Bandung tidak hanya dikenal dengan bangunan pemerintahan atau kawasan cagar budayanya yang memikat. Lebih dari itu, Jejak sejarah Kota Kembang juga terekam kuat melalui fasilitas kesehatan yang telah berdiri sejak masa kolonial Hindia Belanda.
Menariknya, sejumlah rumah sakit tua di Bandung dan sekitarnya masih beroperasi secara aktif hingga saat ini. Keberadaan fasilitas kesehatan bersejarah ini menjadi bukti nyata bahwa transformasi layanan medis di kawasan Bandung Raya telah berlangsung lebih dari satu abad.
Mulanya, rumah sakit ini didirikan untuk melayani serdadu Belanda, masyarakat Eropa, kelompok misionaris, serta kepentingan birokrasi kolonial. Setelah Indonesia merdeka, pengelolaan dan fungsinya bertransformasi total menjadi fasilitas kesehatan publik, rumah sakit militer TNI, hingga rumah sakit pendidikan modern.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut adalah gambaran sejarah serta daftar empat rumah sakit tertua di Bandung Raya yang masih berdiri kokoh melayani masyarakat.
Konteks Bandung pada Zaman Kolonial
Melalui buku Geliat Kota Bandung (Bank Indonesia Institute, 2022), dijelaskan bahwa pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, Bandung mengalami perkembangan pesat sebagai pusat administratif, militer, dan perkebunan.
Pemerintah Hindia Belanda gencar membangun infrastruktur penunjang, mulai dari rel kereta api, perkantoran, sekolah, barak militer, hingga fasilitas kesehatan.
Sementara itu, wilayah Cimahi yang terletak di sebelah barat Bandung dikembangkan sebagai kawasan garnisun dan pusat militer. Kondisi ini memicu kebutuhan mendesak akan rumah sakit militer untuk melayani prajurit Belanda dan keluarganya.
Seiring melonjaknya populasi penduduk dan pekerja di Bandung, pemerintah kolonial mulai mendirikan rumah sakit umum berkapasitas besar. Tak hanya pemerintah, kelompok keagamaan dan lembaga misionaris turut mengambil peran. Mereka mendirikan rumah sakit yang tidak hanya memberikan perawatan medis, tetapi juga menyelenggarakan pendidikan keperawatan dan pelayanan sosial.
Kondisi masyarakat saat itu-yang diwarnai wabah penyakit, keterbatasan tenaga medis, serta risiko perang-menjadikan keberadaan fasilitas kesehatan sangat vital. Pascakemerdekaan, seluruh aset kesehatan ini beralih fungsi menjadi rumah sakit nasional, rumah sakit TNI, dan rumah sakit swasta yang diakses oleh masyarakat luas.
Daftar 4 Rumah Sakit Tertua di Bandung Raya
1. Rumah Sakit Dustira Cimahi (Berdiri 1887/1897)
RS Dustira, Saksi Bisu Garnisun Belanda di Kota Cimahi Foto: Yudha Maulana/detikTravel |
- Lokasi: Jl. Dustira No. 1, Baros, Cimahi Tengah, Kota Cimahi
- Status: Rumah Sakit Militer (TNI AD) & Umum
Meski secara administratif berada di Kota Cimahi, RS Dustira merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah pelayanan kesehatan Bandung Raya. RS Dustira memegang predikat sebagai salah satu rumah sakit tertua di Jawa Barat.
Berdasarkan informasi dari Pemerintah Kota Cimahi, fasilitas ini awalnya merupakan rumah sakit militer Hindia Belanda bernama Militaire Hospital. Bangunan ini didirikan untuk menunjang Cimahi yang kala itu diposisikan sebagai kota militer.
Terdapat sedikit perbedaan catatan sejarah terkait tahun berdirinya:
- Tahun 1887: Terukir pada gerbang utama rumah sakit.
- Tahun 1897: Berdasarkan riset sejarah lokal yang mencatat persiapan pembangunan dimulai sejak 1896.
Pada masa pendudukan Jepang dan era perang kemerdekaan, rumah sakit ini sempat difungsikan untuk merawat tawanan perang. Setelah sempat dikuasai NICA, fasilitas ini akhirnya diserahkan secara resmi kepada Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Pada 19 Mei 1956, namanya diubah menjadi RS Dustira untuk mengenang jasa Mayor dr. Dustira Prawiraamidjaja-dokter tentara yang gugur dan berjuang tanpa lelah merawat korban perang di front Padalarang.
