Tanpa Semen dan Bata, Intip 'Rumah Tanah' di Cimahi

Tanpa Semen dan Bata, Intip 'Rumah Tanah' di Cimahi

Whisnu Pradana - detikJabar
Sabtu, 05 Sep 2026 07:30 WIB
Rumah Tanah, hunian berkonsep natural building di Cimahi
Rumah Tanah, hunian berkonsep natural building di Cimahi (Foto: Whisnu Pradana/detikJabar)
Cimahi -

Di tengah padatnya lanskap Kota Cimahi dengan hunian berbentuk konvensional, sebuah rumah dua lantai di tengah lahan pribadi justru mengadopsi konsep natural building yang belum akrab di telinga masyarakat.

Alih-alih menggunakan material umum untuk membangun rumah, hunian milik pasangan suami istri Misbah (42) dan Fitria Ivana Pratita (42) ini menggunakan tanah dan bambu sebagai material utama bangunan mereka.

Tak ada struktur besi dan beton, pun tanpa menggunakan bata. Rumah yang berdiri di Jalan Pasantren, RT 02/RW 08, Kelurahan Cibabat, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi itu seolah mematahkan stereotip hunian konvensional yang selama ini tertanam di benak masyarakat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Untuk luas bangunan itu 92 meter persegi, semuanya dibangun dengan material utama tanah dan bambu sebagai fondasinya. Ini berawal dari keinginan saya punya rumah yang ramah lingkungan dengan material lokal," kata Misbah saat berbincang dengan detikJabar, Jumat (4/9/2026).

ADVERTISEMENT

Campuran tanah, pasir, serta jerami dengan perbandingan yang sudah dihitung Misbah secara rinci dan presisi, menggantikan racikan semen, pasir, dan air yang lazim menjadi material utama dinding rumah. Sementara itu, besi beton sebagai tulang bangunan digantikan oleh bambu yang sifatnya lebih lentur dan fleksibel.

"Canpuran material lokal tadi kemudian diaplikasikan untuk dinding dengan teknik dinding bertulang menggunakan anyaman bambu, fungsinya untuk menjaga agar material tanah tetap berdiri tegak," kata Misbah.

Pembangunan rumah di lahan pribadi itu melibatkan sejumlah pekerja, volunteer, hingga arsitek dari beberapa negara. Dalam praktiknya, keterlibatan berbagai pihak ini memantik kembali kebiasaan yang sudah lama memudar di masyarakat Tanah Air.

"Jadi banyak yang terlibat, selain tukang (pekerja bangunan) itu ada volunteer, teman-teman arsitek yang datang silih berganti. Akhirnya kegiatan ini memantik aktivitas gotong royong yang dulu jadi kebiasaan masyarakat kita," kata Misbah.

Rumah Tanah, hunian berkonsep natural building di CimahiRumah Tanah, hunian berkonsep natural building di Cimahi Foto: Whisnu Pradana/detikJabar

Material tanah dan jerami yang digunakan memberikan nuansa berbeda dibanding rumah konvensional. Karakteristik tanah yang mampu menyerap panas menjaga suhu ruangan tetap sejuk saat siang hari. Sebaliknya, saat malam dingin melanda, tanah yang menyimpan panas membuat bagian dalam rumah tetap hangat.

"Ada perbedaan suhu ruang dengan di luar rumah, misalnya kalau di musim panas ini bisa sampai 30 derajat nah di dalam rumah itu masih 26 derajat. Kalau malam, suhu udara bisa sampai 17 misalnya, nah di dalam rumah itu sekitar 21 sampai 22 derajat, jadi nyaman," kata Misbah.

Muncul pertanyaan di benak, bagaimana ketahanan konstruksi 'rumah tanah' ini ketika terjadi gempa bumi? Misbah mengklaim bahwa tulangan bambu yang menjadi penopang di dalam tanah mampu bergerak fleksibel mengikuti getaran saat gempa terjadi.

"Jadi saya sempat coba racikan tanah dicampur jerami dan tanah dengan pasir saja, hasilnya yang pakai jerami itu lebih aman enggak ada retak. Rumah saya waktu gempa kemarin juga aman, karena tulangan bambunya fleksibel," kata Misbah.

Rumah yang dibangun selama setahun itu tetap memerlukan biaya yang tak sedikit dalam prosesnya. Meskipun menurut Misbah, biaya yang dikeluarkan dapat tereduksi hingga 40 persen dibandingkan biaya pembangunan hunian konvensional.

"Biaya sekitar Rp300 jutaan, yang mahal itu justru material kayu seperti kusen pintu, jendela, sama furniture. Kalau material lokal seperti tanah, masih murah. Saya juga pakai tanah dari kolam yang digali di halaman sini. Total kebutuhannya sekitar 10 kubik, ditambah pasir dan jerami," ujar Misbah.

(iqk/iqk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads