Round Up

Napas Pendek TPA Sarimukti, Menghitung Hari Menuju Penuh

Tim detikJabar - detikJabar
Rabu, 07 Okt 2026 07:30 WIB
TPA Sarimukti.(Foto: Whisnu Pradana/detikJabar)
Bandung -

Di hamparan perbukitan Kabupaten Bandung Barat, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti kini sedang berpacu dengan waktu yang kian menyempit. Zona 5 perluasan, yang semula diproyeksikan menjadi tumpuan hingga Agustus 2027, kini menunjukkan tanda-tanda 'napas pendek'. Berdasarkan hitungan terbaru, lahan tersebut diperkirakan akan mencapai titik jenuh total pada November 2026.

Laju tumpukan sampah yang masuk ternyata jauh melampaui kalkulasi di atas kertas. Bahkan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat sempat mengkhawatirkan kondisi kritis ini bisa terjadi lebih awal, yakni pada Oktober 2026.

Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman, turun langsung memantau kondisi Zona 5. Ia menegaskan bahwa pemerintah provinsi terus memutar otak untuk memperpanjang usia pakai TPA ini di tengah keterbatasan ruang yang kian nyata.

"Kami sudah mengingatkan jauh hari sebelumnya, bahwa Sarimukti terbatas, dan provinsi sudah berikhtiar semaksimal mungkin bagaimana Sarimukti bisa diperpanjang usianya, makanya kita buka zona 5. Sudah kami perkirakan bulan Oktober ini penuh atau akhir tahun ini lah, akhir tahun ini Sarimukti itu penuh, kami sudah cek lapangan," ungkap Herman, Selasa (6/10/2026).

Menghadapi situasi darurat ini, Pemprov Jabar menggandeng para ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Fokus utamanya adalah mencari metode pemadatan sampah yang efektif untuk menciptakan ruang tambahan di Zona 5, tanpa mengabaikan risiko gas metana yang terperangkap di bawah timbunan.

"Bahkan teman-teman ahli dari ITB juga turun untuk membantu melakukan analisis cepat, tiga bulan ini akan di-treatment, salah satunya di-compacting (pemadatan) tentu dengan teknologi yang akuntabel karena ada gas metana," katanya.

Saat ini, semua pihak sedang menanti hasil kajian teknis dari ITB yang diharapkan rampung pekan ini. Begitu metode diputuskan, alat berat sudah disiagakan untuk segera melakukan eksekusi di lapangan.

"Minggu ini nanti akan disampaikan kepada kami, bahkan dengan Pak Rektor langsung komunikasi. Nanti alat berat dan lain sebagainya kita siapkan, sehingga itu bisa menambah space, tapi tentu kan terbatas, dan kita akan melakukan compafting itu sampai Desember, sehingga usianya bisa diperpanjang berapa usia tambahannya, nanti kita lihat analisis dari ITB," ujar Herman.

Namun, strategi pemerintah tidak hanya berhenti pada pemadatan. Ada rencana besar untuk mengurai "gunung" sampah lama melalui teknologi pirolisis. Jika sesuai jadwal, instalasi alat ini akan mulai dipasang pada akhir 2026 dan mulai beroperasi penuh pada 2027, dengan target mengolah 1.000 ton sampah per hari menjadi bahan bakar solar.

"Kemudian yang kedua, Pak Gubernur langsung jemput bola ke Mabes kemarin. Dengan Pak Kasat sepakat, akhir tahun ini akan dipasang penanganan sampah dengan teknologi pirolisis, bagaimana sampah-sampah lama itu diolah, per harinya 1.000 ton menjadi solar," katanya.

Langkah ini juga melibatkan sinergi lintas instansi, mulai dari Kementerian Kehutanan terkait perizinan lahan hingga kolaborasi dengan TNI AD dan pihak ketiga untuk pengolahan sampah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF).

"Tanah di lapangan sudah diurus dengan Kementerian Kehutanan. Sudah turun PPKH-nya ke Angkatan Darat, dan Angkatan Darat dengan mitra terkait sudah cek lapangan, mudah-mudahan, harapan Pak Gubernur, akhir tahun ini sudah dipasang instalasinya dan kemudian bisa operasional 2027," ungkapnya.

"Ikhtiar insyaallah akan memperpanjang karena setiap harinya nanti mulai 2027, (sekitar) 1.000 ton sampah lama bisa diolah menjadi solar, kemudian kami juga sudah cukup lama bersinergi dengan pihak ketiga untuk mengolah sampah menjadi RDF," lanjutnya.

Secara teknis, kondisi Zona 5 memang sudah di ujung tanduk. Kepala UPTD Pengelolaan Sampah TPA/TPST Regional DLH Jabar, Arief Perdana, memaparkan data yang cukup mengkhawatirkan. Dari kapasitas desain sebesar 1,8 juta meter kubik atau sekitar 700 ribu ton, volume sampah yang ada saat ini sudah menembus angka 560 ribu ton.

"Sekarang faktanya, jika dibandingkan antara sisa kapasitas dengan sampah masuk, kita perkirakan di bulan November sudah penuh. Setidaknya itu angka perkiraannya. Melihat sisa kapasitas, TPA Sarimukti hanya bisa sampai November 2026 yang seharusnya bisa sampai Agustus 2027," kata Arief.

Artinya, sekitar 80 persen kapasitas Zona 5 yang seluas 6,3 hektare itu sudah terisi. "Sampai data terakhir, di sana sampahnya sudah mencapai sekitar 560.000 ton. Kalau 560.000 ton dibagi 700.000, itu sudah sekitar 80 persen dari kapasitas. Makanya kita hitung di bulan November 2026 itu sudah bisa penuh kalau dilihat dari sisa kapasitas dan sampah yang masuk," jelasnya.

Menyusutnya kapasitas ini bukan tanpa sebab. Arief menyoroti kendala teknis seperti keterbatasan alat berat yang membuat proses pemadatan tidak maksimal. Di sisi lain, tekanan dari daerah pengirim sampah juga tak kunjung reda. Meski sudah ada pembatasan, volume sampah yang masuk seringkali melampaui kuota yang ditetapkan.

"Pemadatannya berkurang karena keterbatasan alat berat. Terus memang sampah dari kota-kota, walaupun sudah kita batasi mereka tetap saja mengirimnya selalu lebih atau minta tambahan. Belum lagi ada arahan opsi dari pimpinan untuk terima sampah dari pasar tertentu tetap kita terima. Jadi itu berpengaruh pada kapasitas landfill di Zona 5, sehingga kami perkirakan bulan November itu penuh," kata Arief.

Upaya menutup tumpukan sampah dengan tanah sebenarnya sudah dilakukan, namun seolah sia-sia karena derasnya arus sampah baru. "Dari keseluruhan Zona 5 itu 30 persen sudah ditutup tanah, tapi karena memang diperlukan ditumpuk sampah lagi di atasnya. Jadi yang kemarin ditutup tanah sekarang sudah tidak kelihatan karena sudah diisi sampah lagi. jadi semenjak kita beli tanah penutup, sudah 30 persen menutupi total keseluruhan Zona 5," pungkasnya.



Simak Video "Video: 'Revolusi Pengelolaan Sampah' ala Walkot Solo Respati Ardi"

(bba/dir)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork