Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Klaten memiliki kerajinan tangan (handmade) yang mampu menembus pasar internasional. Kerajinan berupa jam kayu merek Eboni itu di produksi di sebuah studio PT Eboni Sri Gemahloji.
Menemukan pusat produksi jam unik itu tidaklah sulit karena berada di tepi Jalan Raya Bayat-Cawas. Bangunan dua lantai bercorak minimalis berada di pusat kota kecamatan.
Di studio yang tidak terlalu luas itu, setiap hari belasan anak muda mengolah kayu menjadi jam tangan. Mulai dari memotong bahan baku sampai finishing menjadi jam berbagai model dan warna.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Siapa sangka, produk jam dari studio kreatif sederhana itu ternyata tidak hanya beredar di pasar nasional. Bahkan jam kayu produk Bayat itu telah merambah ke berbagai negara di Asia, Afrika, dan Eropa.
"Untuk ekspor kami lumayan sering ke Malaysia dan Singapura, hampir setiap hari selalu kirim. Kalau pesanan banyak untuk ekspor itu mulai Eropa, Jepang, dan yang paling jauh itu ke Afrika Selatan sama Rusia," ungkap pemilik Eboni Watch, Afidha Fajar Adhitya (36) kepada awak media, Rabu (28/7/2026) lalu di studio produksi kerajinannya di Jalan Raya Bayat-Cawas, Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Klaten.
Jam kayu Eboni asal Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Klaten. Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng |
Pria yang akrab dipanggil Fida itu menceritakan awal mula bergelut dengan jam kayu sejak Oktober 2014. Semua bermula dari hobinya membuat kerajinan.
"Awal mulanya itu karena saya memang suka bikin ini itu, bikin kerajinan. Ndilalah (kebetulan) waktu itu suka jam tangan," tutur Fida.
Kebetulan, kata Fida, waktu itu di daerah Bayat dan sekitarnya banyak limbah kayu jati mebel untuk membuat gerobak angkringan. Muncullah ide untuk membuat jam.
"Waktu itu kepikiran bisa nggak ya ini dibuat kerajinan, waktu itu baca-baca, dari medsos juga ternyata ada kerajinan jam tangan dari kayu. Lalu saya coba bikin desainnya tapi saya buatkan di perajin di Jogja, istilahnya ndandake (pesan jadi)," kata Fida.
Seiring waktu, sambung Fida, pesanan semakin banyak sampai 2016, dirinya mulai membuat sendiri. Untuk memenuhi pesanan, bahan baku mencari sampai Sukoharjo.
"Saya juga mencari sisa limbah produksi gitar di Sukoharjo, jadi menggunakan kayu jati, sonokeling, rengas dan beberapa kayu impor. Dari awalnya manual, sekarang proses pemotongan sudah otomatis, desain dengan komputer baru nanti pengamplasan dengan manual, coating sampai finishing terus perakitan," papar Fida.
Produksi jam tangan kayu saat ini, sebut Fida, dalam satu hari sampai 100 buah. Pemasaran produk dilakukan lewat online berbagi platform.
"Pemasaran lewat online, di marketplace. Untuk harga itu antara Rp 250 ribu sampai Rp 850 ribu tergantung spesifikasinya, bahannya, modelnya, jam juga sudah anti air sebatas rekreasi dan bukan untuk dipakai diving," jelas Fida.
Pangsa Pasar
Fida yang pernah mencoba berbagai bisnis itu mengatakan untuk sasaran konsumen produk jamnya adalah orang yang ingin trendi. Sebab jam di studionya selalu mengikuti trend market.
"Mulai dari anak sekolah, mamanya, intinya orang yang ingin kelihatan trendy, dan lebih unik. Tapi yang lebih banyak memang milenial, kami juga menerima reparasi, garansi satu tahun," kata Fida yang lulus sastra Inggris UGM Jogja.
Jam kayu Eboni asal Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Klaten. Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng |
Alasan Nama Eboni
Ayah empat anak itu mengungkap alasan dirinya memilih nama Eboni untuk produknya. Fida mengaku terinspirasi dari nama kayu keras asal Makassar yaitu Eboni. Kayu tersebut paling kuat, langka, dan paling dicari di dunia.
"Kayu Eboni itu paling kuat, langka dan banyak dicari di dunia. Eboni sendiri kan artinya indah dan cantik, jadi harapannya brand kami menciptakan jam yang indah dan cantik," pungkas Fida yang mengaku belajar membuat jam autodidak.
Camat Bayat, Rokhmad Syabani, mengatakan produk jam tangan kayu itu masuk produk unggulan dari Bayat. Selain sudah ekspor juga banyak diminati berbagai kalangan.
"Beberapa pejabat pernah ke situ, terakhir tamu bupati. Ya memang unggulan," katanya kepada detikJateng.


