Ilham Habibie Soroti Tantangan Startup Dirgantara

Ilham Habibie Soroti Tantangan Startup Dirgantara

Nedzar Rabbany El Haq - detikJabar
Selasa, 13 Okt 2026 17:14 WIB
Ilham Habibie saat menghadiri Final Demo Day BUILD Indonesia 2026.
Ilham Habibie saat menghadiri Final Demo Day BUILD Indonesia 2026. (Foto: Nadzar Rabbany)
Jakarta -

Di tengah perkembangan perusahaan rintisan (startup) di berbagai sektor teknologi, pengembangan bisnis di bidang dirgantara memiliki tantangan tersendiri. Selain mengembangkan inovasi, pelaku startup juga perlu memetakan kebutuhan pasar agar teknologi yang mereka tawarkan dapat berkembang menjadi bisnis yang berkelanjutan.

Persoalan tersebut menjadi salah satu hal yang disoroti Ilham Habibie saat menjadi juri dalam Final Demo Day BUILD Indonesia 2026, kolaborasi Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Boeing. Dalam kegiatan tersebut, sepuluh startup mempresentasikan bisnis, produk, atau proses yang berkaitan dengan sektor dirgantara.

Menurut Ilham, inovasi yang dikembangkan para peserta memiliki penerapan yang beragam. Meski sama-sama berkaitan dengan dirgantara, sejumlah gagasan juga menyentuh sektor lain, seperti pertanian dan kesehatan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keragaman tersebut menunjukkan luasnya kemungkinan pemanfaatan teknologi dirgantara. Namun, Ilham menilai perkembangan startup di bidang ini masih menghadapi tantangan untuk tumbuh menjadi perusahaan berskala besar.

ADVERTISEMENT

Ia membandingkan kondisi tersebut dengan sektor lain, seperti teknologi finansial (fintech) dan perdagangan elektronik (e-commerce), yang telah melahirkan perusahaan rintisan berskala besar.

"Apakah sudah ada yang benar-benar sukses menjadi besar? Itu jawabannya ya belum ada, kalau kita lihat di dirgantara," ujar Ilham.

Ukuran Pasar Jadi Tantangan

Salah satu hal yang disoroti Ilham adalah kebutuhan pasar. Menurutnya, kebutuhan terhadap layanan pendanaan memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan kebutuhan terhadap teknologi tertentu di sektor dirgantara, seperti pesawat nirawak atau drone.

Ia mencontohkan layanan pendanaan untuk usaha kecil dan menengah (UKM), peer-to-peer lending, crowdfunding, hingga pinjaman daring yang memiliki banyak pengguna potensial.

"Keperluan untuk pendanaan itu lebih fundamental dan semuanya memerlukannya," kata Ilham.

Menurutnya, perbedaan kebutuhan tersebut menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika membandingkan perkembangan startup di sektor dirgantara dengan startup di bidang lain.

Meski demikian, Ilham menilai pemanfaatan teknologi dirgantara memiliki cakupan yang luas bagi Indonesia. Selain untuk transportasi orang dan barang, teknologi tersebut juga berkaitan dengan penggunaan satelit untuk memantau wilayah.

Ia mengingatkan Indonesia memiliki wilayah yang luas dan kompleks, sehingga teknologi dirgantara memiliki berbagai kemungkinan pemanfaatan. Ilham juga menyinggung kemampuan Indonesia dalam mengembangkan pesawat sendiri serta penggunaan teknologi satelit.

Kebutuhan Insinyur untuk Mengembangkan Industri

Selain persoalan pasar, Ilham menyoroti pentingnya ketersediaan sumber daya manusia di bidang teknik untuk mendukung perkembangan industri nasional.

Menurutnya, insinyur memiliki peran penting dalam pengembangan industri yang dapat menghasilkan nilai tambah ekonomi dan membuka lapangan pekerjaan. Karena itu, peningkatan jumlah insinyur menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan Indonesia dalam upaya menuju negara maju.

Ilham menyebut rasio insinyur di Indonesia berada pada angka sekitar 2.500 orang per satu juta penduduk. Menurutnya, jumlah tersebut perlu ditingkatkan hingga setidaknya empat kali lipat.

"Jadi memang masih banyak pekerjaannya," ujar Ilham.

Ia juga menyoroti minat mahasiswa terhadap bidang STEM, yang mencakup sains, teknologi, teknik, dan matematika. Dalam wawancara tersebut, Ilham memperkirakan sekitar 15 hingga 20 persen mahasiswa tertarik pada bidang tersebut.

Pernyataan itu menjadi bagian dari pandangannya mengenai pentingnya pendidikan dan pengembangan talenta untuk mendukung kemajuan teknologi serta industri di Indonesia.

Kolaborasi Kampus dan Industri

Di tengah tantangan tersebut, kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri menjadi salah satu upaya untuk membuka ruang pengembangan talenta muda. Perwakilan ITB, Hary Devianto mengatakan program BUILD merupakan bentuk kepercayaan Boeing kepada ITB.

Hary menilai Indonesia memiliki banyak talenta yang berpotensi dikembangkan, khususnya di bidang dirgantara dan aerospace. Ia berharap kegiatan serupa dapat berlanjut dan tidak hanya diselenggarakan satu kali.

"Kami melihat bahwa Indonesia itu tidak pernah kekurangan talenta, sumbernya luar biasa," ujar Hary.

Sementara itu, perwakilan Boeing, Indra Duivenvoorde, mengatakan kolaborasi tersebut tidak hanya berfokus pada pesawat terbang atau produk akhir yang dihasilkan peserta, tetapi juga pada pengembangan ekosistem industri dirgantara secara keseluruhan.

"Boeing sangat antusias berada di Indonesia. Ini bukan hanya tentang pesawat terbang, tetapi tentang keseluruhan ekosistem," kata Indra dalam wawancara berbahasa Inggris.

Menurut Indra, pendidikan di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) memiliki peran penting dalam mendukung pengembangan talenta. Melalui kolaborasi dengan ITB, Boeing berharap peserta dapat memperoleh pengalaman yang menghubungkan proses pengembangan inovasi di lingkungan perguruan tinggi dengan kebutuhan industri.

Dalam program tersebut, mentor dan mitra industri turut dilibatkan untuk mendampingi sepuluh tim peserta. Indra berharap pengalaman itu dapat menjadi bekal bagi para peserta, terlepas dari apakah mereka berhasil menjadi pemenang.

"Pada akhirnya, ini bukan hanya tentang produk akhir yang dipresentasikan oleh tim. Tentu saja, tiga pemenang akan menjadi hal yang menggembirakan, tetapi saya berharap sepuluh tim yang berpartisipasi mendapatkan pengalaman dari proses ini," ujarnya.

Indra juga menyoroti kesempatan peserta untuk berinteraksi dengan mentor dan mitra industri, sekaligus mempresentasikan gagasan mereka di hadapan dewan juri.

Ia berharap seluruh proses tersebut menjadi pengalaman yang dapat dibanggakan dan dikenang oleh para peserta ketika mereka melihat kembali perjalanan mengikuti program BUILD.

Kolaborasi kampus dan industri menjadi salah satu ruang bagi talenta muda untuk mengembangkan gagasan di sektor dirgantara. Namun, sebagaimana disoroti Ilham Habibie, perkembangan startup di bidang ini juga berkaitan dengan tantangan kebutuhan pasar dan pengembangan industri yang lebih luas.

(sud/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads