Pagi itu sinar mentari di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN SGD) Bandung cukup hangat. Tepat Tanggal 12 September 2026, 1.248 mahasiswa di kampus hijau itu diwisuda. Prosesi wisuda ke-109 itu digelar di Aula Anwar Musaddad.
Pelaksanaan wisuda berlangsung khidmat. Peserta wisuda meninggalkan gedung dan bertemu dengan sanak keluarga yang sudah sejak pagi menunggu di luar gedung.
Hal itupun dilakukan oleh Muhammad Hakim, mahasiswa Jurusan Bahasa Arab, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Pria yang lahir di Cirebon 25 tahun lalu langsung disambut oleh sang ibu, istri, kakak, dan keponakannya.
Lain dengan wisudawan lainnya, Hakim atau yang karib disapa Kak Hakim langsung membuka sebuah tas makeup. Pria yang menghabiskan masa tumbuhnya di Bandung, terhitung sejak ia pertama kali masuk TK itu langsung berdandan.
Wajah Kak Hakim yang semula polos kini dirias makeup badut lengkap dengan ekspresi tersenyum dan hidung merah bulat yang sangat lucu. Merias wajah menjadi badut bukan selebrasi belaka. Di balik riasan wajah badutnya, ada perjuangan besar yang tidak diketahui banyak orang. Profesi sebagai badut pesta menjadi penopang utama Kak Hakim dalam membiayai pendidikan tingginya. Sehingga di hari bahagianya, dia juga ingin membuat para wisudawan semakin bahagia dengan kehadirannya.
Usai merias wajahnya, Kak Hakim langsung berkeliling di kawasan kampus UIN SGD Bandung. Tidak sendiri, dia juga ditemani oleh empat rekan seprofesinya dan adik tingkatnya yang menggunakan cosplay badut karakter kartun. Mereka menyapa para wisudawan, membagikan bunga dan juga cokelat.
detikJabar berkesempatan berbincang dengan Kak Hakim. Kepada detikJabar, dia juga menunjukkan keahliannya dalam merias wajah dengan karakter badut tersenyum. Awalnya dia mengenakan bedak berwarna putih, setelah bedak diusapkan secara merata, dia langsung mengeluarkan lipstik berwarna merah dan mengoleskannya ke bagian pipi dan bibir. Setelah itu dia mengeluarkan pensil alis, membuat alis dan membuat garis di bagian bibir. Setelah itu, dia memasang hidung mainan berbentuk bulat dan berwarna merah.
"Alhamdulillah, enggak nyangka juga bakal seramai itu kontennya. Padahal cuma iseng-iseng buat kenang-kenangan," kata Kak Hakim membuka perbincangan terkait video wisudanya viral di media sosial.
"Jadi wisuda itu hari Sabtu, hari Minggu pagi saya nge-upload. Terus alhamdulillah semalam itu udah mulai ramai gitu di akun sendiri. Terus banyak yang repost, repost di media-media yang lain juga," tambahnya.
Kak Hakim mengisahkan, dia lulus pada tahun 2025 dan seharusnya wisuda sejak tahun 2025 lalu, namun karena ada urusan lain, dia baru bisa diwisuda pada awal Bulan September 2026 lalu.
"Jadi kemarin sempat tertunda karena di 2025 Kak Hakim alhamdulillah nikah. Terus sibuklah ngurus berkas-berkas nikah daripada revisian gitu. Terus alhamdulillah wisudanya kemarin, di tahun sekarang alhamdulillah bisa terlaksana," tuturnya.
Kak Hakim tidak malu, dia sebut penampilan badut yang dia kenakan saat momen wisuda merupakan bentuk kebanggaannya.
"Betul, pertama kebanggaan bahwa semua orang berhak bahagia, semua orang berhak merayakan pendidikan juga meskipun dalam keadaan apapun. Maksudnya tidak menjadi keterbatasan ketika tidak ada biaya. Tapi kalau misalnya di mana ada kemauan pasti ada jalan. Selain itu juga bentuk salah satu promosi. Karena kemarin Kak Hakim sempat membagi-bagikan kayak ucapan wisuda gitu," terangnya.
Jadi Badut Sejak Semester 3
Kak Hakim membenarkan jika profesinya merupakan badut pesta. Dia sudah menekuni profesi itu saat duduk di Semester 3. Profesi badut bukan profesi yang direncanakan, pekerjaan itu dia lakukan sejak ditinggal mendiang ayahnya pada 2021 lalu.
"Kebetulan untuk dunia badut ini saya dari 2021. Jadi dulu sambil kuliah di semester 3 dan sampai sekarang alhamdulillah masih berjalan. Berarti kurang lebih jalan 5 tahun menggeluti profesi ini," ujarnya.
Kak Hakim mengisahkan, saat menggeluti profesinya dia bergabung dengan komunitas yakni Perkumpulan Badut Jawa Barat (PBJB). Dia banyak belajar dengan badut senior bernama Bang Jack dan melalui komunitas itu, ia diajarkan cara mengaplikasikan tata rias, berkomedi di depan anak-anak, bermain sulap, serta memandu games dan ice breaking. Ia juga menambahkan bahwa teman-teman di komunitasnya rutin mengadakan workshop setiap tiga bulan sekali untuk belajar menjadi pembawa acara (MC) dan keterampilan lainnya.
"Kak Hakim itu jadi badut dari semester 3. Jadi dulu karena keterbatasan ekonomi, mungkin Kak Hakim dulu sempat daftar Bidikmisi enggak lolos, terus daftar KIP-K juga di tahun berikutnya enggak lolos. Nah, di situ sempat putus asa, kira-kira dapat dari mana ya buat UKT gitu," ungkapnya.
"Akhirnya mah Kak Hakim merenung terus sambil mikir-mikir cari sampingan kira-kira apa ya yang sesuai passion Kak Hakim. Dan alhamdulillah terbersitlah langsung kira-kira jadi badut ulang tahun lucu. Akhirnya Kak Hakim searching-lah di YouTube cara badutnya. Dulu Kak Hakim waktu awal badut zaman dulu, masih pakai wig kribo. Kalau sekarang udah pakai topi modern gitu," katanya menambahkan.
Disinggung terkait cara membagi waktu, Kak Hakim menyampaikan bahwa kesulitan dalam membagi waktu bergantung pada kebutuhan masing-masing, jika sedang membutuhkan uang, ia akan mengambil pekerjaan. Meskipun demikian, seluruh mata kuliahnya berhasil diselesaikan tepat waktu tanpa ada yang harus mengulang. Kendala utama dan perjuangannya justru terletak pada penyusunan skripsi yang sempat terbengkalai. Hal tersebut terjadi karena jadwalnya sering bentrok dengan aktivitas lain, ditambah adanya kesulitan karena skripsinya harus disusun menggunakan bahasa Arab secara penuh.
"Kak Hakim ambilnya jurusan Pendidikan Bahasa Arab, jadi skripsinya pakai bahasa Arab. Itu tuh jadi ya lumayan (hambatan), Ditambah ada beberapa kendala juga gitu," tuturnya.
Ingin Menjadi ASN
Kak Hakim menyebut, rencananya untuk dapat berhemat dan mencari pekerjaan yang lebih stabil. Ia menjelaskan bahwa seiring bertambahnya usia, ia berharap pada usia 50 atau 60 tahun sudah bisa beristirahat dan tidak perlu bekerja secara mobilitas tinggi. Oleh karena itu, ia berencana untuk mendaftar CPNS di masa mendatang.
Ia menegaskan bahwa rencana tersebut tidak akan membuatnya meninggalkan profesi badut pesta yang telah membesarkan namanya hingga saat ini. Jika nantinya lolos seleksi CPNS, ia berencana untuk menyaring pekerjaan badut yang dapat diambil pada akhir pekan. Dengan begitu, ia memiliki pekerjaan utama yang pasti, sementara profesi badut menjadi penghasilan tambahan di masa depan.
"Pernah rekor itu waktu bulan Juni ketika acara pentas seni anak TK. Karena kan banyak yang memakai jasa badut di acara tersebut. Kayak anak-anaknya tampil-tampilan, nah di akhirnya pamungkasnya tampil badut sulap gitu. Itu pernah dari Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu, Senin, Selasa, Rabu wah 2 minggu sampai suara tuh habis gitu lah," jelasnya sehingga dia berharap bisa mengubah nasib dengan menjadi ASN.
Ia menjelaskan bahwa dirinya tidak secara langsung mengumumkan profesinya sebagai badut kepada teman-temannya. Keberadaan profesi tersebut diketahui rekan-rekannya melalui unggahan status di Instagram, TikTok, dan WhatsApp saat ia sedang mengisi acara. Unggahan tersebut sekaligus dimanfaatkan sebagai sarana promosi, sehingga teman-teman atau kerabat mereka yang membutuhkan jasa badut untuk acara ulang tahun dapat menghubunginya. Informasi mengenai profesinya baru mulai banyak diketahui oleh teman-temannya saat memasuki semester akhir.
Beberapa dosen pun menyadari profesinya saat kegiatan bimbingan skripsi. Ketika ditanya alasan jarang hadir bimbingan, ia menjelaskan kegiatannya dan bahkan memberikan kartu nama kepada beberapa dosen.
Selain itu, ia menceritakan pengalamannya saat menjalani Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di Madrasah Ibtidaiyah (MI) sebagai mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Arab. Untuk menarik minat siswa, ia menerapkan metode pertunjukan sulap sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai tanpa menyebut dirinya sebagai badut. Anak-anak menjadi sangat antusias mengerjakan tugas agar dapat menyaksikan pertunjukan sulap tersebut.
"Untuk saat ini mungkin masih menggeluti bidang ini. Bahkan kemarin juga Kak Hakim baru beres ngisi acara khitanan, besok insya Allah ada ngisi acara kemping di Darul Hikam di daerah Dago. Jadi untuk ke depan mungkin saat ini masih menjalani profesi yang Kak Hakim banggakan ini, sambil nunggu pembukaan CPNS," jelasnya.
Kak Hakim menambahkan, jika pemirsa detikJabar khususnya yang tinggal di wilayah Bandung Raya untuk mengikuti akun media sosialnya yang bernama Badut Kak Hakim atau Badut Bandung Kak Hakim di Instagram dan TikTok. Ia menjelaskan bahwa penggunaan kata "Bandung" pada nama akunnya bertujuan sebagai identitas agar memudahkan masyarakat awam mencari jasa badut di area Bandung melalui mesin pencarian.
(wip/sud)