Dari segi arsitektur, bangunan RS Dustira mengusung gaya neoklasik dengan jendela besar, pintu melengkung, serta tata ruang yang luas khas peninggalan Belanda.
2. Rumah Sakit Immanuel Bandung (Berdiri 1910)
- Lokasi: Jl. Kopo No. 161, Kota Bandung
- Status: Rumah Sakit Swasta / Misionaris
Perjalanan Rumah Sakit Immanuel bermula pada tahun 1910 dengan nama Zendingshospitaal Immanuel. Berdasarkan informasi dari kanal YouTube resmi RS Immanuel, cikal bakal rumah sakit ini lahir dari aksi kepedulian misionaris Belanda, Pendeta Alkema dari Nederlandsche Zendingsvereeniging (NZV) pada tahun 1900, yang kemudian dilanjutkan oleh Pendeta Yohanes Iken.
Sejak awal berdiri, RS Immanuel tidak sekadar merawat pasien. Pada tahun yang sama (1910), didirikan pula sekolah pendidikan keperawatan vokasional. Sebagaimana dicatat oleh Institut Kesehatan Immanuel, institusi ini memegang peranan krusial dalam mencetak tenaga perawat terlatih yang saat itu jumlahnya sangat langka di Indonesia.
Kini, RS Immanuel telah bertransformasi dari lembaga pelayanan sosial-keagamaan menjadi rumah sakit swasta modern yang memadukan layanan medis unggulan, pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia.
3. Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung (Berdiri 1921)
- Lokasi: Jl. Ir. H. Juanda No. 100, Dago, Kota Bandung
- Status: Rumah Sakit Swasta
Rumah Sakit Santo Borromeus merupakan salah satu faskes swasta tertua di Kota Bandung yang resmi beroperasi pada 18 September 1921. Pembuatannya diprakarsai oleh komunitas keagamaan Katolik dan diawali di bawah naungan sebuah yayasan yang dipimpin oleh dr. de Groot.
Pemilihan kawasan Dago sebagai lokasi rumah sakit menunjukkan ekspansi pelayanan kesehatan yang meluas ke area pemukiman modern saat itu, tidak lagi terbatas di area militer atau pusat pemerintahan.
Selama lebih dari satu abad, RS Santo Borromeus terus memperluas kapasitas bangunan dan fasilitas medisnya. Kendati telah dilengkapi teknologi kesehatan terkini, nilai historisnya tetap terjaga sebagai institusi kesehatan yang tumbuh bersama warga Bandung.
4. Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Hasan Sadikin (Berdiri 1920 / Beroperasi 1923)
Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Kota Bandung. Foto: Wisma Putra/detikJabar |
- Lokasi: Jl. Pasteur No. 38, Kota Bandung
- Status: Rumah Sakit Rujukan Nasional & Rumah Sakit Pendidikan Utama
RSUP Dr. Hasan Sadikin (RSHS) merupakan rumah sakit terbesar dan terkelola langsung di bawah Kementerian Kesehatan RI. Pembangunannya dimulai pada tahun 1920 dan diresmikan pada 15 Oktober 1923 dengan nama Het Algemeene Bandoengsche Ziekenhuijs berkapasitas awal 300 tempat tidur.
Perjalanan nama dan fungsi RSHS mencakup beberapa fase penting:
- 1927: Berganti nama menjadi Het Gemeente Ziekenhuijs Juliana.
- Masa Pendudukan Jepang: Difungsikan sebagai rumah sakit militer Jepang.
- Pascakemerdekaan: Dikelola pemda dan populer dengan nama Rumah Sakit Ranca Badak (mengambil nama kampung setempat).
- 1956: Berkapasitas 600 tempat tidur dan resmi menjadi Rumah Sakit Pendidikan seiring berdirinya Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad).
- 8 Oktober 1967: Diberi nama RSUP Dr. Hasan Sadikin sebagai bentuk penghormatan kepada dr. Hasan Sadikin, Direktur RS Ranca Badak periode 1965-1967 yang berjasa besar dalam dunia kedokteran dan pelayanan kesehatan masyarakat.
Selain sebagai rumah sakit rujukan utama di Jawa Barat, RSHS juga mencatatkan sejarah sebagai pelopor layanan kedokteran nuklir pertama di Indonesia sejak tahun 1971.
(yum/yum)


