Priangan Timur Sepekan: Nelangsa Pelajar Tasik Dibully Senior

Jabar Sepekan

Priangan Timur Sepekan: Nelangsa Pelajar Tasik Dibully Senior

Tim detikJabar - detikJabar
Minggu, 04 Okt 2026 19:00 WIB
Ilustrasi bully
Ilustrasi bully (Foto: Getty Images/pcess609)
Tasikmalaya -

Beragam peristiwa terjadi di wilayah Priangan Timur dalam sepekan dari mulai siswa di Tasikmalaya dibully senior, pengamen tewas dianiaya temanya hingga bocah 4 tahun mask sumur di Ciamis.

Berikut rangkuman Priangan sepekan:

Pelajar Dibully Senior di Tasikmalaya

Satreskrim Polres Tasikmalaya Kota tengah mendalami kasus dugaan perundungan dan penganiayaan yang menimpa siswa SMAN 3 Tasikmalaya. Insiden yang terjadi di sebuah warung kopi kawasan Jalan Raya Cibeureum - Manonjaya ini mengungkap adanya dugaan tradisi senioritas di lingkungan sekolah tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemicu kejadian bermula saat korban, seorang siswa kelas X, kedapatan menggunakan rokok elektrik atau vape di dalam kelas. Meski sekolah telah menjatuhkan sanksi, sejumlah siswa senior justru ikut mengintervensi dengan dalih memberikan teguran, yang kemudian berujung pada aksi kekerasan.

"Jadi yang menjadi korban itu anak kelas X, pada saat itu dia melakukan pelanggaran, ngevape di kelas. Setelah ditindak oleh pihak sekolah, nah senior-seniornya ini kelas XI dan XII, awalnya sebenarnya tujuannya baik. Mungkin mau mengingatkan kepada juniornya yang melakukan kesalahan, namun karena mungkin tindakannya tidak terukur, itulah mungkin yang mengakibatkan sekarang ada dugaan perundungan. Jadi bisa dikatakan ada tradisi di sekolah tersebut," papar Kasatreskrim Polres Tasikmalaya Kota, AKP Januar Rangga Fardhela.

ADVERTISEMENT

Hingga saat ini, polisi telah mengidentifikasi tujuh orang terduga pelaku yang merupakan senior korban. Berdasarkan keterangan awal, korban diduga mengalami kekerasan fisik berupa penamparan.

"Untuk terduga pelaku sendiri ini sebenarnya senior-senior korban. Dari keterangan para korban, ada sekitar 7 orang," kata Januar.

Penyelidikan masih terus bergulir dengan melibatkan berbagai pihak terkait. Polisi juga telah memeriksa sejumlah saksi untuk memperkuat bukti-bukti di lapangan.

"Intinya kita sudah terima laporan ya, kita juga sudah lakukan pemeriksaan saksi-saksi termasuk koordinasi dengan pihak sekolah dan pihak dinas terkait. Sampai saat ini kita masih melakukan pendalaman," kata Januar.

Selain proses hukum, pihak kepolisian berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Tasikmalaya untuk merumuskan langkah preventif agar kasus serupa tidak terulang di institusi pendidikan lainnya.

"Hari ini juga Kanit PPA sedang melakukan komunikasi dengan Ibu Wali Kota, kaitan apa yang menjadi program ke depan terkait penanganan siswa di sekolah. Jadi detailnya perkara ini, nanti kami update lagi," pungkas Januar.

Kronologi kejadian mencatat aksi perundungan terjadi pada Kamis, 24 September 2026. Peristiwa ini dipicu oleh foto korban berinisial MA bersama rekan-rekannya saat mencoba pod di dalam kelas yang kemudian tersebar di media sosial.

Pada hari kejadian, sekitar pukul 10.00 WIB, para korban dijemput paksa dari kelasnya oleh siswa kelas XII dan diarak menuju ruang Bimbingan Konseling (BK). Intimidasi berlanjut hingga usai jam sekolah, di mana korban dipaksa menemui senior di luar area sekolah. Di sebuah warung tak jauh dari sekolah, sekitar pukul 14.00 WIB, ketiga korban diduga dipukul dan dipaksa saling menampar.

Kepala SMAN 3 Tasikmalaya, Elin Yuliani, mengonfirmasi bahwa para terduga pelaku telah mengakui aksi penamparan tersebut kepada pihak BK.

"Hanya ditampar, tidak penendangan. Yang enam orang itu mengaku melakukan penamparan," katanya.

Sebagai langkah tegas, sekolah telah menjatuhkan sanksi skorsing kepada seluruh siswa yang terlibat, baik pelaku maupun korban yang memicu awal permasalahan.

"Peringatan tertulis juga lebih jauhnya dikenakan skorsing. Untuk korban dan anak-anak yang out ke sana kami skor dua sampai tiga hari. Sedangkan untuk yang melakukan perundungan satu minggu," tegasnya.

Bocah 4 Tahun Masuk Sumur di Ciamis

Suasana di lingkungan rumah Iim Nurhalimah (35), warga Dusun Cibuluh, Desa Pasirnagara, Kecamatan Pamarican, Ciamis, mendadak berubah tegang. Anak laki-lakinya, Sazwan (4), Jatuh ke dalam sumur sedalam sekitar 15 meter, Selasa (29/9) siang.

