Asa Fiki Mutakin Bertahan Hidup Usai Drama Perompak Somalia

Asa Fiki Mutakin Bertahan Hidup Usai Drama Perompak Somalia

Andry Haryanto - detikJabar
Minggu, 11 Okt 2026 16:30 WIB
Fiki Mutakin korban perompak Somalia
Fiki Mutakin korban perompak Somalia (Foto: Istimewa)
Bogor -

Luka tembak di kaki membuat Fiki Mutakin belum bisa berjalan setelah selamat dari penyanderaan perompak di Somalia. Awak kapal berusia 25 tahun berharap mendapat pekerjaan yang bisa dilakukan selama menjalani masa pemulihan.

Kebutuhan itu disampaikannya kepada detikJabar, Minggu (11/10/2026), ketika membicarakan kehidupan setelah bertemu keluarga di Indonesia. Ia menjalani perawatan di RS Polri dan belum mengetahui kapan diperbolehkan pulang karena membutuhkan tindakan lanjutan.

"Ini ya bantuan untuk kerjaan aja gitu kan" ujar Fiki.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pekerjaan tersebut diharapkan memberinya kesempatan memperoleh penghasilan meskipun kemampuan bergeraknya terbatas akibat luka selama kejadian pembajakan.

ADVERTISEMENT

Baginya kepulangan setelah sekitar lima bulan disandera membawa kebutuhan untuk menjalani kehidupan bersama orang-orang di rumah. Pelaut yang dua tahun sudah makan asam garam berlayar ini berharap bisa menemukan pekerjaan yang sesuai dengan keterbatasannya sampai kondisi tubuh memungkinkan dirinya bergerak normal.

"Kerja tapi dengan keterbatasan, enggak bisa jalan gitu kan" katanya.

Harapan tersebut berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi ketika dirinya belum dapat kembali bekerja seperti sebelumnya.

Fiki mengatakan kehidupan harus terus dijalani sehingga pemulihan kesehatan berjalan beriringan dengan keinginannya memperoleh penghasilan. Ia tidak menyebut pekerjaan tetapi menekankan perlunya kegiatan yang bisa dilakukan meskipun belum mampu berjalan kembali.

Di rumah sakit ia menerima informasi mengenai kemungkinan operasi ulang setelah mendapat penanganan ketika berada di Somalia. Menurut penuturannya, tindakan dilakukan dalam keadaan darurat sementara pemeriksaan berikutnya di Indonesia menunjukkan kebutuhan penanganan lebih lanjut.

"Karena harus tindakan lebih lanjut lagi kang" katanya.

Fiki mengaku tidak memahami istilah yang disampaikan sehingga belum bisa menjelaskan secara terperinci tindakan medis berikutnya.

Rencana operasi ulang tersebut masih merupakan informasi yang diterima Fiki dan belum disertai penjelasan dari dokter. Sambil menjalani perawatan ia berharap kondisi kakinya membaik agar bisa berjalan normal dan kembali menjalankan pekerjaannya.

Meski mengalami pembajakan dan luka tembak, Fiki mengatakan pengalaman tersebut tidak membuatnya menutup kemungkinan menjadi pelaut. Keputusan itu berkaitan dengan ketertarikannya terhadap dunia pelayaran serta keinginan mencari rezeki untuk keluarga setelah kesehatannya pulih.

"Kalau untuk kapok, tidak kang" ucapnya.

Kesempatan bertemu orang asing dan mengenal orang dari negara lain sebagai bagian menarik dari pekerjaan sebagai seorang pelaut.

Ketertarikan terhadap pelayaran bermula dari seorang om yang bekerja di laut dan sering berbincang dengannya mengenai pekerjaan tersebut. Percakapan itu mendorongnya mengambil sertifikat serta melengkapi dokumen pelaut sebelum mendapatkan kesempatan untuk mulai bekerja di kapal.

"Bukan dari akademi" katanya. Ia menjelaskan, dirinya berlatar pendidikan sekolah umum sehingga persiapan menjadi pelaut dilakukan melalui pengurusan sertifikat dan dokumen tersebut.

Pelayaran pertamanya berlangsung di dalam negeri menggunakan kapal kargo sebelum ia bekerja di kapal tanker untuk perjalanan internasional. Dalam pengalaman pertama berlayar ke luar Indonesia itulah pembajakan terjadi dan membuatnya harus melewati penyanderaan selama berbulan-bulan.

Fiki menempatkan kesembuhan sebagai syarat sebelum mempertimbangkan perjalanan berikutnya sampai dirinya bisa berjalan dan berlari kembali. Sementara kesempatan melaut masih menunggu pemulihan ia berharap pekerjaan yang sesuai kondisinya dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga.

Menunggu Kesembuhan untuk Kembali Mencari Rezeki

Fiki merupakan anak ketujuh dari tujuh bersaudara. Ia menyebut pekerjaan di laut sebagai jalan mencari rezeki sehingga kemungkinan kembali melaut terbuka setelah sembuh.

Catatan perjalanan kerjanya mencakup sepuluh bulan di kapal pertama dan satu tahun tiga bulan pada kapal berikutnya. Pengalaman tersebut menempatkannya sebagai pelaut yang relatif baru ketika menghadapi pembajakan dalam perjalanan pertamanya ke luar negeri.

Meski demikian, keputusan untuk bekerja lagi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan tubuh setelah rangkaian penanganan medis selesai. Ia berharap kondisi kesehatannya kembali normal sebelum menentukan kapan bisa menerima pekerjaan di kapal sebelumnya.

Pekerjaan di laut masih menjadi pilihan yang menarik bagi Fiki. Tetapi, kesempatan tersebut harus menunggu kesembuhan kaki terlebih dahulu. Di antara perawatan dan rencana berlayar kembali Fiki mencari kemungkinan bekerja yang bisa dijalani dengan keterbatasannya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Menginap di Hotel Nyaman di Bandung, Menikmati Liburan "
[Gambas:Video 20detik] (dir/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads