Ironi Menara Masjid Agung Bandung, Megah tapi Mati Suri

Ironi Menara Masjid Agung Bandung, Megah tapi Mati Suri

Nedzar Rabbany El Haq - detikJabar
Rabu, 30 Sep 2026 11:01 WIB
Menara Masjid Agung Bandung.
Menara Masjid Agung Bandung. (Foto: Nedzar Rabbany El Haq)
Bandung -

Menara Masjid Agung Kota Bandung kerap membuat takjub pengunjung alun-alun. Menara setinggi 81 meter itu tampak kokoh. Megah, gagah, dan menantang. Namun, realitas di lantai dasar berbicara sebaliknya.

Di balik celah jeruji pengaman, sebuah pintu lift besi berwarna abu-abu tampak kusam dengan bercak karat tipis yang mulai menggerogoti sudut-sudutnya. Sebuah papan tripleks usang dengan tulisan spidol yang memudar menjadi barikade terakhir, bertuliskan teguran bisu: 'Menara Ditutup Sementara'.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di lorong gelap itu, mesin pemutar mekanik tertidur dalam diam, menyiratkan masa jeda yang terlampau panjang karena sudah bertahun-tahun tidak dialiri arus listrik pemeliharaan.

Pemandangan muram di bawah menara kembar Masjid Agung Kota Bandung ini menjadi simbol ironi di tengah hiruk-pikuk ribuan warga yang bersantai setiap hari di pusat kota. Ditutup sejak pandemi COVID-19 melanda pada kurun waktu 2021 hingga 2022, ikon wisata religi ini kini sepenuhnya mati suri.

ADVERTISEMENT

Nasibnya kian menggantung pasca-pencabutan status 'Masjid Raya Provinsi' oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada Januari 2026 lalu. Keputusan itu secara otomatis memutus kucuran dana perawatan rutin dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Kini, pihak pengelola harus berjuang mandiri mencari biaya perbaikan lift yang usang, sembari menuntaskan rumitnya pengurusan izin kelaikan keselamatan dari Dinas Tenaga Kerja (Disnaker).

Besi Tua dan Ketinggian Setara 18 Lantai

Menara kembar masjid ini sejatinya bukan sekadar ornamen arsitektur pelengkap. Di puncaknya, terdapat sebuah ruang pandang 360 derajat yang mampu menampung hingga 70 pengunjung secara bergantian. Dari dek observasi tersebut, lanskap Kota Bandung dari berbagai penjuru mata angin terhampar indah tanpa sekat.

Namun, usia fasilitas penunjang yang kian menua kini menjadi penghalang utama. Lift pendorong yang telah dibangun sejak tahun 2003 itu dinilai tak lagi laik dan aman untuk mengangkut nyawa manusia setiap harinya.

Wakil Sekretaris Nazhir Masjid Agung Kota Bandung R Ahmad Kusumahyuda menuturkan menaiki tangga darurat bukanlah opsi yang masuk akal bagi masyarakat umum. Ketinggian menara ini setara dengan mendaki bangunan 18 lantai tanpa henti.

"Kalau pengunjung harus naik lewat tangga tentu sangat berat dan berisiko," ucap Ahmad saat berbincang dengan detikJabar.

Ia memastikan secara struktur, bangunan fisik menara sebenarnya masih sangat kokoh dan aman dari guncangan. "Hanya masalah teknis lift yang perlu diganti total demi keselamatan. Selain itu, sebagai manajemen Nazhir baru, kami juga perlu memeriksa ketahanan material seperti pelapis marmernya agar tidak membahayakan," tuturnya.

Suasana Masjid Raya Bandung di Jalan Asia Afrika, Bandung, Jawa Barat, Jumat (9/1/2026). Status Masjid Agung Bandung sebagai Masjid Raya Provinsi Jawa Barat resmi berakhir setelah 23 tahun, sebagaimana tertuang dalam Keputusan Gubernur Jawa Barat yang mengacu pada sejumlah regulasi, mulai dari Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah hingga Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf beserta peraturan turunannya. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/YUSuasana Masjid Raya Bandung di Jalan Asia Afrika, Bandung, Jawa Barat, Jumat (9/1/2026). Status Masjid Agung Bandung sebagai Masjid Raya Provinsi Jawa Barat resmi berakhir setelah 23 tahun, sebagaimana tertuang dalam Keputusan Gubernur Jawa Barat yang mengacu pada sejumlah regulasi, mulai dari Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah hingga Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf beserta peraturan turunannya. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/YU Foto: ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI

Kemandirian Menjaga Aset Wakaf Masa Lalu

Masjid yang pertama kali didirikan pada tahun 1812 oleh pendiri Kota Bandung, Bupati Wiranatakusumah II (Dalem Kaum) ini berdiri di atas hamparan tanah wakaf. Bentuk aslinya kala itu sangat sederhana, hanya berupa bangunan panggung dari kayu berdinding anyaman bambu dengan atap daun rumbia. Kini, bangunan monumental tersebut berada pada fase transisi, di mana pengelolaan asetnya menjadi tanggung jawab penuh pihak Nazhir.

Ahmad menyampaikan ada perbedaan mencolok antara sistem pengelolaan di sini dengan masjid pada umumnya. Jika masjid lain diurus oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) yang dipilih warga setempat, Masjid Agung dikelola oleh Nazhir yang menerima amanah langsung dari Badan Wakaf Indonesia (BWI).

"Di sini yang bertindak seperti DKM adalah Nazhir-nya. Kalau Pelaksana Harian namanya PHPB yang masa jabatannya hanya tiga tahun. Kalau Nazhir tidak ada batasan waktu, bisa seterusnya selama tidak ada kesalahan," kata Ahmad.

Penerapan struktur ini merupakan terobosan percontohan agar undang-undang perwakafan ditegakkan secara utuh. Aturan ini menuntut pengelola untuk proaktif memelihara aset wakaf, bukan sekadar menunggu dana turun. Namun, tanpa status sebagai masjid provinsi, tantangan finansial membentang begitu luas.

"Karena masjid ini pengelolaannya mandiri, kami membutuhkan biaya renovasi, perbaikan atap yang bocor, hingga penggantian lift menara," ujarnya.

Imbasnya, fungsi megah menara tersebut saat ini terpaksa direduksi sekadar menjadi tempat meletakkan pengeras suara azan, sementara area alun-alun rumput sintetis di depannya kini murni dikelola oleh Pemkot Bandung.

Rindu yang Tertahan di Balik Pintu Baja

Mati surinya menara kembar ini rupanya menyisakan lubang di hati masyarakat kota yang terbiasa menjadikannya destinasi wisata akhir pekan dengan harga terjangkau. Ai Hasanah, seorang pengunjung yang bermukim di kawasan Moh Toha, menatap rindu ke arah bangunan menjulang tersebut. Selasa (29/9/2026) siang itu, ia datang bersama rekan-rekannya Ai Sulastri, Yuyun, dan Oan dari Garut untuk mengikuti kajian agama sekaligus melepas penat.

Mengetahui lift menara ditutup sejak tiga tahun lalu, Ai tidak bisa menutupi raut kekecewaannya. Ia mengingat jelas masa-masa kejayaan saat lift menara tersebut masih beroperasi secara penuh membawa pengunjung menembus awan.

"Dulu mah tiketnya naik Rp7.000, pernah berkali-kali naik ke atas," ucap Ai Hasanah.

Bagi perempuan ini, menara itu bukan sebatas gedung tinggi. Gedung tersebut merekam kenangan personal berwisata bersama sang anak dan almarhum suaminya yang dulu rajin menemaninya. Ai merasa identitas kawasan ini memudar seiring hilangnya akses menuju ruang pandang.

"Ciri khas main ke alun-alun teh pengin ke menara, sejak ditutup rasanya kayak ada yang hilang. Harusnya kalau enggak seperti dulu, ya lebih baik dimanfaatkan buat yang bermanfaat. Kan enggak mungkin dirobohin, mendingan diaktifin lagi," tuturnya.

Ia bahkan menuturkan tak berkeberatan jika kelak tarif masuk dinaikkan untuk menyesuaikan tingginya biaya perawatan, asalkan alun-alun bisa ramai dengan wisata menara seperti sedia kala.

Menanti Tangan Dermawan Merajut Sejarah

Sejarah panjang mencatat bahwa bangunan suci ini memiliki rekam jejak emas bagi Kota Bandung. Dulu, kolam wudunya yang luas pernah menjadi sumber air darurat yang dipakai untuk memadamkan kebakaran besar di kawasan alun-Alun pada tahun 1825.

Bahkan, menjelang Konferensi Asia-Afrika 1955, Presiden Soekarno turun tangan langsung merancang perombakannya menjadi bergaya Timur Tengah. Para pemimpin dunia peserta KAA pernah menyusuri jalan kaki dari Gedung Merdeka dan mampir ke masjid ini, menjadikannya saksi bisu kebangkitan bangsa-bangsa di Asia dan Afrika.

Menyadari besarnya dana yang dibutuhkan untuk mengganti mesin lift secara total dan mengurus sertifikasi keselamatan Disnaker, pihak Nazhir tidak menutup diri dari bantuan eksternal.

"Kami sangat terbuka bagi para dermawan, pemakmur masjid, maupun pihak swasta yang ingin berkolaborasi atau bekerja sama agar menara ikonik ini bisa beroperasi kembali untuk masyarakat," kata Ahmad.

Di pelataran luar masjid, riuh rendah pengunjung yang duduk santai di atas hamparan rumput sintetis saling bersahutan dengan gema suara azan. Namun, jika pandangan ditarik tegak lurus ke atas, sepasang menara kembar itu masih saja membisu dalam sepi. Entah sampai kapan tulisan pudar di atas tripleks usang itu harus menutupi pintu lift di lantai dasar.

Di balik jeruji besinya, bukan sekadar gerigi mesin tua yang menanti sentuhan daya, melainkan ribuan keping kenangan warga Kota Bandung yang tak sabar ingin dihidupkan kembali.

Halaman 2 dari 2
(sud/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads