Di sebuah sudut kandang yang rindang di kawasan Dusun Cipadung, Desa Mulyamekar, Kecamatan Tanjungkerta, Kabupaten Sumedang, helaan napas berat terdengar berirama. Setiap kali tubuhnya bergeser, lantai beton kandang seolah bergetar pelan. Di sinilah seekor sapi jantan bernama Robin Hood menghabiskan hari-harinya.
Dengan bobot fantastis mencapai 1,4 ton, Robin Hood berdiri gagah bak benteng berjalan. Otot-otot paha dan punggungnya menyiagakan kekuatan luar biasa, sementara sorot matanya yang tenang justru memancarkan kelembutan. Ukuran ini tentu jauh melampaui rata-rata sapi lokal yang umumnya hanya berbobot 300 hingga 500 kilogram.
Nama Robin Hood diambil bukan tanpa alasan. Seperti pahlawan legendaris yang mencuri perhatian dunia, sapi ini berhasil menyabet gelar juara dalam kontes ternak tingkat nasional. Robin Hood membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar sapi berbadan gemuk, melainkan hasil karya pemeliharaan dan genetika unggul yang dirawat dengan ketelitian tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belum lama ini, Ace Taryana (43) yang tak lain pemilik sapi raksasa itu membawa Robin Hood ke panggung Kontes Sapi Asosiasi Peternak dan Penggemar Sapi Indonesia (APPSI) Piala Presiden 2026 di Kabupaten Bogor. Hasilnya, sapi dengan jenis simental crossing tersebut keluar sebagai juara pertama dengan bobot terberat mengalahkan ratusan lebih sapi yang dibawa dari penjuru tanah air.
"Allhamdulilah juara di kelasnya dan menjadi sapi terberat, terbesar se-Indonesia," ujar Ace kepada detikJabar, Selasa (13/10/2026).
Hasil itu tentu membuat bangga Ace dan tim peternaknya. Pasalnya, untuk membesarkan Robin Hood hingga saat ini tidak mudah. Mulanya, ia bercerita bahwa Robin Hood dulu dibeli sebesar Rp30 juta dengan bobot sekitar 500 kilogram lebih dari orang yang ia kenal.
"Itu saya dapat sapi dari usia 20 bulan. Cuma dari perawatannya kurang terawat. Alhamdulillah pas dibawa ke sini, ada peningkatan yang bagus. Dirawat hanya 21 bulan dan ini hasilnya bisa jadi juara dan beratnya sampai 1,48 ton," katanya.
Ace menilai, sapi miliknya yang kini sudah berusia 3,4 tahun itu masih bisa bertumbuh besar jika terus dalam keadaan sehat. Ia pun akan selalu maksimal untuk merawat Robin Hood.
"Kalau sehat mudah-mudahan bisa nambah lagi Kalau bisa nambah insya Allah, mudah-mudahan sapinya sehat. Kenapa saya bilang bisa nambah lagi? Karena kan ini usianya baru 3 tahun 4 bulan, biasanya kan tulang bisa berhenti nambah biasanya usia 4 tahun lebih, jadi kemungkinan tulangnya bisa nambah," ucapnya.
"Sebenernya ga ada rahasia, penting perawatan maksimal. Hasil yang terbaik, dan kebersihan kandang aja biasa. Untuk perawatan mungkin ini dasarnya sapinya tulangnya gede dan bibitnya gede," sambungnya.
Ace mengaku akan menjual sapi kesayangan nya tersebut jika memang harga telah sesuai dengan keinginannya. Bahkan, ia mengatakan bahwa Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi telah menawar sapi miliknya tersebut.
"Ya kalau cocok harga, insya Allah dijual. Kalau misalnya belum cocok, ya kita rawat aja. Nantikan kejuaraan-kejuaraan berikutnya. Banyak yang nawarnya, cuman belum ada yang pas aja. Kalau untuk dilirik oleh Pak KDM mudah-mudahan jadi kemarin yang dijanjikan jadi dibeli oleh Pak Gubernur," ungkapnya.
Wujud Robin Hood, sapi raksasa asal Tanjungkerta, Sumedang. Foto: Dwiky Maulana Vellayati/detikJabar |
Sementara itu, prestasi tersebut tak hanya menjadi kebanggaan bagi Ace tetapi juga memicu apresiasi dari pemerintah daerah. Robin Hood kini menjadi simbol keberhasilan dan pendorong semangat bagi pemilik sapi di Jawa Barat, khususnya di Kecamatan Tanjungkerta, dalam mengembangkan bibit ternak berkualitas super.
"Saya sangat senang sekali melihat sapi yang luar biasa ini dan bisa menginspirasi semua peternak khususnya yang ada di Tanjungkerta. Bahkan Kang Ace menyampaikan siap untuk berbagi pembelajaran bagaimana mengurus sapi ini dari pakannya, dari tata kelolanya, manajemennya, manajemen makannya itu diatur ya. Makan apa saja yang harus memang disupport untuk kesehatan tubuh daripada sapi ini," kata Camat Tanjungkerta, Indra Wahyudinata, di lokasi yang sama.
Indra berharap, Ace maupun warga dari Tanjungkerta khususnya, dapat melahirkan sapi-sapi lain selain Robin Hood untuk bisa membanggakan daerah.
"Dan mudah-mudahan apa yang diharapkan daripada Kang Ace ini bisa terwujud. Dan Kang Ace tidak hanya sampai di sini untuk mengurus sapi, tapi ke depannya dia juga akan membesarkan sapi-sapi yang lainnya, ya sudah barang tentu nanti yang sesuai dengan kategori Kang Ace untuk dibesarkan nanti," pungkasnya.
Kehadiran Robin Hood sering kali mengundang decak kagum siapa saja yang melihatnya secara langsung. Kisah Robin Hood memberi bukti nyata bahwa sektor peternakan lokal mampu melahirkan ternak berkelas dunia jika dikelola secara profesional dan penuh ketelatenan. Dari tanah Sumedang, Robin Hood kini berdiri sebagai legenda hidup sapi jumbo Indonesia.

