Revitalisasi kawasan Gedung Sate dan Lapangan Gasibu membawa konsekuensi besar bagi salah satu fasilitas publik yang selama ini akrab dengan masyarakat. Bangunan Perpustakaan Gasibu kini telah dibongkar hingga rata dengan tanah sebagai bagian dari proyek penataan kawasan terpadu.
Pantauan di lokasi pada Jumat (10/7/2026), bangunan perpustakaan di sisi utara Lapangan Gasibu sudah tidak lagi berdiri. Yang tersisa hanya pos keamanan, sementara alat berat masih terlihat mengangkut material bekas pembongkaran.
Perpustakaan tersebut merupakan aset Biro Umum Sekretariat Daerah (Setda) Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang ikut terdampak proyek penataan halaman Gedung Sate dan Lapangan Gasibu.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispusipda) Jawa Barat Kusmana Hartadji mengatakan pembongkaran perpustakaan merupakan bagian dari penataan ruang publik agar kawasan tersebut menjadi lebih nyaman dan tertata. Namun, ia memastikan langkah itu bukan berarti pemerintah menghapus layanan literasi di kawasan Gasibu.
"Ya itu kan terkait dengan penataan ruang publik ya. Jadi untuk lebih nyaman, juga lebih sesuai dengan fungsi, lebih optimal sebagai peruntukannya. Jadi intinya pasti berdampak kepada perpustakaan," kata Kusmana.
Ia menegaskan, Pemprov Jabar tetap berkomitmen menjaga fungsi literasi di kawasan tersebut. Saat ini, pihaknya telah berkoordinasi dengan Biro Umum Setda Jabar untuk mencari konsep terbaik bagi keberadaan fasilitas membaca setelah penataan selesai.
"Bukan berarti tidak ada keberpihakan. Jadi sebetulnya saya juga sudah koordinasi dengan Biro Umum, sedang dikaji nanti apa namanya, pembagian ruang itu secara proporsional," ujarnya.
Menurut Kusmana, kajian tersebut masih berlangsung. Penempatan fasilitas literasi nantinya akan disesuaikan dengan wajah baru kawasan Gedung Sate dan Gasibu, tanpa mengabaikan kenyamanan maupun akses masyarakat.
"Jadi untuk literasi sebetulnya proses penataannya sambil menunggu, jadi ada tata letak yang lebih paling tepat untuk pengembangan layanan literasi ke depan. Jadi sedang dikaji oleh Biro Umum sebetulnya, hal tersebut dilakukan dengan pertimbangan aspek kenyamanan, termasuk juga kemudahan akses, serta keberlanjutan pemanfaatan oleh masyarakat," katanya.
Selama beroperasi, Perpustakaan Gasibu menjadi salah satu ruang baca yang cukup diminati masyarakat. Selain menjadi tempat membaca, perpustakaan itu juga menjadi lokasi berkumpul warga, terutama saat akhir pekan.
"Bahwa perpustakaan memiliki nilai dan kenangan bagi masyarakat di sana ya. Banyak juga sebetulnya pengunjungnya, hampir rata-rata sekitar per bulan itu ada yang 1.000, apalagi Sabtu-Minggu ya," ungkap Kusmana.
Karena itu, Dispusipda berharap layanan literasi tetap menjadi bagian dari kawasan Gasibu setelah proses revitalisasi rampung. "Jadi nanti barangkali bukan berarti mengurangi semangat, tapi saya juga sedang menunggu nih nanti kajian yang komprehensif, pemustaka tetap bisa dilayani gitu ya," tuturnya.
Saat ditanya kemungkinan perpustakaan kembali dibangun di kawasan Gasibu, Kusmana menyatakan optimismenya bahwa fasilitas tersebut akan tetap dihadirkan meski dengan konsep yang menyesuaikan hasil penataan ruang.
"Mudah-mudahan ya, mudah-mudahan ada lagi. Tapi juga kan ini juga sama-sama ruang publik dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekosistem literasi, sehingga keduanya dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. Jadi semangat literasinya mah tetap," katanya.
Ia juga memahami munculnya pertanyaan dari masyarakat yang selama ini rutin memanfaatkan fasilitas tersebut. "Kalau kami menunggu saja nanti karena kan pastilah ada beberapa pemustaka juga yang bertanya seperti itu," ujarnya.
Kusmana menjelaskan, Perpustakaan Gasibu selama ini berstatus sebagai perpustakaan khusus. Bangunannya merupakan aset milik Biro Umum Setda Jabar, sedangkan Dispusipda bertugas mengelola layanan, koleksi, dan petugas perpustakaan.
"Ya itu kan perpustakaan khusus namanya. Karena di sana kan hanya baca, tidak boleh pinjam gitu. Tapi kalau pengelolaannya memang dari kita, petugas segala macamnya. Cuma asetnya memang milik Biro Umum Sekretariat Daerah," jelasnya.
Sembari menunggu kepastian lokasi baru, masyarakat tetap dapat mengakses layanan literasi melalui Perpustakaan Provinsi Jawa Barat di Jalan Kawaluyaan, perpustakaan milik Pemerintah Kota Bandung, maupun layanan perpustakaan keliling yang disediakan Dispusipda.
"Yang pertama bisa langsung juga ke Perpustakaan Provinsi ya di Jalan Kawaluyaan. Juga perpustakaan yang ada di Kota Bandung. Atau memang kalau memang berkelompok gitu, bisa juga minta perpustakaan keliling ke kita," pungkas Kusmana.
(bba/iqk)