Fakta Influenza A: Gejala, Penularan hingga Cara Mencegahnya

Fakta Influenza A: Gejala, Penularan hingga Cara Mencegahnya

Nur Khansa Ranawati - detikJabar
Sabtu, 19 Sep 2026 19:00 WIB
Ilustrasi menderita Influenza A.
Ilustrasi menderita Influenza A. (Foto: Gemini AI Ilustrasi menderita Influenza A)
Bandung -

Saat ini, kasus infeksi virus Influenza A tengah menjadi perhatian di Indonesia. Linimasa media sosial dalam beberapa pekan terakhir dipenuhi kabar mengenai maraknya anak yang dirawat inap akibat penularan Influenza A.

Terkait hal ini, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Barat, Anggraini Alam mengatakan bahwa kenaikan kasus infeksi Influenza A dialami di sejumlah rumah sakit rujukan, termasuk di Kota Bandung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, ia menjelaskan, naiknya kasus di sejumlah rumah sakit rujukan di kota besar sejauh ini belum mencerminkan adanya kenaikan kasus secara nasional.

"Bila dibandingkan dengan data September 2025, tahun ini hingga 10 September 2026 belum terlihat ada lonjakan kasus yang tinggi. Tapi kita perlu waspada karena sudah ada kenaikan kasus di negara tetangga," ungkap Anggraini dalam paparannya via zoom, Jumat (18/9/2026).

ADVERTISEMENT

Beberapa negara di Asia Tenggara yang tengah mengalami lonjakan kasus Influenza A pada September 2026 di antaranya meliputi Malaysia, Filipina, hingga Singapura. Hal ini, ia mengatakan, harus menjadi perhatian mengingat lalulintas penerbangan yang tinggi antara Indonesia dengan negara-negara tersebut.

"Yang paling signifikan itu Singapura, kenaikan kasusnya hingga 37%. Kita harus waspada karena hal ini berarti Indonesia jadi berpotensi ikut mengalami peningkatan kasus," jelasnya.

Apa Itu Influenza A?

Influenza A merupakan salah satu tipe virus influenza yang dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan. Virus ini memiliki kemampuan untuk mengalami mutasi dengan sangat cepat.

Influenza A juga tidak hanya ditemukan pada manusia. Virus tersebut dapat menginfeksi sejumlah hewan, termasuk babi.

"Influenza A ini harus diwaspadai karena cepat sekali bermutasi, tidak hanya di manusia saja tetapi di hewan juga, terutama pada babi. Virus ini juga sifatnya berpotensi menyebabkan pandemi," jelasnya.

Ia menjelaskan, Influenza A dapat menyerang berbagai kelompok usia. Namun, anak-anak, lansia, ibu hamil, hingga orang dengan penyakit kronis menjadi kelompok yang lebih rentan.

"Semua orang berpotensi untuk terinfeksi Influenza A, tapi yang paling rentan adalah anak-anak, ibu hamil, dan orang dengan penyakit kronis," jelasnya.

Apa Bedanya Influenza A dengan Selesma dan COVID-19?

Influenza A sering dianggap sama dengan selesma atau common cold karena sama-sama dapat menyebabkan batuk dan pilek, juga demam. Namun, influenza umumnya menimbulkan gejala yang lebih berat dan muncul lebih cepat.

Demam tinggi, badan terasa sakit dan linu, lemas dan nafsu makan menurun dapat muncul dalam waktu berdekatan.

Sementara selesma biasanya lebih ringan dengan keluhan yang lebih fokus di area kepala seperti hidung berair atau tersumbat dan batuk.

"Kalau influenza biasanya onset-nya lebih cepat, kemudian demamnya tinggi, badan sakit, nafsu makan turun. Kalau selesma biasanya lebih ringan," ujar Anggraini.

Influenza juga memiliki sejumlah gejala yang mirip dengan COVID-19. Demam, batuk dan gangguan pernapasan dapat ditemukan pada keduanya sehingga gejala saja tidak selalu cukup untuk menentukan virus penyebab infeksi.

"Tapi kalau sudah ada gangguan penciuman atau mata yang bengkak atau memerah, juga ruam pada tubuh, itu biasanya lebih mengarah ke COVID-19," ungkapnya.

Virus Influenza A juga disebut memiliki masa inkubasi yang sangat cepat, bahkan lebih cepat dibanding COVID-19.

Gejala Infeksi Influenza A

Influenza A dapat muncul secara mendadak dengan sejumlah gejala yang cukup khas. Gejala yang dapat dialami antara lain:

  • Demam
  • Badan terasa sakit atau pegal
  • Sakit tenggorokan
  • Batuk kering
  • Tenggorokan terasa gatal
  • Lemas
  • Nafsu makan menurun

Batuk pada influenza juga dapat terasa cukup mengganggu karena tenggorokan mengalami iritasi.

"Batuknya itu kadang rasanya gatal dan seret, seperti ada pasir di tenggorokan," kata Anggraini.

Pada fase awal, keluhan dapat terasa cukup berat. Setelah beberapa hari, kondisi umumnya mulai berangsur membaik, meskipun batuk dan rasa lemas dapat bertahan lebih lama pada sebagian pasien.

"Puncaknya di hari keempat dan kelima, pemulihan biasanya dimulai di hari kedelapan. Tapi bisa juga berlangsung sampai 2 minggu lebih," jelasnya.

Bisa Sebabkan Komplikasi

Influenza tidak selalu berakhir sebagai penyakit ringan. Pada sebagian orang, infeksi dapat berkembang menjadi komplikasi, terutama pada kelompok yang rentan.

Komplikasi influenza dapat berkaitan dengan saluran pernapasan, tetapi dampaknya juga dapat mengenai organ lain. Anggraini mengatakan influenza dapat berkaitan dengan gangguan pada jantung hingga sistem saraf.

"Influenza itu paling sering menyebar ke saluran napas, tapi tidak melulu jadi pneumonia. Bisa juga mengenai jantung, kemudian bisa mengenai otak meskipun persentasenya lebih kecil," tuturnya.

Perubahan perilaku, kejang atau gangguan kesadaran pada anak yang sedang mengalami influenza merupakan kondisi yang membutuhkan perhatian medis.

Bagaimana Influenza A Menular?

Anggraini mengatakan, Influenza A dapat menular melalui percikan dari saluran pernapasan orang yang terinfeksi.

Penularan juga dapat terjadi secara tidak langsung melalui kontak tangan atau permukaan benda yang terkontaminasi cairan droplet.

Seseorang dapat menyentuh benda yang mengandung virus, kemudian menyentuh hidung, mulut atau mata. Karena itu, benda yang sering disentuh bersama seperti gagang pintu, meja hingga perangkat elektronik dapat menjadi salah satu media perpindahan virus.

"Risiko penularan lebih besar ketika seseorang berada di tempat ramai, terutama ruangan tertutup dengan ventilasi yang kurang baik," ungkapnya.

Penggunaan AC sendiri, ia mengatakan, bukan penyebab seseorang terkena influenza. Yang perlu diperhatikan adalah kondisi ruangan dan sirkulasi udaranya.

"Yang bermasalah itu bukan AC nya, tapi adanya orang yang sakit di ruangan tersebut. Karena kalau pakai AC kan biasanya pintu dan jendela ditutup, jadi tidak ada ventilasi," paparnya.

Benarkah Influenza A Lebih Subur Saat Musim Kemarau?

Indonesia merupakan negara tropis sehingga influenza dapat beredar sepanjang tahun. Namun, influenza A, ia mengatakan, justru cenderung lebih marak muncul di musim hujan.

"Semakin dekat khatulistiwa, maka segalanya makin subur termasuk virus-virusnya. Influenza ini siklusnya tahunan tapi lebih marak di musim hujan dibanding kemarau," paparnya.

Dari penilitian terbaru yang menelisik 1 juta kasus influenza, ia menjelaskan bahwa sinar ultraviolet dari matahari juga memiliki pengaruh terhadap keberlangsungan virus di lingkungan.

"Penelitian terbaru di 2026 menunjukan bahwa sinar matahari berlimpah justru mengurangi kasus influenza. Artinya radiasi sinar ultraviolet yang masuk ke negara kita justru terbukti memberikan efek protektif (terhadap influenza)," jelasnya.

Cara Mencegah Influenza A

Menurut Anggraini, pencegahan Influenza A dapat dilakukan melalui vaksinasi dan menjaga kecukupan nutrisi. Setelah itu, perilaku hidup bersih dan sehat atau PHBS juga sangat penting dilakukan.

1. Vaksin Influenza

Vaksinasi merupakan salah satu cara memberikan perlindungan terhadap influenza. Vaksin influenza dapat diberikan mulai usia 6 bulan dan memberikan perlindungan terhadap virus influenza tipe A maupun B.

Anggraini mengatakan vaksin influenza tidak memberikan perlindungan 100 persen dari infeksi. Namun, vaksin dapat membantu memberikan perlindungan dan menurunkan risiko penyakit yang berat.

"Vaksin itu proteksinya sekitar 40 sampai 60 persen dan diberikan setiap tahun. Bisa diberika mulai anak usia 6 bulan," ujar Anggraini.

Tubuh juga membutuhkan waktu setelah vaksinasi untuk membentuk respons perlindungan.

"Biasanya efek proteksinya muncul dalam 2 minggu setelah vaksinasi," ungkapnya.

2. Penuhi Kebutuhan Vitamin dan Mineral

Selain vaksin, kecukupan nutrisi juga perlu diperhatikan. Anggraini mengatakan vitamin C, vitamin D dan zinc dapat diberikan sesuai kebutuhan harian untuk meningkatkan imunitas tubuh.

Pemberiannya tidak perlu berlebihan karena dosis tinggi bukan berarti memberikan perlindungan yang lebih baik.

"Vitamin C, vitamin D, zinc itu bisa diberikan sesuai kebutuhan. Tapi tetap dalam batas kebutuhan harian," katanya.

Kebutuhan vitamin dan mineral dapat diperoleh dari makanan sehari-hari. Zinc, misalnya, terdapat dalam berbagai sumber makanan termasuk telur dan sumber protein lainnya.

3. Terapkan PHBS

Pencegahan juga dapat dilakukan dengan menerapkan PHBS. Mulai dari mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, menerapkan etika batuk dan bersin serta tidak menyentuh mata, hidung dan mulut dengan tangan yang kotor.

(sud/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads