Marak Gejala Mirip Influenza A, Warga Kuningan Diminta Waspada

Marak Gejala Mirip Influenza A, Warga Kuningan Diminta Waspada

Fahmi Labibinajib - detikJabar
Selasa, 29 Sep 2026 23:30 WIB
RSUD 45 Kuningan
RSUD 45 Kuningan (Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar)
Kuningan -

Lonjakan kunjungan pasien di sejumlah rumah sakit di Kabupaten Kuningan memicu kekhawatiran masyarakat terkait potensi merebaknya Influenza A. Salah satu peningkatan signifikan terpantau di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) 45 Kuningan dalam beberapa hari terakhir.

Kepala Bidang Pelayanan RSUD 45 Kuningan, Yanuar Firdaus Sukardi, mewakili Direktur Deki Syaifulloh, mengonfirmasi adanya tren kenaikan pasien yang cukup tajam pada bulan September ini.

"Untuk di Rumah Sakit 45 sendiri, rawat inap itu sekitar 21% peningkatannya pada bulan September. Kemudian untuk rawat jalan kurang lebih hampir 40%, dan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) kurang lebihnya hampir 60%. Untuk rawat jalan, sampai tanggal 28 itu kurang lebih sudah hampir 7.000 orang. Itu kunjungan berbagai macam penyakit di semua poli, bukan hanya penyakit itu tertentu. Kemudian di UGD kurang lebih sudah tembus sampai 2.000 lebih," tutur Yanuar, Selasa (29/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yanuar menjelaskan bahwa mayoritas pasien yang datang didominasi oleh anak-anak dengan keluhan medis yang mengarah pada gejala infeksi saluran pernapasan.

ADVERTISEMENT

"Nah, itu 10 yang terbesar tuh arahnya ya arah ISPA lah, Infeksi Saluran Pernapasan Akut. Nah, bisa aja kan Influenza juga masuk ke sana, common cold, faringitis, tonsilitis, banyaklah gitu. Kalau yang rawat inap dan sudah pulang sampai tanggal 20-an kemarin, ada 111 kasus. Gejalanya ada demam, batuk pilek, nyeri menelan, nyeri otot, pusing, dan biasanya ada yang disertai dengan diare. Apabila punya masalah rinitis atau gangguan saluran napas, bisa menyebabkan sesak. Kumpulan gejala tersebut mengarahnya ke suspect Influenza tipe A," tutur Yanuar.

Guna mengantisipasi lonjakan yang terus berlanjut, manajemen RSUD 45 telah mengambil langkah taktis dengan menambah ketersediaan tempat tidur (bed) serta memperkuat komunikasi dengan jaringan fasilitas kesehatan di wilayah sekitar.

"Kapasitas total kita ada 204 bed untuk seluruh ruang rawat. Penuhlah. Dan kita juga dengan kebijakan pimpinan menambah beberapa tempat tidur untuk rawat inap, terutama untuk kasus-kasus yang banyak di anak. Kita selalu berkomunikasi dan berkoordinasi dengan rumah sakit-rumah sakit penyangga sekitar. Apabila kita sudah tidak ada bed atau penuh, kita berkontak untuk dirujuk ke rumah sakit lain," tutur Yanuar.

Di sisi lain, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan, Edi Martono, menegaskan bahwa fenomena peningkatan kasus ISPA ini belum bisa dikategorikan secara resmi sebagai Influenza A. Ia menekankan perlunya uji laboratorium spesifik untuk memastikan jenis virus tersebut.

"Dinas Kesehatan sedang melakukan pemantauan melalui surveilans dan fasilitas pelayanan kesehatan. Peningkatan kunjungan pasien dengan gejala influenza/ISPA belum dapat seluruhnya dikategorikan sebagai Influenza A sebelum dilakukan pemeriksaan. Belum ada angka resmi terbaru yang dapat dipertanggungjawabkan untuk jumlah kasus Influenza A terkonfirmasi di Kabupaten Kuningan per 29 September 2026. Karena harus dilakukan pemeriksaan di laboratorium yang biayanya tidak murah," tutur Edi.

Edi mengedukasi bahwa Influenza A memiliki karakteristik yang berbeda dengan tipe B, terutama karena memiliki banyak subtipe dan mampu menginfeksi berbagai jenis hewan.

"Influenza A berbeda dengan influenza B karena Influenza A memiliki banyak subtipe dan juga dapat ditemukan pada berbagai jenis hewan. Subtipe Influenza A yang umum beredar pada manusia antara lain H1N1 dan H3N2. Yang penting dipahami, istilah "Influenza A" tidak otomatis berarti flu burung atau penyakit yang lebih berbahaya. Influenza A memiliki banyak jenis. Ada yang memang merupakan influenza musiman yang biasa beredar di masyarakat, sementara beberapa jenis lainnya berasal dari hewan dan memerlukan kewaspadaan khusus," tutur Edi.

Mengingat pola penularannya melalui percikan droplet saat batuk atau bersin, Edi meminta masyarakat untuk memperketat protokol kesehatan, terutama bagi kelompok yang rentan secara fisik.

"Karena itu, orang yang sedang sakit sebaiknya menggunakan masker, mengurangi kontak dekat dengan orang lain, menerapkan etika batuk dan bersin, serta menjaga kebersihan tangan. Masyarakat tidak perlu panik. Namun kewaspadaan tetap diperlukan, terutama apabila muncul demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, nyeri otot, atau kondisi tubuh yang memburuk. Kelompok rentan seperti anak kecil, lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit penyerta perlu mendapatkan perhatian lebih," tutur Edi.

Dinas Kesehatan juga menginstruksikan seluruh jajaran petugas medis di Puskesmas maupun rumah sakit untuk memperkuat sistem surveilans dan kewaspadaan dini. Investigasi lapangan harus segera dilakukan jika ditemukan klaster penyebaran di lingkungan komunal seperti sekolah atau pesantren.

"Pastikan ketersediaan obat, oksigen dan kesiapan tempat tidur untuk kasus berat. Edukasi sekolah dan masyarakat agar anak yang sedang sakit tidak dipaksakan masuk sekolah. Koordinasikan pelaporan antara Puskesmas-RS-Dinkes agar data kunjungan, suspek, pemeriksaan laboratorium dan kasus terkonfirmasi tidak tercampur," pungkas Edi.



(dir/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads