnya," katanya.
Proses produksi Cymbal Nebulae di Kampung Tenjolaya, Desa Ciluncat, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung (Foto: Yuga Hasani/detikJabar). |
Surya mengungkapkan, filosofi nama Nebulae berkaitan dengan awal mula penciptaan alam semesta yang penuh dengan ledakan dan getaran.
"Jadi mula penciptaan alam semesta tuh ada ledakan dan sekarang tuh masih ada getarannya. Dan saya harapkan mungkin Nebulae juga dari awal dibikin sampai nanti pada akhir hayat juga getarannya tuh masih ada," ungkapnya.
Awalnya, simbal buatan Surya hanya digunakan untuk kebutuhan studio pribadinya. Namun, kualitasnya menarik perhatian pengusaha rental musik lain.
"Akhirnya mereka juga membeli ke tempat kami. Dan dari itu berita menyebar, akhirnya beberapa toko distributor musik juga tahu. Setelah itu penjualan secara offline berlangsung sampai tahun 2020, pas krisisnya aja, COVID," jelasnya.
Cymbal Nebulae diracik dari campuran tembaga dan timah putih atau perunggu. Dalam satu bulan, mereka mampu memproduksi hingga 280 keping simbal.
"Kami membuat simbal itu proses awal pembuatan, kita membuat, kami itu membuat simbal tuh dari raw material dari tembaga dan timah putih. Jadi kadang ada gagalnya juga," ucapnya.
Produk Nebulae mencakup berbagai jenis, mulai dari hi-hat, splash, effect cymbal, crash, hingga ride. Surya menyebut simbal buatannya hadir dalam beragam spesifikasi.
"Kita ada 14 seri simbal yang diproduksi. Harganya dari mulai ratusan ribu rupiah sampai dengan Rp 3,5 juta. Kalau yang simbal smith (costum) harganya Rp 4 juta - Rp 6 juta," ungkapnya.
Keunggulan utama Nebulae terletak pada proses pembuatannya yang melibatkan pemain drum langsung, sehingga aspek tuning atau setelan nada sangat diperhatikan.
"Nebulae sendiri mempunyai keunggulan bahwa Nebulae itu dibuat berdasarkan kebutuhan konsumen. Jadi awal mulai kita buat simbal tuh, kita riset dulu, simbal yang banyak dibutuhkan yang seperti apa," kata Surya.
Kini, simbal asli Kabupaten Bandung ini telah menjangkau pasar nasional hingga mancanegara.
"Alhamdulillah kalau penjualan sudah di Bandung dan seluruh Indonesia. Beberapa orang luar negeri pun sempat membeli ke sini langsung," bebernya.
Cymbal Nebulae di Kampung Tenjolaya, Desa Ciluncat, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung (Foto: Yuga Hasani/detikJabar). |
Untuk memperluas jangkauan, Nebulae kini gencar melakukan digitalisasi melalui platform Nebulae Soundlab.
"Adanya Sound Lab adalah kita dapat menyampaikan informasi dari simbal Nebulae langsung ke user. Jadi penyebaran informasi dari kita menuju user bisa lebih cepat, terutama di jaringan luar negeri," tuturnya.
Sound Lab juga berfungsi sebagai sarana bagi pembeli untuk mengecek sampel suara simbal secara langsung.
"Terus kita bikin prototipe misalnya di sini di pabrik, nanti dicobanya di sini sampai misalnya kita dengar hasil rekaman seperti apa. Itu dilakukan di sini," pungkasnya.



