Biasanya, timun disajikan di meja makan sebagai lalapan. Namun, kerabat timun yang satu ini justru terkenal karena cara uniknya menyebarkan keturunan: buahnya dapat melontarkan biji dengan kecepatan tinggi hingga belasan meter.
Tanaman tersebut adalah timun semprot (Ecballium elaterium). Saat buahnya matang, tekanan di dalam buah meningkat hingga akhirnya buah terlepas dari tangkai dan menyemburkan cairan beserta biji-bijinya secara eksplosif.
Dalam kondisi tertentu, sentuhan pada buah yang sudah matang juga dapat memicu proses tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, bagaimana tanaman ini bisa melakukan "tembakan" yang begitu cepat?
Timun Semprot Layaknya Tembakan Balistik
Timun semprot merupakan anggota famili Cucurbitaceae, keluarga yang juga mencakup mentimun, labu, melon, dan zucchini.
Berbeda dari mentimun yang biasa dikonsumsi, Ecballium elaterium tidak dapat dimakan. Tanaman ini mengandung senyawa toksik yang dapat menyebabkan gangguan serius pada tubuh.
Keunikan tanaman ini terletak pada buahnya. Ketika memasuki fase matang, buah terisi cairan berlendir dan berada dalam kondisi bertekanan tinggi.
Pada saat yang sama, terjadi perubahan pada tangkai buah. Tangkai secara bertahap menjadi lebih lurus sehingga posisi buah berubah sebelum proses pelontaran biji berlangsung.
Ketika buah yang sudah matang akhirnya terlepas dari tangkainya, tekanan di dalam buah mendorong cairan dan biji keluar melalui bagian pangkal buah dalam waktu yang sangat singkat.
Proses tersebut membuat biji terlontar seperti proyektil.
Penelitian menggunakan kamera berkecepatan tinggi menunjukkan bahwa biji timun semprot dapat melaju dengan kecepatan sekitar 20 meter per detik, atau sekitar 72 km/jam pada pengukuran tertentu.
Penelitian lain yang dipimpin Helen Gorges dari Kiel University melaporkan kecepatan hingga sekitar 50 km/jam. Biji-biji tersebut dapat mencapai jarak hingga sekitar 12 meter dari tanaman induknya.
"Tanaman ini hanya ingin menyebarkan biji sejauh mungkin dan dengan cara ini dapat menyebarkannya hingga lebih dari 12 meter dari tanaman induk," kata Helen Gorges, penulis utama studi, dikutip dari BBC Science Focus, Sabtu (3/10/2026).
Dengan kata lain, tanaman ini tidak sekadar "menyemprotkan" biji secara acak. Mekanisme pelontarannya memiliki unsur yang menyerupai sistem balistik.
Peneliti menemukan bahwa posisi buah berubah selama proses pematangan. Menjelang pelontaran, buah berada pada sudut sekitar 52-53 derajat terhadap arah tertentu yang memungkinkan bijinya tersebar secara efektif.
Sudut tersebut mendekati sudut ideal dalam model gerak proyektil sederhana, meskipun mekanisme sebenarnya jauh lebih kompleks karena melibatkan tekanan cairan, bentuk buah, perubahan posisi tangkai, serta hambatan udara.
Para peneliti menggunakan pemindaian CT untuk melihat bagian dalam buah tanpa merusaknya. Hasilnya menunjukkan bahwa sekitar 50 biji tersusun di dalam buah dan terbenam dalam cairan berlendir.
Ketika buah melontarkan isinya, cairan tersebut turut membantu membawa biji keluar dengan kecepatan tinggi.
Prosesnya berlangsung sangat cepat. Rekaman kamera berkecepatan tinggi bahkan diperlukan untuk melihat tahapan pelontaran yang tidak dapat diamati dengan mata telanjang.
Mengapa Bijinya Harus Ditembak Jauh?
Kemampuan tersebut bukan sekadar fenomena aneh di dunia tumbuhan.
Bagi timun semprot, menjauhkan biji dari tanaman induknya merupakan strategi reproduksi. Jika seluruh biji jatuh tepat di sekitar tanaman induk, tanaman baru akan berhadapan dengan persaingan untuk mendapatkan cahaya, air, ruang, dan nutrisi.
Dengan melontarkan biji hingga beberapa meter, tanaman dapat memperluas wilayah tempat keturunannya tumbuh.
Penelitian menunjukkan bahwa mekanisme pelontaran tersebut membantu menghasilkan penyebaran biji pada jarak yang berbeda-beda dari tanaman induk. Dengan demikian, biji tidak terkumpul hanya di satu lokasi.
Setelah terlontar, biji timun semprot masih memiliki mekanisme lain yang membantu proses perkecambahan.
Permukaan bijinya dilapisi bahan berlendir atau mukilago. Ketika bahan tersebut mengering, lapisan itu dapat berubah menjadi perekat yang membantu biji menempel pada permukaan tanah.
Penelitian terbaru menemukan bahwa gaya rekat lapisan tersebut dapat mencapai sekitar 27,5 newton. Besarnya gaya tersebut setara dengan berat sekitar 2,8 kilogram dalam kondisi gravitasi Bumi.
Lapisan berlendir tersebut juga berpotensi membantu mempertahankan kelembapan di sekitar biji.
Jadi, perjalanan biji timun semprot tidak berhenti ketika biji ditembakkan dari buahnya. Tanaman ini memiliki serangkaian mekanisme yang bekerja mulai dari pembentukan tekanan di dalam buah, perubahan posisi tangkai, pelontaran biji, hingga membantu biji menempel di lingkungan tempat ia akan tumbuh.
Timun semprot pun menunjukkan bahwa tumbuhan memiliki cara yang sangat beragam untuk menyebarkan keturunannya.
Tidak perlu kaki untuk berjalan atau sayap untuk terbang. Tanaman ini cukup memanfaatkan tekanan cairan di dalam buahnya untuk "menembakkan" biji hingga belasan meter dari tanaman induknya.
