Di jalanan Bandung, deru mesin dan lengkingan klakson saling bersahutan memecah udara. Suasana riuh tersebut seolah menjadi rutinitas harian, terutama saat menapaki simpul-simpul persimpangan jalan di kota berjuluk Kota Kembang itu.
Tengok saja Jalan Asia Afrika. Menjelang waktu pulang kantor, suasana sore di kawasan bersejarah ini tampak semakin hidup. Bukan sekadar sesak oleh antrean kendaraan, trotoarnya pun seolah tak pernah putus dari langkah warga yang sibuk beraktivitas.
Di tengah ramainya suasana Jalan Asia Afrika, tepat di trotoar persimpangan Jalan Tamblong, seorang pria yang umurnya tidak muda lagi tampak sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Bukan berolahraga atau sekadar nongkrong dan bermain ponsel di trotoar, pria yang rambutnya sudah memutih itu sedang sibuk meraut bambu yang akan dijadikannya sebagai kerajinan tangan.
detikJabar berkesempatan berbincang dengan pria itu. Dia bernama Deni Sugiri, warga Cijerah yang kini berumur 51 tahun.
Saat membuka perbincangan, Deni mengatakan jika dia sehari-hari membuat kerajinan tangan yang terbuat dari kayu dan bambu di sekitaran trotoar Jalan Asia Afrika.
"Ini judulnya apa ya? Memanfaatkan limbah kali ya, ngirit, karena kalau dari bahan baku baru harganya mahal," kata Deni saat berbincang, Kamis (1/10/2026).
Deni mengungkapkan, kerajinan tangannya berbahan dasar bambu dan kayu bekas. Bahan-bahan tersebut ia ukir secara manual menggunakan gergaji dan pisau untuk menghasilkan berbagai bentuk, lalu direkatkan menggunakan lem kayu.
"Sekarang saya gunakan limbah bambu baliho bekas dan kayu peti buah bekas. Sekarang mau bikin ini," kata Deni sambil menunjukkan kerajinan kayu berbentuk gajah.
Deni mengisahkan, dia membuat kerajinan kayu dengan modal nekat karena mengaku tidak pernah memiliki keterampilan dalam membuat karya seni.
"Bikin kayak gini sejak COVID-19, tahun 2019-an. Dulu kerja kuli bangunan, tapi sekarang berhenti soalnya capek, tenaga sudah gak kuat, nekat aja bikin ini," ujarnya.
Deni menuturkan, berbagai karakter satwa dan moda transportasi bisa dia buat. Mulai dari gajah, kuda, jerapah, mobil, traktor, pesawat, motor, perahu, dan lainnya. Deni juga bisa membuat asbak dari kayu bekas yang dia ukir.
"Kalau bentuk apa saja, ganti-ganti, harga mulai dari Rp30 ribuan," ucapnya.
Disinggung mengapa dia membuat kerajinan tangannya di pinggir jalan dan bukan di rumah kontrakannya, Deni menyebut sengaja, sekalian memasarkan kerajinan tangan yang dia buat.
Selain dijual langsung, Deni juga menyebut jika kerajinannya itu sudah memiliki pelanggan sendiri yang datang dari salah satu kedai kopi di Jalan Asia Afrika.
"Alhamdulilahna yang punya (kopi shop) bisa membantu secara riil tanpa basa-basi, tanpa proposal, tanpa ini itu lah. Jadi betul-betul malaikat tak bersayap kitu, datang ke saya dan langsung transaksi," tuturnya.
Deni tak menyangka jika kerajinan tangan yang dia buat disukai banyak orang. Hal itu terbukti karena kedai kopi tersebut berlangganan kepadanya.
"Sudah langganan, saya jualnya polosan, di sana dikemas lagi jadi bagus, saya juga yang lihatnya nggak nyangka," tuturnya.
"Bahkan ada yang mewarnainya, karena anak-anak suka mainin mainan yang saya buat," pungkasnya.
(wip/sud)