Laut Mediterania ternyata menyimpan risiko tsunami yang cukup serius. UNESCO memberikan peringatan bahwa peluang terjadinya tsunami dengan tinggi gelombang lebih dari 1 meter di salah satu titik kawasan Mediterania dalam 30 tahun ke depan "mendekati 100%".
Namun, angka tersebut bukan berarti seluruh wilayah Mediterania bakal langsung diterjang gelombang dalam waktu dekat. Pernyataan UNESCO ini lebih merujuk pada probabilitas bahwa setidaknya akan ada satu kejadian tsunami di lokasi tertentu di kawasan tersebut dalam periode tiga dekade.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melansir ScienceDaily, Rabu (16/9/2026), ancaman ini muncul akibat aktivitas tektonik yang masih terus berlangsung. Pergerakan antara Lempeng Afrika dan Eurasia bisa memicu gempa bawah laut. Selain itu, longsor bawah laut juga punya potensi besar menggeser volume air laut secara mendadak dan menciptakan tsunami.
Hal yang membuat ancaman ini semakin mengkhawatirkan adalah soal waktu kedatangan gelombang. Kawasan Riviera Prancis, termasuk Nice, menjadi salah satu titik yang paling diperhatikan. Jika sumber tsunami berada jauh di lepas pantai Afrika Utara, warga mungkin masih punya waktu sekitar 90 menit untuk menyelamatkan diri.
Masalahnya, jika pemicunya berasal dari Laut Liguria yang letaknya jauh lebih dekat, waktunya bakal sangat mepet. Dalam beberapa skenario, gelombang pertama diprediksi bisa mencapai bibir pantai hanya dalam waktu kurang dari 10 menit setelah pemicu terjadi.
Kondisi ini tentu menjadi tantangan besar bagi sistem peringatan dini. Pusat peringatan tsunami nasional Prancis, Cenalt, biasanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk mengirimkan peringatan kepada otoritas setelah mendeteksi gempa. Artinya, dalam skenario tsunami lokal yang sangat cepat, gelombang bisa saja tiba lebih dulu sebelum peringatan resmi sampai ke masyarakat.
Ancaman ini pun bukan sekadar simulasi di atas kertas. Riviera Prancis punya catatan sejarah kelam terkait tsunami, seperti yang terjadi pada 1887 akibat gempa di Laut Liguria. Peristiwa lain yang tak kalah membekas terjadi pada 1979, saat longsoran material dari proyek pembangunan pelabuhan di Nice masuk ke laut dan memicu gelombang besar.
Tragedi tahun 1979 tersebut mengakibatkan delapan orang meninggal dunia. Saat itu, air laut naik hingga 3,5 meter dan merangsek masuk sejauh 150 meter ke daratan. Karena waktu evakuasi yang sangat singkat, kesiapan masyarakat kini menjadi kunci utama dalam mitigasi bencana.
Saat ini, para peneliti dari University of Montpellier tengah mengembangkan model jalur evakuasi yang lebih matang. Mereka mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari kondisi jalan, kemiringan medan, kecepatan berjalan kaki, hingga potensi kepadatan massa. Sejumlah titik perlindungan juga sudah disiapkan agar masyarakat bisa segera meninggalkan area pesisir secepat mungkin saat bahaya mengintai.
Artikel ini sudah tayang di detikInet, baca selengkapnya di sini.
Simak Video "Video: Gempa M 7,4 Guncang Jepang, PM Jepang Minta Warganya Mengungsi"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)
