Eceng Gondok yang Tumbuh Tak Terkendali Disulap Jadi Pupuk-Paving

Eceng Gondok yang Tumbuh Tak Terkendali Disulap Jadi Pupuk-Paving

Whisnu Pradana - detikJabar
Jumat, 16 Okt 2026 17:00 WIB
Lahan pertanian dan perkebunan di kaki Gunung Burangrang
Lahan pertanian dan perkebunan di kaki Gunung Burangrang (Foto: Whisnu Pradana/detikJabar)
Bandung Barat -

Lahan pertanian di kaki Gunung Burangrang, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) mulai kembali ditanami beragam jenis sayuran dan bunga pascalongsor di awal tahun 2026.

Dari lahan itu, ribuan orang menggantungkan hidupnya mengharap pundi-pundi untuk menyambung hari demi hari. Sempat hancur lebur dihantam longsor, perlahan warga menggarap lagi tanah yang sempat lumpuh.

Seperti dilakukan Teti, penyintas longsor Cisarua yang suaminya kembali menggarap lahan di kaki Gunung Burangrang dengan tanaman sayuran seperti cabai serta sawi. Suaminya menggarap lahan milik orang lain bersama beberapa orang rekannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ya mulai berkebun lagi, baru berani sekarang. Kemarin-kemarin masih ada ketakutan, tapi kalau enggak gini ya enggak kerja," kata Teti saat ditemui, Jumat (16/10/2026).

ADVERTISEMENT

Geliat pemulihan ekonomi warga di sektor pertanian itu mendapat suntikan semangat baru. Lahan-lahan yang sempat tertutup material longsor kini siap kembali ditanami berkat dukungan sarana produksi pertanian dan akses infrastruktur yang mulai diperbaiki.

Dukungan tersebut salah satunya datang dari PT PLN Indonesia Power (PLN IP) UBP Saguling melalui inovasi pemanfaatan gulma eceng gondok Waduk Saguling yang disulap menjadi pupuk organik cair serta paving block.

"Pemulihan pascabencana bukan hanya tentang membangun kembali yang rusak, tetapi juga mengembalikan harapan, menghidupkan kembali aktivitas masyarakat, dan memastikan kehidupan dapat berangsur pulih," ujar Senior Manager PLN IP UBP Saguling, Doni Bakar.

Sebanyak 286 liter pupuk organik cair berbahan eceng gondok disalurkan langsung kepada para petani penyintas longsor agar bisa segera mengolah dan memulihkan produktivitas lahan pertanian mereka. Tak hanya itu, paving block berbasis limbah eceng gondok juga dipasang untuk memperbaiki akses mobilitas warga sepanjang kurang lebih 300 meter.

Doni menjelaskan, tanaman eceng gondok yang selama ini kerap menjadi gulma pengganggu di perairan Waduk Saguling justru diolah menjadi barang yang memberikan dampak langsung bagi warga yang sedang berjuang pulih dari bencana.

"Tanaman yang kerap menjadi tantangan dalam pengelolaan perairan ini dapat kami olah menjadi produk yang mendukung kebutuhan pertanian dan pembangunan prasarana," katanya.

Tanaman yang kerap menjadi tantangan dalam pengelolaan perairan utamanya di Bandung Barat ini, ternyata dapat diolah menjadi produk yang mendukung kebutuhan pertanian dan pembangunan prasarana. Pemanfaatan eceng gondok sebagai bahan baku produk yang memiliki nilai guna bagi masyarakat juga menjadi solusi nyata.

Melalui pemanfaatan eceng gondok sebagai bahan pupuk organik cair dan paving block, UBP Saguling mendorong pendekatan yang menghubungkan kepedulian lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat.

Di sisi lain, kami juga selalu berusaha menjaga kualitas air perairan Waduk Saguling, karena keberadaan eceng gondok menjadi indikator penurunan kualitas air," ujarnya.



(dir/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads