Kereta meninggalkan Buitenzorg sejak matahari terbit. Kota peristirahatan itu perlahan tertinggal ketika rel melengkung mengitari bahu Gunung Salak. Dari dalam gerbong, Eliza Ruhamah Scidmore melihat perkebunan, sawah, lembah, dan pegunungan bergantian mengisi perjalanan menuju bagian tengah Priangan.
Perjalanan tersebut dicatat dalam Bab XII, Across the Preanger Regencies, buku Java: The Garden of the East. Selepas Buitenzorg, penulis yang juga pelancong asal Amerika Serikat itu bergerak menuju Soekaboemi dan Tjandjoer sebelum mencapai Bandong.
"One may ride all day by train from Buitenzorg before reaching the limits of the Preanger regencies," tulis Scidmore. (Seseorang dapat menempuh perjalanan kereta sepanjang hari dari Buitenzorg sebelum mencapai batas Keresidenan Priangan).
Menurut Scidmore, pemandangan tersaji sejak kereta berangkat pada pagi hari hingga berhenti menjelang matahari tenggelam. Di sisi rel terdapat wilayah yang dibentuk oleh perkebunan kolonial dan pertanian masyarakat.
Selepas Buitenzorg, kereta mengikuti sisi Gunung Salak. Jalurnya kemudian memasuki kawasan perkebunan teh, kopi, dan kina.
"The railway line, after curving around the shoulder of Salak, runs through the vaunted hill-country, the region of the great tea, coffee, and kina estates," tulisnya.
Setelah melengkung mengitari bahu Gunung Salak, jalur kereta melintasi kawasan perbukitan yang dikenal sebagai wilayah perkebunan besar teh, kopi, dan kina.
Jika Buitenzorg memperlihatkan tanaman tropis melalui Kebun Raya dan kebun percobaan, perjalanan selepasnya menunjukkan tanaman itu dibudidayakan dalam skala lebih luas. Lereng yang dapat diolah digunakan untuk perkebunan, sedangkan hutan tersisa di puncak dan bagian bukit yang terlalu curam.
Soekaboemi disebut sebagai salah satu pusat kaum pekebun bersama Bandong. Scidmore tidak menggambarkan pusat kotanya secara terperinci. Ia lebih banyak merekam kawasan tersebut melalui bentang yang dilihat dari jendela kereta.
"From Soekaboemi to Bandong, the two great headquarters for planters, one perceives that the planter is paramount, the cultivator is king," tulis Scidmore. (Dari Soekaboemi hingga Bandong, dua pusat utama kaum pekebun, kedudukan para pengusaha perkebunan dan pembudidaya terlihat begitu kuat).
Namun, perkebunan teh, kopi, dan kina tidak sepenuhnya menghilangkan pertanian yang telah lebih dahulu dijalankan masyarakat Sunda. Sawah masih membelah dataran dan dasar lembah. Ketika lahan datar berakhir, teras-teras pertanian mengikuti lereng hingga perbukitan.
"The new cultures have not dispossessed the old," tulis Scidmore. Tanaman budidaya baru, menurut dia, tidak menyingkirkan pola pertanian lama.
Di sepanjang jalur tersebut, perkebunan menghasilkan komoditas perdagangan. Sementara persawahan menopang kebutuhan pangan masyarakat. Padi tidak hanya ditempatkan sebagai bahan makanan, tetapi juga memiliki kedudukan dalam keyakinan masyarakat Sunda.
"To them rice is a holy grain, the offspring of a god, and the gods' best gift to man; a grain both cultivated and worshiped," tulisnya. (Bagi mereka, padi merupakan tanaman suci, keturunan seorang dewa, dan pemberian terbaik para dewa kepada manusia. Padi dibudidayakan sekaligus dihormati).
Di balik persawahan yang terlihat dari gerbong terdapat pekerjaan panjang. Petani mengatur air, mengolah tanah, memindahkan bibit, menyiangi tanaman, lalu memanen bulir yang telah matang.
Scidmore mencatat, padi dipotong satu per satu menggunakan pisau kecil. Hasilnya diikat menjadi berkas lalu dibawa dengan pikulan. Setelah panen, sisa batang dibakar dan dibajak kembali ke dalam tanah.
Ia juga menuliskan bahwa pada masa sebelumnya masyarakat dikenai pajak berdasarkan luas sawah. Seperlima hasil panen mereka turut diambil. Persawahan yang dipandang indah oleh pelancong juga menyimpan cerita tentang kerja petani dan pungutan kolonial.
Selepas melintasi kawasan perkebunan, kereta mulai mendaki menuju Tjandjoer. Untuk melalui tanjakan, rangkaian tersebut ditarik dua lokomotif.
"With two heavy engines the train climbs to Tjandjoer station, sixteen hundred feet above the sea," tulis Scidmore. (Dengan dua lokomotif berat, kereta mendaki menuju Stasiun Tjandjoer yang berada 1.600 kaki atau sekitar 488 meter di atas permukaan laut).
Tjandjoer menjadi tempat penumpang mendapatkan makan siang. Pesanan disampaikan terlebih dahulu melalui telegram. Ketika kereta tiba, makanan dimasukkan ke dalam kompartemen menggunakan keranjang bertingkat tiga.
Penumpang dapat memilih *rijsttafel* berisi nasi dan berbagai lauk atau *tiffin* dengan bistik dan kentang. Setelah hidangan utama masih tersedia roti, pisang, keju, manggis, dan buah-buahan lain. Seluruhnya dijual seharga satu setengah florin.
Setelah meninggalkan Tjandjoer, bangunan dan permukiman mulai berkurang. Alang-alang, bambu, dan gelagah lebih banyak terlihat di sekitar rel. Jalur kereta kemudian berhadapan dengan sungai, lereng, dan lembah.
Sungai Tjitaroem sempat terlihat berbuih sebelum menghilang melalui terowongan alami di gunung. Alirannya muncul kembali di sebuah ngarai. Kereta melintas di atasnya menggunakan jembatan tinggi.
Simak Video "Menginap di Hotel Nyaman di Bandung, Menikmati Liburan "
(dir/dir)