Lebih dua pekan usai kejadian ledakan bom rakitan di lapak pedagang kaki lima (PKL) kompleks olahraga Dadaha, Kota Tasikmalaya pada Sabtu (11/7/2026) malam lalu, suasana telah kembali normal.
Kejadian ledakan bom yang dirakit oleh pria inisial AAS, eks narapidana terorisme (napiter) sekaligus pedagang es teh tersebut, seolah tak berbekas. Seakan sirna terhapus oleh hiruk pikuk masyarakat yang beraktivitas di lokasi itu.
Seperti pantauan pada Senin (27/7/2026) sore, suasana di sekitar titik ledakan tampak berjalan normal. Garis polisi sudah dilepas, bahkan sudut trotoar yang menjadi titik ledakan sudah menjadi lapak PKL kembali.
"Tidak terlalu ada pengaruhnya. Ke omzet dagangan juga sepertinya nggak berpengaruh. Segitu-gitu aja," kata Yeni Maryani, pedagang usus dan makroni di dekat titik ledakan.
Hal ini berbeda ketika insiden itu baru saja terjadi. Yeni kerap kali mendapat pertanyaan dari konsumen seputar kejadian ledakan bom rakitan tersebut.
"Kalau pas awal, ya 3 hari sampai seminggu setelah kejadian, masih banyak konsumen yang kepo (mencari tahu). Banyak yang nanya titik meledaknya dimana. Tapi semakin ke sini, sudah nggak ada lagi yang nanya, mungkin sudah lupa," kata Yeni.
Yeni sendiri mengaku sempat berpikir untuk menumpang beken atas peristiwa itu. Sempat terbersit untuk melabeli dagangannya yang memiliki keterkaitan dengan peristiwa yang sempat viral tersebut.
"Tadinya dagangan saya mau diberi nama Usus dan Makroni Bom. Ya biar ikut viral, jadi banyak yang beli," kata Yeni.
Tapi pada akhirnya Yeni memutuskan untuk mengurungkan ide tersebut. Dia mengaku khawatir menimbulkan pro-kontra dan memanjangkan ingatan tentang kejadian negatif.
"Nggak jadi, takut piomongeun (bahan pembicaraan/jadi sorotan)," kata Yeni.
Sementara itu Resa, pedagang cimin (aci mini) mengaku masih belum bisa melupakan detik-detik ledakan bom rakitan itu. Betapa tidak, bom rakitan itu meledak hanya berjarak 2 langkah di belakang dirinya yang saat itu sedang asyik berjualan.
Akibat ledakan, Resa bahkan sampai mengalami kejang dan telinganya pekak.
"Saya lagi melayani pembeli, suaranya keras sekali. Pokoknya kedua kuping saya sampai berdengung," kata Resa.
Kejutan dari ledakan itu sampai membuat Resa sempoyongan karena tubuhnya kejang.
"Saya sampai kejang. Nggak tahu kenapa, mungkin karena saking kagetnya. Kaki juga lemas," kata Resa.
Saat itu dia langsung ditolong oleh suaminya yang juga berjualan di sekitar sana. Dia dibawa ke tempat duduk yang agak menjauh dari titik ledakan, kemudian diurut oleh suaminya.
"Saya nggak tahu lagi apa yang terjadi. Saya langsung pulang, dagangan dibereskan oleh suami," kata Resa.
Lain lagi cerita Irfan, pedagang telor gulung yang berjarak sekitar 10 meter dari titik ledakan. Menurut dia ledakan yang terjadi disertai kilatan cahaya api.
"Keras ledakannya, semuanya juga kaget. Saya kira awalnya kompor gas yang meledak, karena ada ngaburicak (kilatan cahaya). Saat itu nggak ada yang sadar itu bom," kata Irfan.
Tapi suasana ketika ledakan terjadi, menurut Irfan tidak sampai menimbulkan kepanikan yang luar biasa, tak sampai berlarian menyelamatkan diri. Respons pedagang atau pembeli yang ada di sana berbeda-beda. Ada yang lari menjauh, tapi ada juga yang justru diam sambil kebingungan atas apa yang telah terjadi.
"Kalau kaget semuanya kaget, tapi nggak sampai panik. Saya juga jualan lagi, saya menyadari itu bom setelah banyak polisi datang," kata Irfan.
(yum/yum)