Nama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mulai mendapat perhatian di luar panggung politik daerah. Media bisnis Inggris, Financial Times (FT), menyoroti lonjakan popularitas Dedi sekaligus kemunculannya dalam pembicaraan mengenai peta Pilpres 2029.
Dalam laporan berjudul "Is this Indonesia's next president?' yang terbit 21 September 2026, FT mengulas bagaimana aktivitas Dedi di media sosial telah membentuk citra politik yang menjangkau masyarakat jauh di luar Jawa Barat.
Sorotan itu tidak hanya tertuju pada angka survei. FT juga membedah cara Dedi membangun komunikasi dengan publik melalui unggahan aktivitas sehari-hari, mulai dari bertemu warga, merespons keluhan, menjelaskan kebijakan hingga memberikan bantuan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dedi bahkan mendapat julukan "Content Governor" karena intensitasnya memproduksi konten dari aktivitas pemerintahan dan kesehariannya.
FT mencatat Dedi baru sekitar 19 bulan memimpin Jawa Barat, tetapi popularitasnya telah berkembang menjadi fenomena yang diperbincangkan secara nasional. Latar belakangnya sebagai mantan pengemudi ojek dan penjual layang-layang juga menjadi bagian dari citra yang dibangun sebagai politikus yang dekat dengan masyarakat.
Namun, FT juga mencatat kritik terhadap intensitas produksi konten media sosial Dedi Mulyadi yang dinilai berpotensi membuat aktivitas pencitraan digital lebih menonjol dibandingkan pekerjaannya sebagai kepala daerah.
Perhatian FT kemudian bergeser dari fenomena media sosial ke posisi Dedi dalam peta politik nasional dengan mengutip survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dilakukan pada 5-19 Juli 2026. Dalam simulasi semi-terbuka, Dedi memperoleh elektabilitas 35 persen, sedangkan Prabowo Subianto 14,5 persen.
Dalam simulasi dua nama, Dedi memperoleh 59 persen dan Prabowo 28,3 persen. SMRC mencatat survei tersebut menggunakan 749 responden yang dipilih secara acak dengan margin of error sekitar 3,7 persen.
Angka tersebut menjadi salah satu dasar FT menempatkan Dedi sebagai figur yang mulai diperhitungkan dalam pembicaraan mengenai Pilpres 2029. Namun, hasil survei tersebut merupakan potret preferensi publik pada saat survei dilakukan, bukan kepastian mengenai kandidat Pilpres 2029.
FT juga mencatat persoalan lain yang akan dihadapi Dedi apabila suatu saat benar-benar masuk ke arena politik nasional, termasuk rekam jejak kebijakan selama memimpin Jawa Barat.
Sejumlah kebijakan Dedi yang kontroversial kembali disorot, termasuk gagasan penanganan anak bermasalah melalui lingkungan militer dan usulan vasektomi bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah yang menerima bantuan pemerintah.
Dedi Mulyadi sendiri telah berkomentar perihal namanya yang dikaitkan dengan Pilpres 2029. Ia menegaskan fokusnya saat ini masih pada tugas sebagai Gubernur Jawa Barat dan mengaku belum memikirkan agenda politik yang terlalu jauh.
"Kita lagi mikir bagaimana jadi Gubernur yang sukses. Tidak mikir yang lain," kata Dedi saat diwawancarai di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Selasa (22/9/2026).
"Pokoknya tidak ada, hari ini saya berfokus bekerja aja memberikan yang terbaik. Kita belum mikir terlalu jauh," sambungnya.
(bba/yum)
