Selama 23 tahun menjadi guru, Iksan Cahyana terbiasa mendampingi siswa dalam batas yang cukup jelas. Anak datang ke sekolah pada pagi hari. Mereka menerima pelajaran lalu kembali kepada keluarga setelah kegiatan berakhir. Pola itu berubah ketika ia dipercaya memimpin Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 12 Bogor.
"Di sekolah lama, tanggung jawab kami tetap dibatasi waktu. Kami tidak mendampingi 24 jam dalam tujuh hari dan berbagi peran dengan orang tua. Setelah jam belajar, anak kembali menjadi tanggung jawab keluarga," kata Iksan saat berbincang dengan detikJabar, awal pekan ini.
Sekedar informasi, bahwa kunjungan ke SRMA 12 ini adalah pekan terakhir Iksan dan warga SRMA menempati pusat sentra Galih Pakuan. Per tanggal 15 Agustus 2026, seluruh sekolah rakyat, termasuk SRMP 10, di Kabupaten Bogor akan menempati sekolah rakyat terintegrasi di Jasinga, wilayah yang berbatasan dengan Provinsi Banten.
Menurut Iksan, di SRMA 12 Bogor tanggung jawab tersebut tidak berhenti ketika bel pelajaran berbunyi. Sebanyak 50 siswa tinggal di asrama. Mereka terdiri atas 26 perempuan dan 24 laki-laki. Seluruhnya berasal dari keluarga desil 1 dan desil 2 yang tersebar di berbagai wilayah di ujung perbatasan Kabupaten Bogor, seperti Tanjungsari, Cariu, Malasari, Jasinga, Cigudeg, Jonggol, Cileungsi, Gunung Sindur, Rumpin, dan wilayah lain yang berjarak satu jam lebih dari Cibinong.
Anak-anak itu tidak hanya datang membawa buku dan pakaian. Sebagian turut memikul persoalan ekonomi serta pengasuhan yang selama bertahun-tahun membentuk perilaku mereka.
"Di sini kami harus hadir 24 jam. Kami menjangkau hal-hal yang tidak ada dalam teori atau buku. Kami menghadapi anak, orang tua dan lingkungannya. Teorinya justru kami temukan setelah berada di sini," ujar Iksan.
Di sekolah sebelumnya, Iksan juga menjumpai siswa yang berasal dari keluarga tidak mampu. Namun jumlahnya hanya satu atau dua orang. Persoalan yang dihadapi pun tidak datang hampir bersamaan seperti di Sekolah Rakyat.
"Kalau di sekolah lama saya menghadapi satu atau dua anak, di sini kami menghadapi 50 anak dengan problem yang kompleks," ia menuturkan.
Perbedaan itu membuat pengalaman panjang sebagai guru tidak selalu menyediakan jawaban. Ada anak yang menolak aturan. Beberapa bersikap kritis terhadap guru dan wali asuh. Bahkan pernah ada siswa yang mencoba meninggalkan sekolah.
Iksan tidak ingin sikap kritis tersebut dipadamkan. Namun ia juga meminta anak-anak belajar melihat dirinya sendiri.
"Kritis itu bagus. Namun jangan hanya sibuk mengkritik orang lain. Lihat dulu diri kamu dan alasan kamu berada di sini," kata Iksan menirukan nasihatnya kepada seorang siswa.
Ia juga menemukan sebagian anak masih menyampaikan keberatan secara emosional. Keluhan biasanya disampaikan kepada wali asuh saat sesi berbagi. Mereka belum berani berdiskusi langsung dengan guru. Menghadapi kondisi seperti itu, Iksan berupaya menyelesaikan dengan membuka ruang percakapan, bukan menjadi hakim.
"Saya bilang, 'Kalau mau beradu argumentasi, ayo.' Di satu sisi saya senang ada anak yang mau menyampaikan keluhan. Namun saya juga meluruskan pemahamannya," ujarnya.
Cara Iksan memahami para siswa berubah setelah mengunjungi rumah salah seorang anak yang sakit. Siswa tersebut harus menjalani operasi karena memiliki benjolan. Pihak sekolah kemudian mendatangi rumah kontrakan keluarganya.
Rumah itu hanya terdiri atas satu petak. Tempat tidur dan dapur berada dalam ruangan yang sama. Seluruh anggota keluarga beristirahat di tempat tersebut. Anak itu juga memiliki dua orang adik.
Dalam kunjungan itu, Iksan bercerita, ibu dari siswa tersebut menangis saat menceritakan perubahan sang anak setelah tinggal di asrama.
"Alhamdulillah, sekarang anak saya terlihat lebih bersih dan bisa makan dengan baik," kata Iksan menirukan ucapan ibu siswa tersebut.
Di asrama, para siswa memperoleh makan tiga kali sehari serta dua kali makanan selingan. Sabun, sampo dan perlengkapan perawatan diri juga disediakan. Kebutuhan dasar yang tampak sederhana itu belum tentu dapat diperoleh anak secara teratur ketika berada di rumah.
"Itulah salah satu alasan anak-anak tidak ingin pulang. Ketika di rumah, mereka belum tentu bisa makan seperti di sini," kata Iksan.
Kunjungan tersebut membantunya membaca perilaku anak dengan cara berbeda. Keluhan tentang makanan tidak selalu sekadar bentuk ketidakpuasan. Keengganan siswa pulang juga tidak bisa langsung dimaknai sebagai sikap tidak menyayangi keluarga.
"Problematika anak-anak ini kompleks sekali," ujarnya.
Kompleksitas tersebut tidak hanya berakar pada kemiskinan. Ia melihat banyak siswa tumbuh tanpa kehadiran orang tua yang utuh (parentless). Ayah dan ibu mungkin masih hidup. Namun fungsi pengasuhan tidak benar-benar mereka rasakan.
"Anak-anak di sini bukan hanya mengalami fatherless. Banyak yang mengalami parentless: ayah dan ibu ada, tetapi tidak hadir," kata Iksan.
Kebiasaan Belasan Tahun Tak Bisa Diubah Seketika
Memasuki kehidupan berasrama juga bukan perkara mudah bagi para siswa. Mereka telah berusia 13 hingga 15 tahun. Kebiasaan di rumah telah terbentuk selama belasan tahun sebelum seluruh aktivitasnya diatur oleh sekolah.
Mereka harus bangun pagi dan mengikuti pembelajaran. Waktu makan, beribadah, beristirahat hingga menggunakan telepon genggam ditentukan. Perubahan mendadak itu sempat melahirkan penolakan.
"Yang pasti sangat tidak mudah mengubah kebiasaan. Mereka sudah berusia 13 sampai 15 tahun dan membawa kebiasaan yang bertolak belakang dengan kehidupan di asrama. Tiba-tiba seluruh waktu mereka diatur," tutur Iksan.
Kesiswaan secara rutin menyebarkan kuesioner untuk mengetahui keinginan anak. Sejumlah jawaban terus muncul setiap bulan. Ada yang meminta jam kosong. Sebagian ingin lebih banyak bermain gim dan mendengarkan musik. Beberapa lainnya menginginkan kebebasan seperti ketika berada di rumah.
Menurut Iksan, sekitar 10 persen siswa masih mengalami kesulitan menerima aturan. Jumlahnya hanya lima anak. Namun sikap mereka dapat memengaruhi teman-temannya.
"Anak yang memiliki keinginan kuat untuk berubah akan lebih cepat beradaptasi dibandingkan dengan anak yang masuk karena terpaksa. Kami harus memerdekakan pikiran anak-anak lebih dahulu," katanya.
(sud/sud)