Rumah Siti Maryam kini sunyi, hanya menyisakan duka yang masih menggelayut tebal. Kepergian suaminya, Sumarna (43), terjadi begitu mendadak, meninggalkan luka sekaligus tanda tanya besar yang belum terjawab. Petugas keamanan di kawasan Waduk Jatiluhur itu ditemukan tak bernyawa dalam kondisi mengenaskan pada Jumat (24/7/2026) lalu.
Siti Maryam mencoba memutar kembali memori pada Kamis (23/7) malam, saat terakhir kali suaminya bersiap berangkat kerja. Tak ada firasat buruk yang menghampiri, meski ia menyadari ada gurat kelelahan yang tak biasa di wajah Sumarna malam itu.
"Kelihatannya memang seperti kelelahan. Biasanya kalau malam Jumat berangkat lebih sore karena ikut yasinan dulu, tapi malam itu berangkatnya lebih awal dan tidak ikut rutinan," kenang Maryam saat ditemui di kediamannya, Selasa (28/07/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Malam nahas itu memang terasa berbeda. Sumarna, yang biasanya taat mengikuti pengajian Yasinan rutin bersama warga setiap Kamis malam, justru memilih langsung bertolak ke tempat tugasnya lebih awal. Namun, rutinitas pamitannya tetap sama. Ia mencium tangan sang istri sembari memohon doa keselamatan-sebuah ritual kecil penuh makna sebelum ia menjaga ketenangan Waduk Jatiluhur. Tak ada yang menyangka, itu adalah doa terakhir yang ia titipkan.
"Biasa pamitan seperti biasa, berdoa dan itu jadi pamitan terakhir," katanya dengan suara lirih.
Hingga kini, penyebab pasti di balik tewasnya Sumarna masih menjadi teka-teki yang tengah diurai oleh Satreskrim Polres Purwakarta. Bagi Maryam, keadilan adalah satu-satunya penawar duka. Ia hanya mendambakan titik terang atas misteri yang merenggut nyawa suaminya.
"Saya hanya ingin kasus ini segera terungkap," tutur Maryam singkat, mencoba tegar di tengah haru yang membuncah.
Pribadi yang Mengabdi
Kepergian Sumarna bukan hanya kehilangan besar bagi keluarga, tapi juga bagi warga Desa Kembang Kuning. Di balik seragam petugas keamanan Perum Jasa Tirta (PJT) II, almarhum dikenal sebagai sosok yang memiliki dedikasi tinggi terhadap lingkungan sekitarnya.
Usep (53), kakak ipar korban, menceritakan bahwa Sumarna adalah sosok yang dipercaya banyak pihak. Selain menjaga objek vital nasional, ia juga aktif sebagai anggota Perlindungan Masyarakat (Linmas) di desanya.
"Setahu saya almarhum orang baik. Selain satpam PJT II, dia juga Linmas desa. Ada kepercayaan besar dari pihak perusahaan maupun pemerintah desa," ujar Usep.
Di mata keluarga, Sumarna adalah ayah yang hangat. Sesibuk apa pun jadwal sif kerjanya, ia selalu memastikan anak-anaknya sampai ke sekolah dengan selamat. Tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga tak pernah luntur oleh rasa lelah.
"Salah satu contoh ia tanggungjawab ke anak dan istri, ia rutin mengantarkan anaknya sekolah," katanya.
Mengenai kondisi korban yang ditemukan dalam keadaan terborgol pada Jumat lalu, pihak keluarga memilih untuk tidak berspekulasi liar. Mereka menaruh kepercayaan penuh pada proses hukum yang sedang berjalan di kepolisian.
"Kami percayakan kepada pihak berwajib. Harapan keluarga hanya satu, semoga kasus ini cepat terungkap," tegasnya.
Saat ini, fokus utama keluarga adalah memberikan dukungan moral bagi istri dan kedua anak almarhum yang masih terpukul. Di tengah suasana duka, mereka mengapresiasi adanya perhatian dan rencana bantuan beasiswa bagi pendidikan anak-anak Sumarna. Keluarga memilih untuk tetap tenang dan menyerahkan sepenuhnya penyelidikan kepada aparat berwenang.
"Itu kewenangan aparat. Saya lebih fokus mendampingi istri almarhum dan keluarga agar tetap tabah," pungkasnya.
