Nestapa Herti: Rumah Ambruk, Suami Wafat, BPJS Pun Mati

Nestapa Herti: Rumah Ambruk, Suami Wafat, BPJS Pun Mati

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Minggu, 11 Okt 2026 17:56 WIB
Herti Korban Gempa di Sukabumi
Herti Korban Gempa di Sukabumi (Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar)
Sukabumi -

Dentuman keras berbunyi "breg" memecah keheningan malam pada November 2024. Di telinga para tetangga, suara itu terdengar layaknya gempa susulan. Bagi Herti (46), dentuman tersebut menandai petaka bagi tempat bernaung keluarganya; struktur atap dapur dan kamar mandi ambruk total.

Malam itu, Herti sedang berada di rumah sang ibu, sementara suaminya masih mengais rezeki di jalanan sebagai pengemudi ojek daring. Kabar genting dari warga membuatnya tergopoh-gopoh pulang. Begitu melihat kerumunan warga dan bagian belakang rumahnya yang telah porak-poranda, ia tak sanggup membendung syok.

"Dari tetangga ngasih tahu, 'Itu rumah ambruk dapurnya'. Pas sampai sudah banyak orang. Saya langsung enggak kuat, langsung pingsan," tutur Herti lirih mengenang malam kelam tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat kesadarannya kembali, rasa buntu langsung menyergap. "Bleng weh pikirannya. Rumah roboh, uang enggak punya. Suami usaha cuma ngojek, anak cuma honorer. Gimana ngumpulin uang buat bangun lagi," ucap Herti kala ditemui detikJabar di kediamannya, Kampung/Desa Jayanti RT 5 RW 7, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Minggu (11/10/2026). Herti terlihat menahan air mata di ujung matanya.

ADVERTISEMENT

Dinding Terbelah, Dapur Terbuka Menatap Langit

Petaka di kediaman Herti berakar dari gempa bumi besar yang sempat melanda dan memicu isu tsunami beberapa waktu silam. Lindu kala itu meninggalkan celah retakan hebat pada struktur dinding kamar dan dapur.

Ketiadaan biaya membuat retakan itu dibiarkan tanpa perbaikan permanen. Air hujan terus menyusup ke sela-sela bata, memperlemah struktur hingga atapnya runtuh.

Kondisi area belakang kini memprihatinkan. Dinding pembatas memang masih berdiri, tetapi retakan vertikal menganga lebar dari atas hingga bawah, menembus susunan bata merah yang tampak ringkih. Atap di area tersebut hilang sepenuhnya, membuat tempat mencuci piring langsung menatap langit terbuka.

Beberapa bilah bambu tampak disandarkan seadanya untuk menahan dinding yang terbelah agar tidak roboh ke jalan setapak.

Untuk menyekat kamar mandi dari terpaan cuaca dan pandangan luar, Herti hanya mengandalkan bentangan terpal plastik.

"Pasang terpal di kamar mandi. Tapi terpal kan enggak tahan lama. Sobek, ganti lagi," keluhnya.

Duka Bertubi dan Terjegal 'Desil 7'

Cobaan hidup perempuan paruh baya ini datang beruntun. Belum sempat mengumpulkan biaya untuk merenovasi atap yang runtuh, sang suami berpulang pada 5 April 2025. Herti kini menyandang status janda dan berjuang seorang diri menafkahi kedua anaknya.

Namun, uluran tangan yang diharapkan belum kunjung terwujud. Sejak insiden keruntuhan pada akhir 2024, bantuan fisik dari instansi terkait belum pernah datang. Bantuan yang sempat diterima hanyalah paket sembako di awal musibah.

Jaring pengaman sosial pun luput merengkuh keluarganya. Herti tidak masuk dalam daftar penerima Program Keluarga Harapan (PKH).

Bahkan, kartu BPJS Kesehatan miliknya dinonaktifkan sejak Desember karena tercatat berada di Desil 7 pada pendataan lama.

"Dulu dapat BPJS. Sekarang katanya desilnya tinggi, desil 7 waktu KK masih ada nama almarhum. Jadi ada pemberitahuan bahwa BPJS-nya sudah enggak aktif," ungkap Herti pasrah.

Berjaga di Bawah Plafon Lapuk

Kekhawatiran Herti tak hanya tertuju pada dapur yang bolong. Bagian ruang tengah dan kamar tidur yang masih beratap pun menyimpan bahaya nyata.

Di atas kepalanya, plafon tripleks mengelupas kecokelatan akibat rembesan air hujan. Lubang-lubang besar menganga di langit-langit, menampakkan kerangka kayu atap yang telah patah dan lapuk termakan usia. Setiap kali mendung dan hujan deras turun, rasa waswas kembali menyergap.

"Kalau hujan ya takut, deg-degan. Takutnya roboh. Seorang ibu mah khawatir bocor, takut roboh, tapi enggak punya uang buat betulinnya," tutur Herti sambil mendongak menatap langit-langit kamarnya.

Di atas sajadahnya setiap malam, doa Herti tak pernah putus. Di tengah keterbatasan ekonomi, ia hanya berharap ada uluran tangan dermawan yang bersedia membantu memperbaiki atap dan dinding rumahnya sebelum kerusakan merembet lebih parah.

"Doanya tiap malam, tiap salat, minta rumah diperbaiki. Cuma berharap sama Allah aja, mudah-mudahan ada tangan-tangan dermawan yang terketuk hatinya. Mau bantuan bahan bangunan atau apa saja, dari mana saja bantuannya," pungkasnya penuh harap.

(iqk/iqk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads