Angin laut berembus pelan, membawa aroma garam yang khas, namun ada yang berbeda saat kaki menginjakkan selasar Pantai Ketapang di Desa Juntinyuat, Kabupaten Indramayu.
Alih-alih hanya disambut hamparan pasir, mata pengunjung justru dimanjakan oleh gradasi warna-warni dari taman bunga yang tertata rapi serta rimbunnya pepohonan hijau yang menyejukkan.
Pantai ini seolah mendobrak citra pesisir utara yang identik dengan cuaca terik. Di sini, perpaduan panorama laut lepas, taman bunga, dan area perkebunan menciptakan harmoni alam yang menyegarkan. Suasana asri ini membuat siapa pun betah berlama-lama menghirup udara segar di tengah lanskap hijau yang bersinggungan langsung dengan ombak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Acong, pengelola Pantai Ketapang, menuturkan bahwa konsep ini memang sengaja dirancang untuk memberikan pengalaman berbeda bagi para pelancong. Ia ingin Pantai Ketapang menjadi paket lengkap bagi mereka yang mendambakan ketenangan sekaligus keindahan visual.
"Kami ingin menghadirkan suasana yang berbeda. Jadi pengunjung tidak hanya menikmati pantai, tetapi juga bisa bersantai sambil melihat taman bunga dan area perkebunan yang hijau," ujarnya kepada detikJabar belum lama ini.
Keunikan estetika ini tak pelak menjadikan Pantai Ketapang sebagai magnet bagi para pemburu foto. Sudut-sudut taman yang cantik, latar belakang laut biru, hingga hijaunya perkebunan menjadi spot favorit untuk mengabadikan momen dalam bingkai kamera.
Pantai Ketapang Indramayu Foto: Burhannudin/detikJabar |
Menariknya, kemewahan visual ini bisa dinikmati tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam. Pengelola menetapkan tarif masuk yang sangat terjangkau, yakni Rp5 ribu pada hari biasa dan Rp7 ribu saat akhir pekan. Bagi yang membawa sepeda motor, biaya parkirnya hanya Rp2 ribu.
Dengan harga tersebut, fasilitas yang didapat tergolong lengkap. Mulai dari area bermain anak, gazebo untuk bersantai, tikar gratis, hingga fasilitas penunjang seperti musala dan deretan warung kuliner. Acong pun memastikan bahwa pengembangan kawasan ini tidak akan berhenti di sini.
"Ke depan kami akan menambah fasilitas menarik agar pengunjung semakin betah berlama-lama di sini," kata Acong.
Popularitas pantai ini terus menanjak. Setiap harinya, arus wisatawan tak pernah sepi, bahkan saat akhir pekan jumlahnya bisa melonjak hingga lebih dari 500 orang. Fenomena ini didominasi oleh generasi muda yang datang demi konten media sosial yang estetik.
"Sebagian besar pengunjung merupakan kalangan muda yang gemar berburu foto dan membuat konten media sosial. Mereka biasanya menghabiskan waktu hingga menjelang sore untuk menikmati suasana pantai," ujar Acong.
Salah satu pengunjung, Arif (22), warga Desa Tinumpuk, mengaku terpesona dengan konsep "pantai rasa taman" ini. Baginya, berjalan di antara bunga-bunga sambil mendengarkan deru ombak memberikan sensasi relaksasi yang jarang ditemukan di tempat lain.
"Di sini saya bisa menikmati lorong taman bunga dengan suara ombak, kemudian saya juga bisa duduk di taman bunga sambil menghadap laut, enak banget kalau sore buat nongkrong sama doi," tuturnya.
Lain lagi dengan Juki (29). Warga Desa Juntikedokan ini memilih Pantai Ketapang sebagai pelarian singkat dari rutinitas. Baginya, sekadar merebahkan diri di gazebo sambil memandang laut sudah cukup untuk mengisi ulang energi.
"Padahal, mah, nyampe sini tidur-tiduran di gazebo. Di rumah juga bisa tidur-tiduran, tapi lebih enak di sini," ungkap Juki.
Pada akhirnya, Pantai Ketapang bukan sekadar destinasi wisata air. Ia adalah ruang temu antara birunya laut dan hijaunya daratan, sebuah oase di pesisir Indramayu yang menawarkan ketenangan dalam setiap sudutnya.

