Teti antre di belakang warga lain yang sudah lebih dulu berbaris rapi di halaman Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Wanita 39 tahun itu merupakan penyintas longsor Cisarua yang melanda pada Januari 2026 lalu.
Teti kehilangan 13 anggota keluarganya, termasuk kedua orang tuanya. Sementara Teti tinggal berbeda rumah, hanya bersama suami dan anak-anaknya. Kini Teti sedang menata kehidupannya dari nol.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Teti rajin menerima bantuan beragam jenis, tak hanya pakaian namun juga bahan makanan. Seperti kali ini, ia mengantre bantuan satu karung beras Cadangan Pangan Pemerintah demi menyambung hidup.
"Alhamdulillah dapat bantuan beras, lumayan buat sehari-hari. Soalnya sekarang ya belum kerja apa-apa," kata Teti saat ditemui, Jumat (9/10/2026).
Teti belum punya rencana akan bekerja apalagi, setelah lahan perkebunan sayur miliknya yang tak seberapa ludes dilibas material longsor di Gunung Burangrang. Petaka itu sampai saat ini masih menghantuinya, baik secara emosional maupun material.
"Ya bingung, mungkin nanti mau ngegarap lahan lagi. Cuma kan sekarang lagi kemarau, sumber airnya juga susah," kata Teti.
Sementara itu, Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail mengatakan pihaknya menyalurkan beras cadangan pangan pemerintah daerah sebanyak 10.044 kilogram untuk para penyintas.
"Ya kita menyalurkan sebanyak 10.044 kilogram beras cadangan pemerintah daerah, untuk sebanyak 558 jiwa terdampak. Karena kita harus memikirkan kondisi mereka bukan saat bencana saja, tapi juga setelah bencana," kata Jeje.
Setelah ini, pemerintah tinggal memikirkan nasib para penyintas yang kehilangan rumah. Pemerintah sendiri menjanjikan relokasi bagi mereka yang rumahnya hilang diterjang longsor.
"Ya kita akan salurkan bantuan nanti untuk relokasi, nanti akan kita sampaikan perkembangannya," kata Jeje.
(sud/sud)
