Kasus influenza A tengah menjadi perhatian setelah Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melaporkan adanya peningkatan aktivitas influenza di Indonesia. Salah satu yang terdeteksi adalah influenza A (H3N2) subclade K yang belakangan ramai disebut 'Super Flu'.
Kondisi tersebut turut mendapat perhatian di Jawa Barat. Dinas Kesehatan Jabar mengakui adanya peningkatan laporan kasus gangguan saluran pernapasan, termasuk yang berkaitan dengan influenza.
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Vini Adiani Dewi, mengatakan peningkatan tersebut terpantau dalam sistem pelaporan kesehatan di tingkat provinsi. Namun, angkanya masih berada di bawah batas maksimal yang ditetapkan dalam pemantauan.
"Memang ada peningkatan ya, sakit influenza itu masuk kepada sistem pelaporan yang harus disampaikan kepada provinsi ya," kata Vini, Selasa (22/9/2026).
Menurut Vini, kenaikan laporan gangguan saluran pernapasan mulai terlihat setelah kasus abu vulkanik Gunung Anak Krakatau beberapa waktu lalu. Pemantauan dilakukan melalui dua kelompok laporan, yakni influenza-like illness (ILI) dan severe acute respiratory infection (SARI).
"Pelaporannya memang ada peningkatan nih sejak kasus yang abu vulkanik itu ya, peningkatan saluran pernapasan ini baik di SARI ataupun di ILI. Peningkatannya tapi masih di bawah batas maksimal," ujarnya.
Ia juga mengakui ada kecenderungan kenaikan kasus pasien influenza di sejumlah rumah sakit di Jawa Barat, meski ia tidak memastikan seluruhnya terpapar influenza A.
"Tapi memang betul di rumah sakit-rumah sakit itu sekarang cenderung lebih ke arah influenza tipe A," katanya.
Gejala Influenza A
Vini menjelaskan influenza A memiliki gejala yang dapat terasa lebih berat dibandingkan flu biasa. Pasien influenza A umumnya mengalami demam tinggi yang disertai sejumlah gejala lain.
"Di mana bedanya dengan flu biasa, kalau flu biasa kan tiga hari gejalanya tidak begitu berat ya, dan dalam tiga hari itu ada perbaikan. Untuk influenza tipe A memang pasien itu biasanya mengeluh demam tinggi, ya bisa di atas 40 derajat. Lalu ada lemas, batuk, pilek, pegal-pegal gitu ya," jelasnya.
Meski begitu, Vini menekankan influenza A sama-sama merupakan infeksi saluran pernapasan yang disebabkan virus. Kondisi seseorang juga sangat dipengaruhi daya tahan tubuh dan penyakit penyerta yang dimiliki.
"Tapi sama, influenza tipe A ini sama seperti COVID, itu infeksi saluran pernapasan, artinya penyebabnya virus. Dengan daya tahan tubuh yang bagus, itu bisa kita atasi ya," ungkapnya.
Vini mengatakan kelompok rentan tetap perlu mendapat perhatian. Anak-anak, lanjut usia, serta orang dengan penyakit penyerta berisiko mengalami kondisi yang lebih berat apabila terinfeksi, sama seperti kasus COVID-19.
"Jadi karena influenza tipe A ini cenderung penularannya memang cepat ya, jadi lebih baik memang masyarakat melakukan antisipasi perilaku hidup bersih dan sehat serta menjaga protokol kesehatan yang dulu pernah kita lakukan ya ketika pada saat pandemi COVID itu," ucap Vini.
"Bedanya lagi mungkin dulu waktu COVID pada saat Delta kan menyebabkan kematian ya. Kalau ini sebetulnya tidak menyebabkan kematian, tapi ketika misalnya daya tahannya kurang bagus, lalu pada kelompok usia rentan misalnya anak-anak, lanjut usia, punya penyakit yang berat, ya khawatirnya jadi menjadi berat karena tadi punya penyakit dasar," lanjutnya.
Belum Ada Data Spesifik Influenza A per Daerah
Terkait sebaran influenza A secara spesifik di Jawa Barat, Vini mengatakan pihaknya belum memiliki data lengkap mengenai daerah dengan kasus terbanyak. Hal itu salah satunya disebabkan pemeriksaan khusus influenza A membutuhkan biaya sehingga tidak semua pasien menjalani swab.
"Kalau influenza tipe A belum karena kan pemeriksaannya cukup mahal ya. Jadi rata-rata orang malas ya melakukan swab kan kayak dulu waktu COVID ya. Jadi rata-rata tidak dilakukan pemeriksaan. Kalau untuk pemeriksaan khusus influenza tipe A Ibu belum dapet datanya," tuturnya.
Namun, berdasarkan pemantauan kasus infeksi saluran pernapasan secara umum, terdapat peningkatan di sejumlah wilayah Jawa Barat, salah satunya di Depok dan Bogor.
"Tapi kalau untuk saluran pernapasan itu terbanyak itu ternyata memang daerah-daerah yang berdekatan dengan letusan gunung. Depok kemarin yang agak tinggi, Kabupaten Bogor, itu meningkat. Tapi kalau influenza tipe A nanti cari dulu ya datanya," bebernya.
Vini juga menyebut adanya peningkatan okupansi rumah sakit. Namun, Dinkes Jabar belum dapat memastikan kenaikan tersebut secara khusus disebabkan influenza A.
"Memang ada ya, cuman kalau signifikan apakah karena itu (influenza A) nggak juga ya, maksudnya belum ada data yang menyampaikan hal tersebut. Kalau kami mengambilnya keseluruhan, jadi tidak dirawat, dirawat pokoknya yang ada gejala influenza itu masuk ke pelaporan kita," kata Vini.
Dinkes Jabar Imbau Warga Jaga Kondisi Tubuh
Di tengah peningkatan kasus saluran pernapasan, masyarakat diminta kembali menerapkan kebiasaan hidup bersih dan sehat. Vini mengingatkan masyarakat untuk menjaga asupan makanan, beristirahat cukup, dan mencuci tangan setelah beraktivitas di luar rumah.
"Jadi bagi masyarakat mari kita sama-sama untuk menjaga daya tahan tubuh kita dengan perilaku hidup bersih dan sehat. Artinya makan yang cukup, bergizi, istirahat cukup, terus cuci tangan jangan lupa kalau dari beraktivitas atau dari luar rumah," ujarnya.
Bagi warga yang sedang sakit, Vini menyarankan penggunaan masker untuk mengurangi risiko penularan, termasuk ketika berada di rumah.
"Bila perlu untuk yang sakit lebih baik memakai masker. Dan bagi yang di rumah pun supaya tidak menular kepada orang rumah ya lebih baik pakai masker juga, karena influenza tipe A ini memang menularnya cepat gitu ya, mudah menularkan," terangnya.
Jika muncul tanda infeksi yang lebih berat, seperti gejala yang mengarah pada infeksi paru-paru atau pneumonia, masyarakat diminta segera mendapatkan pemeriksaan medis.
"Lalu juga kalau misalnya yang paling parah itu harus berobat ke rumah sakit apabila ada tanda-tanda infeksi paru-paru misalnya atau pneumonia. Nah, ini baru disarankan untuk datang berobat ke rumah sakit gitu," pungkasnya.
(bba/orb)