Naik Odong-odong, Warga Cikadu Tagih Janji Perbaikan Irigasi

Naik Odong-odong, Warga Cikadu Tagih Janji Perbaikan Irigasi

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Senin, 20 Jul 2026 13:28 WIB
Emak-emak Sewa Wara-wiri Geruduk Dinas PU Sukabumi
Emak-emak Sewa Wara-wiri Geruduk Dinas PU Sukabumi (Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar)
Sukabumi -

Halaman Kantor Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Sukabumi mendadak riuh oleh kedatangan rombongan warga Desa Cikadu, Senin (20/7/2026). Menariknya, massa yang didominasi kaum ibu ini mendatangi kantor dinas dengan menumpang mobil odong-odong atau wara-wiri yang mereka sewa khusus.

Sambil membawa anak-anak, warga membentangkan sejumlah spanduk protes dari kertas karton. Aksi ini merupakan puncak kekesalan warga atas matinya saluran Daerah Irigasi (D.I) Citarik Somang Cikadu yang terbengkalai selama 17 tahun.

Salah satu spanduk satire yang terlihat di lokasi bertuliskan, "D.I Irigasi Citarik Diantep Nepika 17 Taun Somang Cikadu. Lamun moal diaku Desa Cikadu geus we hapus di Kabupaten Sukabumi."

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perwakilan warga, Neni, menegaskan kedatangan mereka menggunakan odong-odong adalah bentuk tuntutan atas ketegasan pemerintah. Warga mengaku sudah tidak sanggup menghadapi krisis air yang berlarut-larut tanpa solusi konkret.

ADVERTISEMENT

"Iya, saya berharap ke sini menuntut, ingin irigasi Somang Cikadu mengalir lagi seperti semula, sedia kalalah, gitu di zaman dulu. Karena udah lama, udah 17 tahun menunggu, sampai saya pulang ke Arab masih keneh kitu," ujar Neni di lokasi aksi.

Neni memaparkan, matinya irigasi tersebut melumpuhkan aktivitas domestik hingga sarana ibadah. Saat ini, warga kesulitan mendapatkan air untuk sekadar mandi dan mencuci pakaian.

"Keperluannya sawah. Sawah buat nyuci, mandi. Nomor satunya lagi buat ibadah masjid, sarana ibadah lah. Yang saya dengar kemarin juga seukur ngobrol janji-janji tapi, enggak ada," keluh Neni.

Ketua Koordinator Aksi, Ujang, menambahkan bahwa kedatangan warga bertujuan menagih jadwal pasti pengerjaan fisik irigasi oleh Dinas PU.

"Poin pertama satu minta kepastian Dinas PU untuk segera melaksanakan realisasi D.I Citarik atau Somang Cikadu segera dilaksanakan realisasi karena kami tidak mau menunggu jawaban-jawaban yang tidak pasti atau istilahnya hanya angin segar. Kami butuh kepastian datang ke sini itu butuh kepastian hari apa, bulan berapa, tahun berapa untuk melaksanakan realisasi D.I Citarik Somang Cikadu yang terbengkalai selama 17 tahun," tegas Ujang.

Ujang juga mengungkit komitmen tertulis mantan Kepala Dinas PU tahun 2022, Asep Japar, yang kini menjabat sebagai Bupati Sukabumi.

"Janji terdahulu itu Pak Asep Japar berkata 'saya selaku Kadis PU akan bertanggung jawab penuh terkait D.I Citarik untuk segera melaksanakan realisasi' itu di tahun 2022. Makanya dari sekarang kegiatan-kegiatan kecil akan segera dilaksanakan, setelah kegiatan tersebut tahun 2022 akan dilaksanakan realisasi sepenuhnya melalui anggaran DAK akan dibangun dari hulu sampai ilir dituntaskan agar masyarakat sejahtera," ungkap Ujang.

Namun, Ujang menilai proyek yang berjalan selama ini tidak menyentuh akar masalah yang dihadapi ribuan warga di dua kedusunan.

"Hanya dilaksanakan sedikit kegiatan-kegiatan kecil untuk kepentingan-kepentingan kontraktor bukan kepentingan masyarakat yang sangat mengharapkan terutama para petani. Warga yang terdampak itu dua kedusunan sekitar 7 ribu jiwa . Itu meliputi dua kedusunan, satu Kedusunan Pasir Biru, yang kedua Kedusunan Kedusunan Cikadu," jelasnya.

Ia juga menyayangkan absennya Kepala Desa Cikadu dalam mendampingi aksi warga. Ujang mengancam akan kembali menggelar aksi serupa jika tuntutan mereka tidak dipenuhi.

"Saya sangat-sakah kecewa karena setidaknya selaku stakeholder di desa kami seharusnya dia yang harus memimpin untuk kepentingan masyarakat kami. Dikarenakan tidak hadir kami sangat kecewa. Kami akan datang kembali setiap minggu, surat aksi akan kami kirim kembali setiap Senin," ancam Ujang.

Butuh Anggaran Rp 10 Miliar

Menanggapi tuntutan tersebut, Kepala Bidang Bina Teknik Dinas PU Kabupaten Sukabumi, Wisnu, menjelaskan bahwa kendala utama perbaikan total irigasi adalah keterbatasan APBD.

"Terkait penjelasan tuntutan dari aksi masyarakat Cikadu, kami sampaikan bahwa memang irigasi Citarik khususnya di Dusun Cikadu itu sudah menjadi prioritas kami di kabupaten untuk penanganan karena memang tadi dari sisi pemanfaat juga memang banyak dan melalui Pak Bupati kita sampaikan saluran ini ke Inpres irigasi Pak. Di tahun 2026 ini melalui perpalnya Sipuri itu alhamdulillah Pak masuk untuk irigasi Citarik," jelas Wisnu.

Wisnu menyebut perbaikan menyeluruh membutuhkan biaya yang sangat besar, sehingga pihaknya harus mengusulkan bantuan ke tingkat provinsi maupun kementerian sejak 2022.

"Jadi gini, irigasi Citarik ini memerlukan penanganan dengan anggaran yang memang cukup besar Pak. Kalau penanganan APBD sekarang kita hanya bisa melaksanakan pemeliharaan secara parsial. Jadi kita butuh anggaran yang memang besar makanya diusulkan kepada pemerintah provinsi ataupun kementerian. Nah, itu memang secara anggaran yang besar itu diusulkan ke kementerian dan ke provinsi itu dari tahun 2022. Itu sekitar 9 miliar sekian, hampir 10-an," tuturnya.

Meski usulan telah disetujui untuk tahun anggaran 2026, Wisnu mengaku masih menunggu instruksi pusat terkait jadwal pengerjaan fisik.

"Kalau dari sisi kami mengajukan usulkan ke kementerian itu sudah dalam tahap perpal dan selesai. Terkait pelaksanaannya memang bukan di kewenangan kami dan informasi dari pusat pun belum ada diteruskan ke daerah. Jadi pelaksanaannyalah yang memang perlu kami konfirmasi ke kementerian kembali, apakah di bulan apa atau tanggal berapa itu nanti Bidang SDA yang akan mengonfirmasi langsung ke kementerian," tutup Wisnu.

Curhat Emak-emak gegara Irigasi Rusak

Rusaknya saluran Daerah Irigasi (D.I) Citarik Somang Cikadu selama 17 tahun tidak hanya memicu kemarahan warga, tetapi juga menyisakan cerita pilu mendalam bagi kaum emak-emak di Desa Cikadu, Kabupaten Sukabumi.

Demi mencuci pakaian dan mandi, mereka terpaksa bertaruh nyawa di aliran sungai besar yang berarus deras.

Penderitaan sehari-hari ini diungkapkan langsung oleh Neni, salah seorang warga terdampak yang ikut serta dalam aksi unjuk rasa di halaman Kantor Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Sukabumi.

Emak-emak di Cikadu berharap saluran irigasi segera diperbaikiEmak-emak di Cikadu berharap saluran irigasi segera diperbaiki Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar

Menurutnya, krisis air bersih sudah berlangsung sangat lama hingga memaksa warga melakukan aktivitas domestik di tempat yang tidak aman.

"Untuk sementara mengandalkan Sungai Citarik. Kadang-kadang nyedot di sumur, sampai keluar 'Cai Pereu', beureum tea geuning caina teh (Yang airnya berwarna merah). Boleh diperiksa, tiga hari beureum sumur teh. Apalagi musim kemarau ya. Sampai jatuh kemarin ke sungai itu. Ada (yang terbawa arus), hanyut, ke bawa arus kemarin. Sampai saya trauma, saya trauma ke Citarik. Lagi nyuci, genah-genah hanyut. ini asli pak bukan, bukan omong, omong doang bukan," ungkap Neni dengan nada emosional membeberkan insiden warga yang hanyut di sela aksi unjukrasa di Kantor Dinas PU Kabupaten Sukabumi, Senin (20/7/2026).

Ekonomi Sulit, Terpaksa Iuran Air Gunung Rp 50 Ribu

Selain bahaya fisik yang mengintai di sungai, matinya pasokan irigasi berimbas langsung pada dompet warga. Bagi warga yang memiliki kemampuan finansial lebih, mereka terpaksa membeli air bersih dari pegunungan dengan menyambung selang pipa yang biayanya dirasa kian menjepit di tengah impitan ekonomi.

"Dari gunung bayar Rp 50.000 per rumah per bulan. Harus biaya selang, harus biaya ini. Keadaan sekarang kan ekonomi lagi seret. Belum biaya selang, belum biaya per hari. Jadi air teh bener-bener diirit ya, untuk mandi maupun untuk minum. Kalau minum, air itu juga yang dari gunung itu ya," keluh Neni.

Kondisi memprihatinkan tersebut diperkuat oleh data yang dipaparkan Ketua Koordinator Aksi, Ujang. Ia menyebutkan bahwa krisis irigasi hulu yang berkepanjangan ini telah melumpuhkan sektor pertanian utama dan memaksa sebagian warga yang tidak mampu untuk mengonsumsi air dengan kualitas buruk.

"Karena kami sudah sangat menderita. Satu, lahan pertanian seluas 63 hektare menjadi sawah tadah hujan. Yang kedua, warga di lingkungan kami sangat menyedihkan. Yang mampu membeli air PAM ya pakai air PAM, yang tidak mampu membuat sumur di aliran D.I Citarik yang sangat-sangat aliran D.I Citarik tersebut sebuah tempat resapan kotoran dari lingkungan kampung tersebut. Air tersebut sangat tidak layak untuk dipakai untuk warga," kata Ujang merinci.

Bagi ribuan warga Desa Cikadu, kembalinya aliran air dari saluran irigasi Somang tidak hanya sekadar pemenuhan kebutuhan fisik, melainkan harapan untuk mengembalikan kehidupan desa yang normal layaknya masa lalu.

"Yang ketiga, kami sangat merindukan irigasi tersebut karena setidaknya kami warga pribumi sebuah kenangan waktu kami kecil," pungkas Ujang.

Sampai saat ini, ribuan warga di dua kedusunan yakni Dusun Pasir Biru dan Dusun Cikadu masih menanti kepastian langkah konkret kementerian pusat dan pemerintah daerah agar mereka terbebas dari trauma bertaruh nyawa di sungai demi mendapatkan seember air bersih.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video: Krisis Air Sukabumi, Ratusan Warga Bertahan di 'Kobakan'"
[Gambas:Video 20detik] (sya/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads