Mars hampir selalu menjadi pilihan utama saat bicara soal rumah baru manusia di luar Bumi. Planet Merah dianggap sebagai kandidat paling realistis setelah Bulan. Namun, para ilmuwan kini mulai melirik potensi Venus sebagai destinasi alternatif.
Sekilas, Venus tampak seperti pilihan yang mustahil. Planet kedua dari Matahari ini memiliki lingkungan yang sangat ekstrem. Melansir detikInet, suhu permukaannya mencapai 465 derajat Celsius dengan tekanan atmosfer yang mampu menghancurkan peralatan dalam sekejap. Belum lagi awan tebal berisi asam sulfat yang menyelimutinya.
Meski permukaannya mematikan, kondisi Venus berubah drastis pada ketinggian tertentu. Sekitar 50 hingga 60 kilometer di atas permukaannya, suhu dan tekanan atmosfer justru sangat mirip dengan Bumi. Di sinilah muncul gagasan yang menyerupai fiksi ilmiah yaitu manusia tidak perlu mendarat di tanah Venus, melainkan tinggal di atas awannya.
Dr. Alfredo Carpineti, ahli astrofisika, menilai eksplorasi manusia ke Venus layak dipertimbangkan. Konsepnya bukan manusia berjalan di atmosfer dengan pakaian biasa, melainkan tinggal di dalam struktur tertutup yang mampu mengapung. Dengan menggunakan gas yang lebih ringan dari atmosfer Venus, bangunan raksasa tersebut secara teori dapat bertahan di udara.
Gagasan kota terapung ini sebenarnya bukan hal baru dalam kajian antariksa. Setelah dipelajari lebih dalam, Venus ternyata memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan Mars.
Jarak Lebih Dekat dan Gravitasi Bersahabat
Keunggulan utama Venus terletak pada jaraknya. Dalam konfigurasi tertentu, Venus hanya berjarak 38 juta kilometer dari Bumi, jauh lebih dekat dibandingkan Mars yang berada di kisaran 56 juta kilometer. Kondisi ini membuat jendela peluncuran ke Venus lebih sering terbuka, yakni setiap 19 bulan, sementara Mars hanya setiap 26 bulan.
Waktu tempuh pun relatif singkat. Wahana Venera 1 pernah mencapai Venus dalam 97 hari, sementara Venus Express milik ESA membutuhkan 153 hari. Meski durasi perjalanan tetap bergantung pada desain misi dan energi, kedekatan posisi Venus tetap menjadi nilai tambah.
Aspek lain yang sangat krusial adalah gravitasi. Mars hanya memiliki gravitasi sekitar 38 persen dari Bumi, yang berisiko bagi kesehatan manusia dalam jangka panjang. Sebaliknya, gravitasi Venus mencapai 90 persen dari gravitasi Bumi, menjadikannya lingkungan yang jauh lebih ideal bagi tubuh manusia.
Tantangan Ekstrem di Balik Awan
Namun, Venus bukan tanpa hambatan. Habitat terapung harus mampu menghadapi angin atmosfer yang bergerak sangat cepat, mencapai 210 hingga 370 kilometer per jam di ketinggian yang dianggap aman. Ancaman korosi dari asam sulfat juga menuntut material bangunan yang sangat tahan lama.
Persoalan logistik pun menjadi tantangan besar. Manusia harus memikirkan cara memproduksi makanan, mendaur ulang air, menghasilkan listrik, hingga melakukan perbaikan struktur di lingkungan yang terisolasi.
Mars memang memiliki permukaan yang bisa dipijak, namun atmosfernya yang tipis tidak mampu melindungi manusia dari radiasi berbahaya. Suhu dingin yang ekstrem dan tanah yang mengandung zat kimia berbahaya juga menyulitkan sistem pertanian di sana.
Membangun Rumah di Langit
Perbedaan mendasar antara kedua planet ini terletak pada cara adaptasi manusia. Di Mars, manusia harus bertahan di permukaan yang dingin dan terpapar radiasi. Di Venus, manusia harus membangun kehidupan di langit.
Bagi Carpineti, tantangan teknis ini justru menjadi peluang untuk memajukan teknologi di Bumi. "Kita perlu mencari solusinya sekarang dan di sini, di Bumi," tulisnya.
Teknologi untuk bertahan di Venus, seperti sistem daur ulang energi dan struktur tahan angin ekstrem, dapat diterapkan untuk mengatasi masalah lingkungan di planet kita sendiri.
Hingga saat ini, belum ada konsensus ilmiah yang menempatkan Venus di atas Mars sebagai prioritas kolonisasi. Mars tetap menjadi target utama karena akses permukaannya yang lebih mudah dipelajari. Namun, wacana tentang Venus memberikan perspektif baru bahwa rumah masa depan manusia tidak harus selalu berada di atas tanah, melainkan bisa saja melayang di antara awan yang ekstrem.
Artikel ini sudah tayang di detikInet, selengkapnya di sini
Simak Video "Video: Norwegia Masuk Daftar 55 Negara dalam Perjanjian Artemis NASA"
(rns/dir)