Belakangan ini tengah ramai pembahasan mengenai kasus Influenza A yang mulai memberikan rasa khawatir bagi warga Bandung. Meski begitu, detikers diimbau untuk tidak panik berlebihan dan selalu memperhatikan imbauan yang diberikan pemerintah.
Selain itu, ada beberapa hal juga yang mesti diketahui sebelum akhirnya mendiagnosis apakah itu Influenza A atau hanya flu biasa, mulai dari perbedaan gejala, masa inkubasi, dan sejauh mana bahaya dari kedua penyakit tersebut.
Simak lebih jelas pembahasannya di bawah agar tidak salah paham dan tidak mudah terbawa rasa panik dari lingkungan atau orang terdekat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Memahami Gejala Influenza A dan Flu Biasa
Jika detikers berpikir kalau gejala untuk Influenza A dan flu biasa itu sama maka harus sedikit diluruskan, karena keduanya memiliki perbedaan. Gejala influenza A dan flu biasa itu memiliki perbedaan dalam hal kecepatan munculnya, tingkat parah, serta jenis keluhan yang dirasakan.
Lebih spesifik, untuk gejala influenza A kemunculannya lebih mendadak dan cepat, bahkan bisa dalam hitungan jam. Sedangkan gejala flu biasa prosesnya bertahap, bisa dalam kurun waktu 1-2 hari. Dari segi demam pun untuk influenza akan lebih terlihat jelas, karena suhu akan mengalami peningkatan mendadak di rentang 38°C - 40°C, dan ini berlangsung dalam 3-4 hari. Sedangkan flu biasa rasa demam jarang terjadi, jika ada suhunya rendah.
Penyakit influenza A sendiri akan memberikan rasa nyeri otot dan sendi yang sangat hebat, seperti tubuh terasa pegal di sekujur badan. Sedangkan flu biasa rasa nyerinya lebih ringan atau bahkan tidak ada.
Dari segi rasa lelah dan lemas pun untuk penderita influenza A akan lebih ekstrem, penderita biasanya langsung ambruk dan ingin berbaring. Lain hal bagi penderita flu biasa, rasa lelah dan lemasnya ringan alias penderita biasanya masih bisa beraktivitas.
Rasa sakit kepala untuk penderita influenza A sangat intens dan cukup mengganggu, berbeda dengan penderita flu biasa yang jarang terjadi atau hanya pusing ringan. Kemudian bagi penderita influenza munculnya rasa pilek dan bersin tidak sangat dominan seperti penderita flu biasa yang hidungnya akan terasa lebih meler dan tersumbat sejak awal.
Batuk kering yang persisten dan terasa berat akan lebih dialami oleh influenza A, untuk flu biasa batuknya ringan dan terkadang berdahak. Dari segi pencernaan pun bisa disertai mual, muntah, atau diare, karena bagi penderita flu biasa sangat jarang terjadi.
Apakah Masa Inkubasinya Memiliki Kesamaan?
Masa inkubasi atau waktu munculnya gejala untuk penyakit influenza A dan flu biasa memiliki kesamaan yang sangat besar, pasalnya dari durasi virus masuk ke dalam tubuh hingga masa inkubasi pada kedua penyakit itu sangat mirip dan saling beririsan, sehingga sulit dibedakan hanya dari hitungan hari sejak kemunculan gejalanya.
Bila dibandingkan keduanya, durasi rentang waktu untuk penyakit influenza A umumnya berada di rentang 1 hingga 4 hari, sedangkan flu biasa berada di 12 jam hingga 3 hari, tapi tidak dipungkiri durasi itu bisa memanjang hingga 7 hari tergantung jenis virusnya.
Penyebab utama terjangkitnya influenza A disebabkan oleh virus subtype H1N1 atau H3N2. Lain hal untuk flu biasa yang penyebab utamanya disebabkan oleh lebih dari 200 jenis virus, dan yang paling sering adalah Rhinovirus, Coronavirus musiman, atau Adenovirus.
Sebagaimana disampaikan sebelumnya jika karakteristik kemunculan gejala influenza A ini sangat mendadak. Penderita bisa merasa sehat di pagi hari, dan langsung jatuh sakit parah dengan demam tinggi beberapa jam kemudian. Dibandingkan dengan flu biasa, proses gejalanya muncul secara perlahan-lahan, diawali dengan tenggorokan gatal/sakit, diikuti bersin dan pilek.
Jika detikers berpikir kenapa rentang waktu inkubasinya memiliki kesamaan? Alasannya karena kedua penyakit ini menyerang organ target yang sama, yaitu sistem pernapasan manusia.
Seberapa Berbahaya Influenza A?
Influenza A memang jauh lebih berbahaya dibandingkan flu biasa karena serangannya menyerang saluran pernapasan lebih dalam dan berpotensi memicu komplikasi fatal seperti pneumonia, bronkitis parah, hingga kegagalan organ.
Meski terdengar menakutkan, warga Bandung tidak perlu cemas berlebihan karena infeksi ini umumnya dapat sembuh tuntas dalam kurun waktu satu hingga dua minggu asalkan daya tahan tubuh terjaga dan penanganannya tepat.
Ancaman bahaya paling besar hanya mengintai kelompok rentan seperti bayi di bawah usia dua tahun, lansia di atas 65 tahun, ibu hamil, serta penderita penyakit bawaan seperti asma, diabetes, atau gangguan jantung.
Bagi penderita yang sehat, kekebalan tubuh biasanya mampu melawan infeksi ini secara alami dengan istirahat penuh dan asupan nutrisi yang cukup tanpa harus dirawat di rumah sakit.
Warga cukup waspada terhadap tanda bahaya darurat, seperti sesak napas, demam tinggi yang tidak kunjung turun setelah tiga hari, nyeri dada terus-menerus, atau kondisi tubuh yang tiba-tiba linglung dan sangat lemas.
Jika tanda-tanda darurat tersebut muncul, segera datangi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan medis dan penanganan obat antivirus yang terbukti efektif bila diberikan sejak dini.
(orb/orb)