Peristiwa itu terjadi saat Sazwan hendak mencuci tangan dan kaki sebelum tidur di sekitar sumur, namun kakinya terpeleset. Tubuh bocah tersebut kemudian kehilangan keseimbangan hingga jatuh ke dalam sumur.

Iim yang panik segera meminta pertolongan warga setempat hingga menghubungi petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Pos WMK Banjarsari agar anaknya segera dievakuasi.

Laporan tersebut diterima petugas sekitar pukul 11.12 WIB. Tim Damkar Pos WMK Banjarsari kemudian bergerak menuju lokasi. Dalam perjalanan, petugas berkomunikasi dengan warga yang saat itu berupaya melakukan evakuasi.

Kabid Damkar dan Penyelamatan Dinas Satpol PP Kabupaten Ciamis Budi Rahmat mengatakan, ketika petugas tiba di lokasi, warga sudah berhasil mengangkat Sazwan dari dalam sumur. Evakuasi dilakukan dengan menggunakan ember besar yang diikat menggunakan tali tambang.

"Petugas langsung merespons laporan dan menuju lokasi. Saat masih dalam perjalanan, kami berkoordinasi dengan warga yang melakukan evakuasi agar prosesnya tetap aman dan tidak menimbulkan risiko lainnya," ujar Budi.

Sazwan berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat. Namun, bocah tersebut mengalami luka di bagian kepala dan tubuhnya.

"Korban selamat setelah berhasil dievakuasi. Ada luka sobek di bagian kepala sekitar lima sentimeter, kemudian luka lecet di bagian punggung dan kaki," katanya.

Pengamen Tewas Dianiaya Temannya

Aparat Polres Tasikmalaya Kota tuntas melakukan penyelidikan atas kasus pembunuhan Faisal (40), seorang pengamen yang ditemukan tewas di emperan toko sekitar Pasar Ciawi, Desa Pakemitan, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya, Kamis (24/9) lalu.

Polisi resmi menetapkan tiga orang teman korban sebagai tersangka atas kasus penganiayaan tersebut. Ketiganya terdiri dari Dian Nurdiansyah (31) warga Tarogong Kaler, Kabupaten Garut; Fadli (33) warga Maleber, Kabupaten Ciamis; dan Ayi (27) warga Jamanis, Kabupaten Tasikmalaya.

Ketiga pelaku dan korban merupakan satu komunitas, yakni sama-sama pengamen jalanan atau anak punk.

"Ketiganya sudah resmi jadi tersangka dan sudah kita tahan di Rutan Polres Tasikmalaya Kota," kata Kasatreskrim Polres Tasikmalaya Kota AKP Januar Rangga Fardhela.

Dari penyelidikan terungkap jika korban meninggal akibat dianiaya oleh ketiga pelaku, salah satunya adalah korban dipukuli dengan gitar. Polisi menunjukkan gitar yang sudah rusak terbelah dua sebagai barang bukti. Kondisi gitar yang rusak itu menandakan brutalnya hantaman yang dialami korban.

"Gitar dipukulkan ke bagian kepala, sehingga ada pendarahan," kata Januar.

Terkait motifnya sendiri, para pelaku kesal karena korban diduga telah mencuri handphone milik salah seorang pelaku. Saat kejadian, keempat orang itu dalam keadaan mabuk berat.

"Motifnya ini sebetulnya sakit hati antara korban dengan para pelaku ini saling kenal, salah satu dari pelaku kehilangan hp, korban mengakui (mengambil ponsel). Karena emosi dalam keadaan mabuk minum alkohol, mereka lalu menganiaya korban," kata Rangga.

Hasil penyelidikan polisi juga mengungkap jika kejadian diawali saat tersangka Fadli dan Dian mengamen di sekitar Pasar Ciawi. Saat itu Fadli baru menyadari jika handphone miliknya hilang. Ia teringat ponsel itu diletakkan di meja dekat Terminal Ciawi.

Fadli dan Dian kemudian menuju ke lokasi meja tersebut, di sana keduanya bertemu Ayi. Saat menanyakan keberadaan handphone, Ayi menuturkan sehari sebelumnya ia sempat mengantar korban Faisal menjual handphone ke daerah Malangbong, Garut.

TKP penemuan mayat di Kecamatan Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya.TKP penemuan mayat di Kecamatan Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya. Foto: Faizal Amiruddin

Tak lama berselang korban Faisal datang, tapi ketiganya belum membahas soal handphone tersebut. Seolah tak terjadi apa-apa, keempatnya kembali menyebar dan mengamen. Ketika malam tiba, keempatnya mulai mabuk-mabukan. Mereka menenggak cairan alkohol medis 70 persen dicampur minuman energi.

Menjelang tengah malam, ketika keempatnya sudah mabuk berat, barulah masalah handphone dibahas. Fadli secara langsung menanyakan ikhwal handphone miliknya. Belum sempat Faisal memberikan penjelasan, Fadli langsung mendorongnya hingga terjatuh. Setelah itu, ia dipukuli oleh ketiga orang itu. Dian bahkan sempat memukulkan gitar ke kepala korban hingga gitarnya hancur. Akibat pengeroyokan itu, Faisal akhirnya tewas dan ditemukan warga pada pagi harinya.



(wip/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads