Perpustakaan Gasibu Dibongkar Imbas Penataan Gedung Sate

Perpustakaan Gasibu Dibongkar Imbas Penataan Gedung Sate

Bima Bagaskara - detikJabar
Jumat, 10 Jul 2026 14:41 WIB
Perpustakaan Gasibu dibongkar
Perpustakaan Gasibu dibongkar (Foto: Bima Bagaskara/detikJabar).
Bandung -

Proyek penataan kawasan Gedung Sate dan Lapangan Gasibu mulai mengubah wajah ruang publik ikonik di Kota Bandung. Salah satu dampaknya, bangunan Perpustakaan Gasibu yang selama ini menjadi tempat membaca favorit masyarakat kini telah dibongkar hingga rata dengan tanah.

Pantauan di lokasi, Kamis (10/7/2026), bangunan perpustakaan di sisi utara Lapangan Gasibu sudah tidak lagi berdiri. Yang tersisa hanya pos keamanan, sementara alat berat masih terlihat mengangkut material bekas pembongkaran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perpustakaan tersebut merupakan aset milik Biro Umum Sekretariat Daerah (Setda) Pemprov Jawa Barat yang ikut terdampak proyek penataan kawasan Gedung Sate dan Lapangan Gasibu.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispusipda) Jawa Barat Kusmana Hartadji mengatakan pembongkaran perpustakaan merupakan bagian dari penataan ruang publik yang tengah dilakukan Pemprov Jabar.

ADVERTISEMENT

Meski begitu, ia memastikan langkah tersebut bukan berarti pemerintah mengesampingkan fungsi literasi di kawasan Gasibu.

"Ya itu kan terkait dengan penataan ruang publik ya. Jadi untuk lebih nyaman, juga lebih sesuai dengan fungsi, lebih optimal sebagai peruntukannya. Jadi intinya pasti berdampak kepada perpustakaan," kata Kusmana saat dihubungi.

"Bukan berarti tidak ada keberpihakan. Jadi sebetulnya saya juga sudah koordinasi dengan Biro Umum, sedang dikaji nanti apa namanya, pembagian ruang itu secara proporsional," sambungnya.

Menurut Kusmana, saat ini Biro Umum Setda Jabar masih mengkaji konsep penempatan fasilitas literasi yang baru agar selaras dengan wajah baru kawasan Gedung Sate dan Gasibu.

Kajian tersebut, kata dia, mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari kenyamanan pengunjung, kemudahan akses, hingga keberlanjutan layanan membaca bagi masyarakat.

"Jadi untuk literasi sebetulnya proses penataannya sambil menunggu, jadi ada tata letak yang lebih paling tepat untuk pengembangan layanan literasi ke depan. Jadi sedang dikaji oleh Biro Umum sebetulnya, hal tersebut dilakukan dengan pertimbangan aspek kenyamanan, termasuk juga kemudahan akses, serta keberlanjutan pemanfaatan oleh masyarakat," ujarnya.

Kusmana mengakui keberadaan Perpustakaan Gasibu selama ini memiliki nilai tersendiri bagi masyarakat. Selain menjadi tempat membaca, perpustakaan tersebut juga menjadi ruang berkumpul, terutama saat akhir pekan. Bahkan, jumlah pengunjungnya mencapai sekitar seribu orang setiap bulan.

"Bahwa perpustakaan memiliki nilai dan kenangan bagi masyarakat di sana ya. Banyak juga sebetulnya pengunjungnya, hampir rata-rata sekitar per bulan itu ada yang 1.000, apalagi Sabtu-Minggu ya," katanya.

Karena itu, Dispusipda berharap layanan literasi tetap menjadi bagian dari kawasan Gasibu setelah proyek penataan selesai.

"Jadi nanti barangkali bukan berarti mengurangi semangat, tapi saya juga sedang menunggu nih nanti kajian yang komprehensif, pemustaka tetap bisa dilayani gitu ya," ujarnya.

Saat ditanya peluang perpustakaan kembali dibangun di kawasan Gasibu, Kusmana mengaku optimistis fasilitas tersebut tetap akan dihadirkan, meski dengan konsep yang menyesuaikan hasil penataan ruang publik.

"Mudah-mudahan ya, mudah-mudah ada lagi. Tapi juga kan ini juga sama-sama ruang publik dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekosistem literasi, sehingga keduanya dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. Jadi semangat literasinya mah tetap," ungkapnya.

"Kalau kami menunggu saja nanti karena kan pastilah ada beberapa pemustaka juga yang bertanya seperti itu," tambahnya.

Kusmana menjelaskan, Perpustakaan Gasibu sebenarnya bukan merupakan aset Dispusipda Jabar. Bangunan tersebut berstatus perpustakaan khusus dengan aset milik Biro Umum Setda Jabar, sedangkan Dispusipda hanya bertugas mengelola layanan dan petugas perpustakaannya.

"Ya itu kan perpustakaan khusus namanya. Karena di sana kan hanya baca, tidak boleh pinjam gitu. Tapi kalau pengelolaannya memang dari kita, petugas segala macamnya. Cuma asetnya memang milik Biro Umum Sekretariat Daerah," jelas Kusmana.

Sementara selama Perpustakaan Gasibu belum kembali beroperasi, masyarakat yang ingin membaca dapat memanfaatkan sejumlah layanan perpustakaan lain yang disediakan pemerintah.

"Yang pertama bisa langsung juga ke Perpustakaan Provinsi ya di Jalan Kawaluyaan. Juga perpustakaan yang ada di Kota Bandung. Atau memang kalau memang berkelompok gitu, bisa juga minta perpustakaan keliling ke kita," tutup Kusmana.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Ketua LPS: Literasi Harus Tumbuh Lebih Cepat dari Euforia Investasi"
[Gambas:Video 20detik] (bba/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads