Berbeda dengan mentimun yang lazim ditemukan di meja makan, Ecballium elaterium atau timun semprot memiliki cara ekstrem untuk melestarikan keturunannya. Tanaman ini mampu melontarkan bijinya dengan kecepatan tinggi hingga menjangkau jarak belasan meter.
Mekanisme ini terjadi saat buah mencapai fase matang sempurna. Tekanan di dalam buah akan meningkat drastis hingga pada titik tertentu, buah terlepas dari tangkainya dan menyemburkan cairan beserta biji secara eksplosif. Bahkan, sentuhan ringan pada buah matang sudah cukup untuk memicu "ledakan" tersebut.
Melansir detikEdu, meski masih berkerabat dengan labu, melon, dan zucchini dalam famili Cucurbitaceae, timun semprot sama sekali tidak bisa dikonsumsi. Tanaman ini mengandung senyawa toksik yang dapat memicu gangguan kesehatan serius jika masuk ke dalam tubuh manusia.
Keunikan utama tanaman ini terletak pada sistem pelontaran bijinya yang menyerupai proyektil balistik. Berdasarkan pengamatan kamera berkecepatan tinggi, biji timun semprot dapat melesat dengan kecepatan sekitar 20 meter per detik atau setara 72 km/jam.
Penelitian lain yang dipimpin oleh Helen Gorges dari Kiel University mencatat kecepatan sekitar 50 km/jam dengan daya jangkau mencapai 12 meter dari tanaman induk.
"Tanaman ini hanya ingin menyebarkan biji sejauh mungkin dan dengan cara ini dapat menyebarkannya hingga lebih dari 12 meter dari tanaman induk," kata Helen Gorges, penulis utama studi, dikutip dari BBC Science Focus, Sabtu (3/10/2026).
Proses ini tidak terjadi secara acak. Peneliti menemukan bahwa posisi buah akan berubah secara bertahap selama pematangan. Menjelang pelontaran, buah akan membentuk sudut sekitar 52-53 derajat, sebuah posisi yang hampir mendekati sudut ideal dalam model gerak proyektil untuk mencapai jarak maksimal.
Melalui pemindaian CT, ilmuwan melihat sekitar 50 biji tersusun rapi di dalam cairan berlendir di dalam buah. Cairan inilah yang menjadi pendorong utama saat buah meledak. Seluruh proses ini berlangsung sangat cepat sehingga mustahil diamati dengan mata telanjang tanpa bantuan teknologi kamera canggih.
Strategi "tembakan" jarak jauh ini merupakan taktik bertahan hidup yang cerdas. Dengan menjauhkan biji dari tanaman induk, timun semprot memastikan keturunannya tidak perlu berebut cahaya, air, dan nutrisi di lokasi yang sama.
Keunggulan reproduksi tanaman ini tidak berhenti pada pelontaran saja. Biji timun semprot dilapisi oleh mukilago atau bahan berlendir. Saat mengering, lendir ini berubah menjadi perekat kuat dengan gaya rekat mencapai 27,5 newton-setara dengan menahan beban 2,8 kilogram di bawah gravitasi Bumi. Lapisan ini berfungsi memastikan biji tetap menempel di tanah sekaligus menjaga kelembapan untuk proses perkecambahan.
Fenomena timun semprot membuktikan betapa beragamnya mekanisme adaptasi tumbuhan. Tanpa perlu bergerak, tanaman ini memanfaatkan tekanan hidrolik alami untuk memperluas wilayah tumbuhnya secara efektif.
Artikel ini sudah tayang di detikEdu
Simak Video "Video: Polisi Tangkap 6 Tersangka Baru Kasus Penjualan Bayi ke Singapura"
(dir/dir)