Di sudut barat Kota Bandung, tepatnya di Jalan Komodor Udara Supadio yang bersimpangan dengan Jalan Arjuna dan Jalan Aruna, berdiri sebuah pasar yang telah menjadi saksi bisu denyut nadi ekonomi kreatif berbasis barang bekas selama lebih dari enam dekade.
Pasar Jatayu, demikian namanya, bukan sekadar deretan kios yang menjual onderdil motor, besi tua, atau peralatan teknik bekas. Dari awalnya yang dikenal sebagai pasar barang antik yang menarik wisatawan mancanegara pada era 1970-an, kini Pasar Jatayu bertransformasi menjadi pusat onderdil dan besi bekas terbesar di Bandung, bahkan disebut-sebut sebagai yang terbesar di Indonesia.
Awal Mula: Dari Pasar Kebon Sirih ke Jatayu
Dalam penelitian Hidayat, D. (2019) dijelaskan, sejarah Pasar Jatayu tidak bisa dilepaskan dari gelombang urbanisasi masyarakat Panjalu, sebuah kecamatan di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, ke Kota Bandung.
Gelombang pertama migrasi ini terjadi sekitar tahun 1946, didorong oleh faktor ekonomi dan ketidakamanan akibat gerakan DI/TII yang membuat masyarakat Panjalu merasa tidak nyaman di kampung halaman mereka.
Para urbanisan generasi awal ini bermukim di daerah Babakan Ciamis, yang secara administratif masuk Kecamatan Sumur Bandung. Dari sinilah usaha besi bekas mulai tumbuh dan berkembang.
Pada tahun 1947, tidak jauh dari pemukiman para urbanisan Panjalu tersebut, diresmikan lah Pasar Kebon Sirih di Jalan Aceh, Bandung. Pasar ini mulanya dibangun khusus untuk memperjualbelikan besi bekas.
Namun, seiring perberkembangnya yang cukup pesat, dibarengi dengan kedatangan gelombang urbanisan Panjalu generasi kedua, pada pertengahan 1950-an, Pasar Kebon Sirih perlahan mengalami kepadatan yang luar biasa.
Ruas jalan di sekitar pasar menyempit, menyulitkan proses bongkar muat barang-barang besi yang berukuran besar dan berat. Sekitar 130 kios pedagang di Pasar Kebon Sirih pun mencari lokasi baru yang lebih representatif untuk melanjutkan usaha mereka.
Awalnya, Jalan Rama sempat dipilih sebagai lokasi alternatif, namun ruas jalannya yang sempit dinilai tidak cocok untuk aktivitas perdagangan besi bekas. Akhirnya, kawasan Jatayu di Jalan Komodor Udara Supadio dipilih.
Bersamaan dengan itu, Pemerintah Kota Bandung memberikan hak guna pakai kepada para pedagang besi bekas asal Panjalu untuk menempati kawasan strategis tersebut, yang tidak jauh dari bundaran penghubung Jalan Arjuna, Jalan Aruna, dan Jalan Komodor Udara Supadio. Pada tahun 1957, Pasar Jatayu diresmikan sebagai pasar tematik yang menjual barang-barang antik, second hand, dan besi bekas.
Era Keemasan: Pasar Barang Antik Internasional
Pada dekade-dekade awal keberadaannya, Pasar Jatayu justru lebih dikenal sebagai pasar barang antik yang menarik perhatian wisatawan mancanegara. Wisatawan dari Eropa, Amerika, dan berbagai negara Asia banyak yang datang ke pasar ini untuk berburu barang antik.
Dalam buku Indonesia Handbook karya Bill Dalton yang terbit tahun 1991, Pasar Jatayu digambarkan sebagai "flea market" di Jalan Arjuna yang menjadi tempat hebat untuk menemukan barang-barang antik dan second hand.
Dalam penelitian Hidayat, D. (2019) juga dibahas, jika pada masa itu Pasar Jatayu memang dikenal sebagai tempat perdagangan barang antik. Namun, seiring perkembangan zaman, barang-barang antik di kawasan ini perlahan menghilang dan pengunjung pun hanya terbatas pada pengunjung lokal saja.
Transformasi ini menandai babak baru dalam sejarah Pasar Jatayu, dari pasar barang antik internasional menjadi sentra besi bekas dan onderdil kendaraan bermotor yang melayani kebutuhan masyarakat lokal dan regional.
Dominasi Komunitas Pedagang Panjalu
Salah satu karakteristik unik Pasar Jatayu adalah dominasi komunitas pedagang besi bekas yang berasal dari Panjalu, Ciamis. Komunitas ini pertama kali datang ke Pasar Jatayu pada tahun 1956, sebelum pasar ini resmi diresmikan.
Mereka adalah para pedagang yang sebelumnya menempati kios-kios di Pasar Kebon Sirih dan memutuskan untuk berpindah ke lokasi baru yang lebih strategis. Gelombang urbanisasi masyarakat Panjalu ke Bandung terus berlanjut hingga dekade 1970-an.
Pada periode 1970 hingga 1976, jumlah urbanisan meningkat tajam, selain karena tradisi komunitas yang mengajak sanak saudara atau kerabat untuk ikut bekerja sebagai pedagang besi bekas, juga karena faktor sosial-politik pasca peristiwa G.30.S/PKI yang menyebabkan inflasi tinggi.
Masyarakat Panjalu memilih merantau ke Bandung sebagai solusi untuk memenuhi kebutuhan hidup yang kian mahal di kampung halaman.
Dampak urbanisasi ini terasa jelas di Pasar Jatayu. Saat didirikan pada 1957, pasar ini hanya memiliki satu blok yang terdiri dari sekitar 130 deretan kios. Jumlah ini bertambah pesat pada tahun 1980, ketika blok kios-kios bertambah menjadi empat blok yang terdiri dari sekitar 350 kios pedagang besi bekas.
Komunitas pedagang besi bekas asal Panjalu ini membuktikan diri sebagai kelompok sosial yang tangguh, mampu bertahan dan berkembang di tengah dinamika sosial-ekonomi yang terus berubah.
Transformasi Komoditas: Dari Besi Scrap ke Onderdil Lengkap
Perkembangan usaha komunitas pedagang besi bekas asal Panjalu di Pasar Jatayu dapat dilihat dari evolusi komoditas yang diperdagangkan. Pada awal berdirinya, para pedagang hanya menawarkan besi bekas dalam bentuk scrap (besi rongsokan) dan sheet (lembaran besi).
Namun pada tahun 1960-an, komoditas yang dijual mulai berkembang pesat. Besi beton, pipa besi, berbagai macam logam seperti aluminium dan kuningan, alat-alat teknik, onderdil kendaraan bermotor, dan berbagai jenis barang berbahan dasar besi atau baja lainnya mulai dapat ditemui di Pasar Jatayu.
Sejak tahun 2000-an, kegiatan perdagangan di Pasar Jatayu meluas hingga menjadi tempat penjualan berbagai suku cadang dan perlengkapan sepeda motor. Kini, Pasar Jatayu sangat populer sebagai pusat onderdil bekas untuk kendaraan bermotor, baik motor maupun mobil.
Bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya, Pasar Jatayu menjadi destinasi utama untuk mencari onderdil bekas dengan harga terjangkau dan kualitas yang masih layak pakai.
Hingga kini, Pasar Jatayu tetap eksis sebagai salah satu ikon ekonomi kreatif berbasis barang bekas di Bandung. Pasar yang berdiri sejak 1957 ini telah melewati berbagai fase transformasi, dari pasar barang antik internasional hingga menjadi sentra onderdil dan besi bekas terbesar.
Keberadaannya tidak hanya menjadi sumber penghidupan bagi ribuan pedagang, tetapi juga menjadi bagian dari identitas kota Bandung sebagai kota kreatif yang mampu mengubah barang bekas menjadi bernilai ekonomi.
(yum/yum)