Perang melawan stunting di tingkat akar rumput menorehkan cerita sukses yang menginspirasi. UPTD Puskesmas Bojonggenteng, Kabupaten Sukabumi, berhasil menjadi potret nyata bagaimana konsistensi di lapangan mampu membabat habis angka stunting dari 17 persen menjadi tersisa 6 persen saja dalam kurun waktu sekitar tiga tahun.
Salah satu potret nyata kesuksesan ini terlihat dalam aksi gerebek kesehatan bertajuk Gebyar Posyandu dalam Intervensi Serentak Pencegahan dan Penurunan Stunting yang digelar di Posyandu Edelweis, Desa Berekah, Kecamatan Bojonggenteng.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala UPTD Puskesmas Bojonggenteng, Asep Gumelar, mengatakan kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Kementerian Dalam Negeri Nomor 400.5.7/2501/Bangda tanggal 17 Maret 2026 tentang Pelaksanaan Kegiatan Intervensi Serentak Pencegahan Stunting.
Asep mengungkapkan, kunci dari validnya potret penurunan stunting di wilayahnya ini tak lepas dari diterjunkannya langsung para tenaga kesehatan (nakes) untuk melakukan pengukuran dan validasi data secara riil di posyandu.
"Yang mengukur tinggi badan, berat badan, dan yang lainnya adalah tenaga kesehatan. Harapannya data yang diperoleh benar-benar valid," ujarnya belum lama ini.
Dalam keseruan Gebyar Posyandu tersebut, sebanyak 115 bayi dan balita, 17 ibu hamil, dan 16 lansia tampak antusias mengantre untuk diperiksa. Hasilnya pun bikin tersenyum lebar, petugas sama sekali tidak menemukan adanya balita yang mengalami stunting di lokasi tersebut.
Meski begitu, nakes tetap pasang mata. Petugas mendeteksi adanya ibu hamil dengan risiko tinggi yang langsung diberikan penanganan medis darurat demi mencegah potensi bayi lahir stunting.
"Kalau ada ibu hamil risiko tinggi kami tindak lanjuti. Kalau bisa ditangani di Puskesmas melalui pelayanan PONED akan ditangani, kalau tidak bisa maka dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat lanjutan," tegas Asep.
Potret manis penurunan stunting hingga menyentuh angka 6 persen ini tentu menjadi prestasi membanggakan bagi Bojonggenteng. Namun, pihak puskesmas ogah cepat puas.
Asep mengingatkan bahwa angka ini masih bersifat sementara karena perburuan data stunting masih terus berjalan di wilayah lain.
"Belum semua wilayah melaksanakan Gebyar Posyandu, sehingga hasil akhirnya nanti masih bisa berubah setelah seluruh data terkumpul," jelasnya.
Selain lewat posyandu berkala, jurus jitu Bojonggenteng dalam menjinakkan stunting juga didorong oleh program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) lokal. Hebatnya lagi, potret sukses ini bisa terwujud berkat kerja keroyokan yang kompak dari seluruh elemen kecamatan.
"Alhamdulillah di Bojonggenteng sangat sinergis. Semua lintas sektor mendukung," ucap Asep semringah memuji kekompakan Polsek, Koramil, KUA, hingga para kader posyandu.
Di akhir, Asep berharap potret keberhasilan di Bojonggenteng ini bisa terus dipertahankan secara konsisten. Ia pun meminta para orang tua untuk terus disiplin menjaga asupan gizi buah hati mereka.
"Kami harapkan orang tua disiplin datang ke Posyandu setiap bulan. PMT lokal juga diberikan sesuai anjuran, kemudian kebutuhan gizi anak dipenuhi dengan baik agar dapat mencegah stunting," pungkasnya.
(sya/orb)
