Tradisi Nyembah: Warga Wanasigra 'Saba' Pendopo Ciamis

Tradisi Nyembah: Warga Wanasigra 'Saba' Pendopo Ciamis

Dadang Hermansyah - detikJabar
Rabu, 26 Agu 2026 19:00 WIB
Warga Wanasigra menyerahkan hasil bumi kepada Bupati Ciamis dalam Tradisi Nyembah
Warga Wanasigra menyerahkan hasil bumi kepada Bupati Ciamis dalam Tradisi Nyembah (Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar).
Ciamis -

Suasana Joglo Barat Pendopo Bupati Ciamis terasa berbeda pada Rabu (26/8/2026) siang. Puluhan warga Desa Wanasigra, Kecamatan Sindangkasih, datang berbondong-bondong membawa sejumlah hasil bumi, mulai dari aneka umbi-umbian yang telah direbus hingga beragam makanan tradisional.

Hasil bumi ini bukan sekadar buah tangan, melainkan simbol rasa syukur sekaligus bagian dari rangkaian tradisi yang masih dijaga erat oleh masyarakat Wanasigra hingga kini. Kedatangan mereka disambut langsung oleh Bupati Ciamis Herdiat Sunarya bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Ciamis.

Warga Wanasigra datang untuk melaksanakan Nyembah, sebuah tradisi mendatangi pupuhu atau pemimpin daerah menjelang pelaksanaan Tradisi Merlawu di Situs Kabuyutan Gandoang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagi masyarakat Wanasigra, Nyembah bukan sekadar kunjungan formal. Di dalamnya terkandung nilai silaturahmi, penghormatan kepada pemimpin, sekaligus penyampaian maksud dan undangan resmi untuk mengikuti tradisi budaya yang akan digelar.

Kepala Desa Wanasigra, Yudi Wahyudi, menjelaskan bahwa Nyembah merupakan bagian tak terpisahkan dari rangkaian Tradisi Merlawu yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat (28/8/2026).

ADVERTISEMENT

"Jadi menjelang Tradisi Merlawu Desa Wanasigra diawali dengan Nyembah, mendatangi pupuhu atau pemimpin, dalam hal ini Bupati Ciamis. Selain silaturahmi, kita juga menyampaikan laporan kegiatan dan perencanaan Tradisi Merlawu," ujar Yudi, Rabu (26/8/2026).

Yudi berharap Bupati Ciamis dapat hadir dan ikut merasakan langsung suasana tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut. "Semoga Pak Bupati bisa hadir pada saat pelaksanaan Merlawu," katanya.

Tradisi Merlawu sendiri digelar masyarakat Wanasigra setiap bulan Rabiul Awal. Tradisi ini menjadi salah satu cara masyarakat mengungkapkan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas limpahan hasil bumi yang melimpah.

Di lokasi situs, warga berkumpul untuk berdoa bersama dan melaksanakan tawasul. Suasananya bukan sekadar perayaan, melainkan menjadi ruang refleksi untuk mengingat kembali perjalanan para leluhur.

Salah satu sosok yang sangat dihormati dalam tradisi tersebut adalah Syekh Padamatan. Ia dikenang sebagai leluhur yang memiliki jasa besar dalam membangun fondasi Desa Wanasigra.

Sementara itu, Bupati Ciamis Herdiat Sunarya mengatakan bahwa kedatangan warga Wanasigra menjadi kesempatan berharga untuk kembali bersilaturahmi dengan masyarakat, sekaligus menyambut tradisi budaya yang telah lama hidup di tengah masyarakat.

Herdiat menyebut Tradisi Merlawu bukan hal asing baginya. Bahkan, jauh sebelum menjabat sebagai Bupati Ciamis, ia mengaku kerap mengikuti rangkaian tradisi tersebut setiap tahun. Karena itu, Herdiat mendorong masyarakat Wanasigra untuk terus menjaga dan merawat tradisi tersebut.

Menurutnya, peninggalan leluhur bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga harus dipelihara agar tetap hidup dan dapat diwariskan dengan baik kepada generasi berikutnya.

"Sebagai generasi penerus, kita mempunyai kewajiban untuk memelihara dan menjaga warisan budaya peninggalan leluhur," kata Herdiat.

Ia menilai keberadaan Situs Kabuyutan Gandoang dan Tradisi Merlawu memiliki potensi yang lebih luas. Jika dirawat dengan baik, tradisi tersebut dapat menjadi daya tarik wisata budaya yang kuat, bukan hanya bagi masyarakat Ciamis, tetapi juga bagi wisatawan luar daerah yang ingin mengenal kekayaan budaya Tatar Galuh.

Namun, Herdiat menyampaikan permohonan maaf kepada warga karena tidak dapat hadir langsung pada puncak Tradisi Merlawu yang berlangsung Jumat nanti. Pada Kamis siang, ia harus bertolak ke Bali untuk menghadiri agenda pemerintahan strategis berkaitan dengan Kementerian Dalam Negeri.

Padahal, kehadiran dalam Tradisi Merlawu sudah masuk dalam agendanya sejak jauh-jauh hari. "Sebetulnya saya pengen banget. Sudah diagendakan dari dulu. Tapi saya manusia yang merencanakan, Allah SWT yang menentukan," ujar Herdiat.

Herdiat menjelaskan, agenda di Bali tersebut berkaitan dengan sejumlah urusan krusial pemerintahan, mulai dari tata kelola keuangan daerah hingga persoalan penanganan persampahan.

Selain itu, terdapat agenda pemberian penghargaan kepada pemerintah daerah. Menurutnya, kehadiran kepala daerah dalam agenda tersebut sangat penting karena penghargaan yang diberikan berpotensi berkaitan dengan dukungan anggaran pusat.

"Kalau bupati atau wali kota tidak datang, kebetulan dapat penghargaan, bisa digeser ke bupati atau wali kota yang lain," katanya.

Herdiat pun menyampaikan permohonan maaf yang mendalam kepada para sepuh dan masyarakat Wanasigra karena tidak bisa hadir langsung dalam pelaksanaan Tradisi Merlawu. Meski begitu, ia memastikan Pemkab Ciamis tetap akan hadir melalui perwakilan resmi.

"Nanti hari Jumat dihadiri Pak Asisten atau Pak Kadis," ucapnya.

Bagi Herdiat, ketidakhadirannya pada puncak Merlawu bukan berarti perhatian pemerintah terhadap kelestarian budaya berkurang. Ia meminta masyarakat tetap konsisten menjaga tradisi yang telah menjadi identitas budaya Wanasigra tersebut.

Herdiat menyebut Tradisi Merlawu telah tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) di kementerian terkait sejak sekitar empat tahun lalu. Status tersebut menjadi pengingat bahwa ada warisan leluhur yang harus dirawat secara kolektif.

Sebab, sebuah tradisi tidak akan bertahan hanya karena tercatat dalam dokumen negara. Tradisi akan tetap hidup jika masyarakat terus menjalankannya, mengenalkannya kepada generasi muda, dan meneruskannya ke masa depan.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Ditangkap! Ini Tampang 3 Pelaku Pencurian Kabel Tower di Ciamis"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads