Sejumlah peristiwa mewarnai pemberitaan di Jawa Barat (Jabar) hari ini, Selasa (6/10/2026). Mulai dari guru ngaji di Sukabumi cabuli 7 anak, hingga ledakan rumah di Antapani, Kota Bandung.
Berikut rangkuman Jabar Hari Ini:
Modus Ajak Main, Guru Ngaji di Sukabumi Diduga Cabuli 7 Anak
Satreskrim Polres Sukabumi meringkus seorang pria berinisial IS atas dugaan tindak asusila terhadap tujuh anak di bawah umur di Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi. Penangkapan ini menggegerkan warga setempat lantaran pelaku dikenal sebagai sosok yang kerap mengisi pengajian di lingkungannya.
Aksi bejat IS terungkap setelah salah satu keluarga korban melapor ke pihak kepolisian. Kasat Reskrim Polres Sukabumi, Iptu Dudi Suharyana, mengonfirmasi bahwa laporan resmi diterima pada Sabtu, 3 Oktober 2026.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Terkait dengan perkara dimaksud, betul bahwa kami dari Satreskrim Polres Sukabumi sudah menerima laporan dari pihak korban atas nama pelapor EN. Untuk korban, sampai saat ini kami mendapatkan 7 korban yang sudah dilakukan pemeriksaan dengan perbuatan yang sama, perbuatan asusilanya," kata Dudi, Selasa (6/10/2026).
Para korban diketahui masih berstatus pelajar di tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP). Berdasarkan hasil penyidikan, IS memanfaatkan status sosialnya untuk mendekati para korban.
Dudi menjelaskan, IS biasanya memanggil anak-anak yang sedang bermain di sekitar rumahnya. Pelaku meminta korban masuk ke dalam rumah seorang diri tanpa didampingi rekan-rekannya.
"Kronologisnya, IS mengajak korban bermain di sekitaran rumahnya, kemudian memanggil korban untuk datang ke rumah dengan mengatakan tidak membawa teman-temannya. Setelah korban mengikuti ajakan, kemudian didudukkan di pangkuan IS dan disuruh membuka celananya," tutur Dudi.
Penyelidikan awal menunjukkan bahwa aksi ini telah dilakukan berulang kali sejak beberapa bulan terakhir. Pelaku mengakui perbuatannya dilakukan di sela-sela aktivitasnya mengajar mengaji bagi warga dan anak-anak sekitar.
"Dari hasil pemeriksaan kami terhadap tersangka, terlapor ini memang sering mengisi pengajian di sekitaran lokasi terhadap warga sekitar. Perbuatan tersebut terjadi mulai dari bulan Agustus sampai dengan kemarin terakhir," paparnya.
Kini IS harus menghadapi jeratan pasal berlapis dalam UU RI No. 1 Tahun 2023 tentang KUHP, yakni Pasal 473 ayat (4), Pasal 418 ayat (2) huruf b, Pasal 417, dan Pasal 415 huruf b terkait perlindungan anak dan kejahatan asusila.
Selain proses hukum, Polres Sukabumi kini fokus pada pemulihan psikologis para korban melalui layanan pendampingan dan trauma healing. Polisi juga mengimbau orang tua untuk memperketat pengawasan terhadap aktivitas buah hati mereka.
"Kami mengimbau warga masyarakat, khususnya yang memiliki anak-anak kecil, untuk selalu mengawasi, menjaga, dan memperhatikan anak-anaknya agar tidak menjadi korban selanjutnya. Kepada korban lain yang belum melapor, silakan melapor untuk kami tindak lanjuti dalam pemberian trauma healing guna memulihkan psikologis korban," pungkas Dudi.
Air Hujan di Drum Bekas Diduga Picu Diare Massal di Sukabumi
Misteri di balik wabah diare massal yang menyerang 27 warga di Desa Cikujang, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, mulai menemukan titik terang. Polisi menyebut insiden ini diduga kuat bermula dari penggunaan air tampungan hujan yang dipakai untuk mencuci perlengkapan rumah tangga.
Dugaan tersebut menguat setelah warga setempat mengungkap aktivitas mereka sebelum jatuh sakit. Pada Jumat (2/10) lalu, wilayah tersebut diguyur hujan, dan airnya ditampung di dalam wadah drum bekas.
"Dugaan sementara berdasar dari informasi warga setempat bahwa pada hari Jumat terjadi hujan, kemudian air hujan yang tertampung dalam wadah drum bekas dan air tersebut dipergunakan untuk mencuci piring atau alat rumah tangga," kata Kapolsek Gunungguruh Ipda Suhendar, Selasa (6/10/2026).
Untuk memastikan kandungan serta kelayakannya, sampel air tersebut kini telah diamankan. Pihak Puskesmas Gunungguruh langsung bergerak mengambil sampel air untuk diuji lebih lanjut di laboratorium Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sukabumi.
"Kemudian air tersebut sudah diambil sampel oleh Puskesmas dan dibawa ke lab Dinkes Kabupaten Sukabumi. Hasil koordinasi kami dengan Kepala Puskesmas, hasil uji lab-nya belum keluar," ujar Suhendar.
Di sisi lain, penanganan cepat telah dilakukan oleh jajaran kepolisian bersama tenaga kesehatan setempat. Sebanyak 27 warga yang sempat mengalami gejala diare langsung mendapatkan pemeriksaan medis dan obat-obatan.
Sebanyak 26 orang dilaporkan sudah membaik. Sementara itu, satu korban lainnya yang tengah hamil sempat harus menjalani rawat inap di puskesmas guna mendapatkan monitoring intensif.
"Alhamdulillah, tadi pagi jam 10.00 WIB ibu hamil yang bersangkutan sudah diperbolehkan pulang kembali ke rumahnya dengan dasar tidak ada lagi keluhan dan hasil pemeriksaan dokter sudah pulih," pungkas Suhendar.
Terdengar Ledakan Sebelum Rumah Lantai 2 Terbakar di Antapani
Bandung - Kebakaran melanda rumah berlantai dua di Jalan Setra Dago Blok Kramat, RT08 RW12, Kelurahan Atapani Wetan, Kecamatan Antapani, Kota Bandung. Kebakaran ini berhasil dipadamkan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Diskarmatab) Kota Bandung.
Dari informasi Diskarmatan Kota Bandung, kejadian kebakaran ini terjadi, Selasa (6/10/2026) sekitar Pukul 06.36 WIB. Petugas kemudian tiba di TKP 13 menit semenjak laporan diterima.
Kabid Penyelamatan Diskarmatab Kota Bandung, Immanuel mengungkapkan, kronoogi kejadian ini terjadi saat pemilik rumah bernama Iwa Kartiwa mendengar dua kali ledakan di lantai dua rumahnya.
"Menurut keterangan pemilik rumah, saat seluruh anggota keluarga sedang berkumpul di lantai bawah, pemilik rumah tiba-tiba mendengar dua kali suara ledakan cukup keras dari lantai atas, dan ketika diperiksa, ia terkejut melihat kobaran api sudah membesar di dalam kamar mandi," ungkapnya.
"Pemilik rumah dan keluarga langsung berlari keluar untuk meminta bantuan. Beberapa warga yang melihat kejadian tersebut langsung menghubungi Emergency Call 022-113 Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bandung," tambahnya.
Immanuel menyebutkan, untuk penyebab kejadian ini masih dalam penyelidikan pihak terkait dan kerugian dalam kejadian ini belum dapat ditaksir.
"Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini," ucapnya.
Proses pemadaman api melibatkan enam unit mobil pemadam kebakaran dari Mako Pusat.
"Petugas pemadaman membuat dua jalur pancaran dari arah atas dan bawah. Lalu penyelamatan melakukan pencarian akses menuju tiitk api melalui atap rumah bagian belakang. Petugas melakukan Pemadaman di area terbakar dan melakukan Overhaul untuk memastikan tidak ada titik api yang masih tersembunyi," tuturnya.
"Dilanjutkan pendinginan di seluruh area terbakar dan melakukan pengecekan ulang sampai dinyatakan aman. Penanganan usai pukul 07.40 WIB atau sekitar 49 menit," ucapnya.
Sementara itu, Kapolsek Antapani Taufik Hidayat mengatakan, kebakaran ini diduga dipicu oleh korsleting listrik.
"Dugaan sementara, api berasal dari korsleting listrik di lantai dua yang menimbulkan percikan dan langsung menyambar bahan-bahan yang mudah terbakar di sekitarnya," kata Taufik saat dikonfirmasi awak media.
Taufik menyebut api berhasil dipadamkan oleh Diskar PB Kota Bandung dan tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.
"Alhamdulillah api sudah berhasil dipadamkan oleh tim Damkar. Dapat kami pastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, hanya kerugian materil yang saat ini jumlahnya masih belum bisa ditaksir," pungkas Taufik.
Balita di Subang Tewas Tercebur Saat Kakek Tertidur
Nasib nahas menimpa balita berusia dua tahun asal Dusun Karang Mulya, Desa Blanakan, Kabupaten Subang. Korban ditemukan meninggal dunia setelah tercebur dan terseret arus Kali Blanakan yang berada tepat di depan kediamannya, Selasa (6/10/2026).
Insiden ini bermula saat korban lepas dari pengawasan kakeknya, Ato, yang saat itu sedang tertidur pulas di dalam rumah. Tanpa disadari, balita tersebut berjalan sendirian menuju bantaran sungai yang lokasinya memang sangat dekat dengan permukiman warga.
"Biasa main di dekat bangku, tahu-tahu anak itu sudah tidak ada dan nyemplung (tercebur). Orang tua tidak tahu, dicari pas ketemu sudah di air," ujar Oglek kerabat korban.
Sadar korban menghilang, pihak keluarga bersama warga dan tim gabungan dari Satpol PP serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Subang segera melakukan penyisiran di sepanjang aliran sungai.
Petugas BPBD Subang, Roman, menyebutkan bahwa minimnya pengawasan menjadi faktor utama kecelakaan tersebut, mengingat aktivitas harian korban memang sering berada di sekitar area berbahaya tersebut.
"Kronologisnya anak sering bermain di depan rumah, berada di bantaran Sungai Blanakan. Tanpa pengawasan, korban terperosok. Korban akhirnya ditemukan sekitar 50 meter dari titik tenggelam, tidak jauh dari lokasi rumahnya di pinggir bantaran," terang Roman.
Upaya pencarian selama satu setengah jam akhirnya membuahkan hasil. Jasad balita yang masih mengenakan popok tersebut ditemukan tersangkut di tumpukan sampah, tepat di samping perahu yang sedang bersandar, sekitar 50 meter dari lokasi awal jatuh.
Usai dievakuasi, jenazah langsung dibawa ke rumah duka. Atas keputusan keluarga dan hasil pemeriksaan awal di lokasi, pihak keluarga memilih untuk langsung memakamkan korban hari ini tanpa menempuh prosedur pemeriksaan kepolisian lebih lanjut.
105 Siswa di Indramayu Diduga Keracunan Makan Bergizi Gratis
Sebanyak 105 siswa SMA Negeri 1 Tukdana, Kabupaten Indramayu diduga mengalami keracunan setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), Senin (5/10/2026).
Camat Tukdana Heka Sugoro membenarkan kejadian tersebut. Ia mengatakan ratusan pelajar tersebut berasal dari kelas X, XI, hingga XII. Mereka mengalami sejumlah keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan yang diproduksi oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kerticala II.
"Laporan awal yang kami terima siang tadi terkait dugaan keracunan MBG dari dapur SPPG Kerticala II. Berdasarkan pendataan sementara, ada 105 siswa yang menjadi korban," kata Heka saat dikonfirmasi detikJabar, Selasa (6/10/2026).
Gejala yang dialami para siswa mulai dirasakan sekitar pukul 10.30 WIB. Sejumlah pelajar mengeluhkan pusing dan mual, bahkan beberapa di antaranya mengalami muntah setelah menyantap menu MBG.
Pihak sekolah bersama pemerintah kecamatan kemudian melakukan penanganan awal dengan membawa para siswa ke Puskesmas Kerticala dan Puskesmas Tukdana untuk mendapatkan perawatan medis.
Sebagian siswa sempat diperbolehkan kembali ke rumah setelah menjalani pemeriksaan dan kondisinya membaik. Namun, mereka kembali mengalami keluhan kesehatan setelah tiba di rumah.
Heka mengatakan, siswa yang kembali mengalami gejala tersebut kemudian mendapat penanganan lanjutan dari petugas puskesmas.
"Informasi dari kepala puskesmas, ada siswa yang sudah mendapat pengobatan dan pulang, tetapi kemudian kembali merasa sakit. Mereka sekarang masih ditangani petugas puskesmas," ujarnya.
Dari total siswa yang diduga terdampak, dua orang di antaranya harus dirujuk ke RSUD Indramayu untuk memperoleh perawatan lebih lanjut.
Pemerintah Kecamatan Tukdana memastikan pendampingan terhadap para siswa terus dilakukan hingga kondisi mereka pulih. Selain penanganan medis, pihak terkait juga akan menelusuri penyebab munculnya dugaan keracunan tersebut.
Sementara itu, Perwakilan Mitra SPPG Kerticala II Hakim menyatakan pihaknya siap bertanggung jawab atas kejadian tersebut.
Pada Selasa (6/10/2026), pihak SPPG juga memfasilitasi sejumlah instansi untuk melakukan pemeriksaan dan pendalaman, di antaranya Dinas Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), kepolisian, serta kejaksaan.
Rombongan dari sejumlah instansi tersebut turut melihat kondisi para siswa yang sebelumnya mengalami gangguan kesehatan.
"Insyaallah kami bertanggung jawab atas kejadian ini, termasuk biaya pengobatan para siswa," ujar Hakim.
