Di sebuah sudut Desa Lobener Lor, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, suara gesekan amplas dan denting senar gitar terdengar nyaris setiap hari. Tidak ada mesin-mesin canggih atau peralatan modern yang memenuhi ruangan itu. Hanya sebuah bengkel sederhana dengan berbagai alat kerja yang sebagian besar masih digunakan secara manual.
Namun dari tempat yang tampak biasa itulah lahir gitar-gitar yang telah mengembara ke berbagai penjuru Indonesia, bahkan menyeberang hingga luar negeri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di balik semua itu, ada sosok Wartono, pria kelahiran 1975 yang mengubah ketekunan menjadi jalan hidup.
Wartono bukan lulusan sekolah khusus pembuat alat musik. Ia juga tidak pernah mengikuti pelatihan profesional tentang luthier-sebutan bagi perajin alat musik petik. Semua yang dimilikinya hari ini dipelajari secara otodidak.
Awalnya, ia hanya seorang 'soundman' yang kerap membantu berbagai grup musik. Dunia musik memang bukan hal asing baginya. Dalam aktivitasnya itu, ia sering melihat para musisi kesulitan ketika gitar mereka mengalami kerusakan.
Alih-alih menyerahkan kepada orang lain, Wartono mencoba memperbaikinya sendiri. Tak disangka, percobaan itu berhasil.
Dari satu gitar yang diperbaiki, kabar tentang kemampuannya menyebar dari mulut ke mulut. Musisi yang satu merekomendasikan kepada musisi lainnya. Perlahan, rumahnya mulai didatangi orang-orang yang membutuhkan jasa servis gitar.
"Dari situ saya melihat bahwa profesi ini punya prospek yang bagus," kenang Wartono, saat ditemui di kediamannya, Rabu (3/6/2026).
Perjalanan berikutnya tidak selalu mudah. Dengan kemampuan yang dimiliki, Wartono mulai mencoba membuat gitar sendiri. Bahan-bahan yang digunakan pun jauh dari kata mewah. Kayu bekas dan limbah menjadi teman akrabnya saat bereksperimen.
Namun justru dari proses panjang itulah ia menemukan karakter karyanya sendiri. Hari ini, Wartono mampu membuat berbagai jenis gitar, mulai dari gitar akustik hingga gitar elektrik. Semuanya dikerjakan dengan teliti dan penuh kesabaran.
Bagi Wartono, ada dua hal yang tidak boleh ditawar dalam membuat gitar, yaitu kualitas dan kekuatan. Prinsip sederhana itulah yang membuat namanya semakin dikenal.
Pesanan datang tidak hanya dari Indramayu dan wilayah Ciayumajakuning. Gitar buatannya telah dikirim ke Kalimantan, Sumatra, Bali, Nusa Tenggara Timur, dan berbagai daerah lain di Indonesia.
Bahkan sebelum pandemi Covid-19, karya-karyanya pernah melanglang ke Malaysia, Taiwan, hingga Polandia. "Yang penting mempertahankan kualitas, kerapian, dan kekuatan," ujarnya.
Wartono, pembuat gitar asal Indramayu. (Foto: Burhannudin/detikJabar) |
Keunikan lain dari karya Wartono adalah kemampuannya mewujudkan gitar sesuai imajinasi pelanggan. Banyak pembeli datang dengan membawa desain sendiri yang tidak tersedia di pasaran.
Ada yang menginginkan perpaduan beberapa model gitar menjadi satu. Ada pula yang meminta detail-detail khusus yang membuat instrumen tersebut tampil berbeda.
Jika gitar biasa dapat dibeli di toko musik, maka gitar buatan Wartono menawarkan sesuatu yang lebih personal, yaitu identitas pemiliknya. Keahlian itulah yang membuat para pelanggan rela mengeluarkan biaya mulai dari Rp4 juta untuk sebuah gitar custom.
Namun bukan hanya soal desain yang membuat karya Wartono menarik perhatian.
Suatu hari, ketika mengajar pembuatan gitar bagi warga binaan di Lapas Indramayu, ia menemukan tumpukan tutup botol bekas yang hendak dijual.
Banyak orang mungkin melihatnya sebagai sampah. Wartono melihatnya sebagai kemungkinan.
Tutup botol itu kemudian dibeli, dicampur resin, lalu diolah menjadi bagian dari sebuah gitar yang unik dan artistik. Warna-warni tutup botol yang menyatu di dalam badan gitar menghasilkan motif menyerupai pelangi.
Karya tersebut kemudian dipamerkan dalam sebuah festival dan pameran gitar di Bandung. Tidak hanya menarik perhatian pengunjung, gitar itu juga membawanya memperoleh bantuan pengembangan usaha.
Kreativitasnya tidak berhenti di situ. Kaset bekas, bungkus kopi, hingga berbagai material daur ulang lainnya pernah ia jadikan bagian dari karya seni yang bernilai tinggi.
Bagi Wartono, limbah bukanlah akhir dari sebuah benda. Di tangannya, limbah bisa berubah menjadi alat musik yang menghasilkan harmoni.
Meski dikenal sebagai perajin gitar, kebahagiaan terbesar yang dirasakan Wartono ternyata bukan semata-mata soal keuntungan.
Ia mengaku bersyukur karena usahanya mampu membantu perekonomian keluarga. Namun lebih dari itu, profesi ini mempertemukannya dengan banyak seniman dan musisi dari berbagai daerah.
Persahabatan tumbuh bersama setiap gitar yang selesai dibuat. Nama yang dahulu hanya dikenal di lingkungan sekitar kini mulai akrab di telinga para gitaris dan pecinta musik.
Bahkan beberapa gitar buatannya pernah dimainkan oleh personel grup musik The Changcuters dan musisi dari Soneta, grup musik yang diprakarsai Rhoma Irama.
Bagi sebagian orang, kesuksesan sering diukur dari seberapa besar usaha seseorang mengejar uang. Namun kisah Wartono menunjukkan hal yang berbeda.
Di bengkel sederhananya di sebuah desa di Indramayu, seorang perajin membuktikan bahwa ketika keterampilan diasah dengan tekun dan dikerjakan dengan sepenuh hati, maka hasil akan menemukan jalannya sendiri.
Wartono tidak pernah bercita-cita menjadi terkenal. Ia hanya ingin membuat gitar yang baik. Akan tetapi, justru karena ketekunan itulah, karya-karyanya kini dikenal hingga jauh melampaui batas kampung halamannya.
Dari sepotong kayu, limbah tutup botol, dan sepasang tangan yang tidak pernah berhenti belajar, lahirlah nada-nada yang membawa nama Wartono ke berbagai penjuru negeri, bahkan hingga mancanegara.

