Fiki Mutakin mendengar suara senjata ketika tangannya terikat pada besi kapal, dan kesempatan pulang terasa jauh. Di tengah ancaman tersebut, awak kapal berusia 25 tahun itu membayangkan hidupnya akan berakhir di Somalia.
Pikiran tentang rumah berganti menjadi permohonan maaf kepada keluarga yang tidak bisa dijangkaunya saat penyanderaan berlangsung. Ia meminta maaf kepada teman sesama sandera ketika merasa pertemuan dengan orang terdekat mungkin tidak terjadi.
"Tolonglah maafkan saya" ucap Fiki saat mengingat doa dan permohonan maaf yang disampaikannya dalam situasi tersebut.
Kesaksian itu diceritakannya kepada detikJabar pada Minggu (11/10/2026) setelah selamat dari penyanderaan selama sekitar lima bulan.
Fiki merupakan anak ketujuh dari tujuh bersaudara yang selama penyanderaan terus membayangkan pertemuan dengan orang rumah. Ia sebelumnya mengenal dunia pelayaran melalui pamannya sebelum mengambil sertifikat pelaut dan mulai bekerja di kapal.
Setiap pergantian hari membawa kerinduan kepada keluarga dan ketidakpastian mengenai kapan dirinya bisa meninggalkan kapal yang dibajak. Ia mengaku sempat kehilangan harapan setelah berulang kali menunggu kabar pembebasan tanpa mengetahui bagaimana negosiasi berlangsung.
"Bisa pulang nggak ini, ya?" katanya mengenang pertanyaan yang terus mengusik dirinya selama berada dalam kekuasaan perompak. Pertanyaan itu muncul ketika ia mendengar senjata dan membayangkan dirinya tidak akan pernah melihat rumah lagi.
Pada detik menjelang penyerangan, para sandera ditempatkan di ruang terbuka dengan tangan terikat sehingga tidak bisa melarikan diri. Fiki melihat keadaan tersebut sebagai kemungkinan akhir perjalanan hidupnya sebelum memilih berserah menghadapi apa yang terjadi.
"Sudah ikhlas, gitu, Kang" ujarnya mengenai perasaan ketika suara tembakan membuat kemungkinan bertemu keluarga terasa menghilang.
Ia mengatakan tidak lagi memikirkan kepulangan ketika merasa kematian bisa datang sewaktu dirinya berada dalam ikatan tersebut.
Padahal, pada awal penyanderaan Fiki masih berusaha menjaga harapan keluarga melalui kesempatan menelepon yang diberikan secara terbatas. Dalam percakapan singkat itu, ia memilih menyembunyikan beratnya keadaan supaya orang tua dan saudaranya tidak semakin khawatir.
"Saya selalu bilang, baik-baik aja saya di sini" katanya tentang jawaban yang diberikan ketika bisa menghubungi keluarga.
Kepada keluarga di Bogor, Fiki menyampaikan masih makan dan minum sambil meminta doa agar perusahaan segera menemukan jalan untuk membawanya pulang.
Namun, komunikasi itu kemudian berhenti sehingga Fiki tidak lagi mengetahui keadaan orang rumah selama menunggu kemungkinan pembebasan. Kerinduan menjadi beban yang terus dibawanya bersama kekhawatiran bahwa pertemuan dengan keluarga mungkin tidak akan terjadi lagi.
Warga Tenjo, Kabupaten Bogor, ini mengatakan, kebutuhan paling membekas selama ditawan adalah kesempatan berbicara kepada keluarga dan merasakan kembali kehidupan rumah.
Makanan seadanya masih bisa diterima untuk bertahan hidup, tetapi ketidaktahuan mengenai kabar keluarga terasa sangat berat baginya.
"Kangen ngobrol sama orang rumah" ucapnya.
(orb/orb)