Berbagai peristiwa menarik terjadi di Jawa Barat hari ini Jumat (10/7/2026) beberapa diantaranya memantik perhatian pembaca detikJabar. Geger ayah cabuli anak kandung selama 11 tahun di Karawang hingga TPT Proyek Kos-kosan di Jatinangor Ambruk, 1 Pekerja Tewas.
Berikut ringkasan berita yang dihimpun dalam Jabar hari ini,
Ayah di Karawang Cabuli Anak Kandung Selama 11 Tahun
Aksi biadab seorang ayah berinisial DH (46) di Karawang akhirnya terbongkar. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai wiraswasta ini diringkus polisi setelah tega menyetubuhi anak kandungnya sendiri, WU (20), selama bertahun-tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Satuan Reserse (Satres) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) dan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) Polres Karawang bergerak cepat menciduk pelaku di kediamannya, Kecamatan Karawang Timur.
Kasi Humas Polres Karawang, Ipda Cep Wildan mengungkapkan, aksi bejat terakhir pelaku terjadi pada Senin, 22 Juni 2026, sekitar pukul 11.00 WIB. Pelaku melancarkan aksinya saat suasana rumah sepi.
"Awal mula kejadian, korban sedang berada di dalam kamarnya. Tiba-tiba pelaku masuk dan langsung melancarkan aksinya. Korban disetubuhi di bawah ancaman oleh pelaku," ujar Wildan kepada awak media, Jumat (10/7/2026).
Fakta memilukan terungkap dalam pemeriksaan. Tindakan keji ini ternyata bukan yang pertama kali dialami korban. DH diduga sudah mulai merusak masa depan darah dagingnya itu sejak korban masih berusia sembilan tahun tepatnya pada tahun 2015 atau 11 tahun yang lalu.
Setelah belasan tahun memendam trauma mendalam dan merasa muak, korban yang kini berstatus mahasiswi itu akhirnya mengumpulkan keberanian. Ia melaporkan ayah kandungnya ke Polres Karawang demi mencari keadilan.
"Laporan resmi kami terima pada tanggal 8 Juli 2026. Satres PPA dan PPO kemudian bergerak cepat merespons laporan tersebut dengan melakukan sejumlah tindakan tegas, Melakukan pemeriksaan intensif terhadap sejumlah saksi, termasuk ibu korban, YA (44), dan saksi M (57) selaku keluarga korban," kata Wildan.
Selain menangkap DH, polisi juga telah mengamankan sejumlah barang bukti dari lokasi kejadian. Atas perbuatannya, pelaku kini harus mendekam di balik jeruji besi dan dijerat Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS).
"Kami sudah mengamankan barang bukti dan tersangka, pelaku dijerat dengan Pasal 6 huruf c Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang TPKS dengan ancaman hukuman pidana penjara 12 tahun dan denda Rp300 juta, terlebih hal ini dilakukan oleh orang tua kandung yang seharusnya menjadi pelindung korban," pungkasnya.
TPT Proyek Kos-kosan di Jatinangor Ambruk, 1 Pekerja Tewas
Tembok penahan tebing (TPT) mengalami ambruk saat adanya pengerjaan proyek pembangunan kos-kosan di Desa Hegarmanah, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, pada Jumat (10/7/2026). Satu orang pekerja tewas, dan satu lainnya mengalami patah tangan.
Kapolsek Jatinangor Kompol Rogers Thomas menjelaskan peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 11.00 WIB. Menurutnya, pada saat kejadian para pekerja daripada proyek kos-kosan tengah mengerjakan galian fondasi bangunan.
Namun, diduga adanya getaran pada saat penggalian dari fondasi tersebut, TPT yang memiliki ketinggian delapan meter langsung roboh dan menimpa pekerja proyek.
"Pada saat penggalian fondasi dasar, TPT yang di atas mungkin karena getaran penggalian di bawah sehingga mengakibatkan fondasi gantung yang ada itu roboh," ujar Rogers di lokasi kejadian.
Rogers mengatakan, dalam peristiwa itu dua pekerja masing-masing bernama Dodo (45) dan Ikun (60) warga dari Hegarmanah tertimbun dari TPT. Untuk korban Ikun berhasil menyelamatkan diri, sementara korban Dodo dinyatakan meninggal dunia usai tertimbun reruntuhan.
"Totalnya ada delapan orang di lokasi, dua orang tertimpa. Yang satunya sempat menyelamatkan diri, tapi mengenai runtuhan juga kemudian dibawa ke rumah sakit, satu lagi meninggal dunia," katanya.
"Allhamdulilah untuk korban yang tertimbun sudah berhasil dievakuasi oleh petugas gabungan. Untuk korban Ikun dibawa ke RS Unpad, sementara korban Dodo kita bawa dulu ke Puskesmas Jatinangor," ungkapnya.
Berdasarkan informasi yang didapat pihak kepolisian, untuk korban sendiri tengah melakukan proses pembangunan dari kos-kosan. Sementara akibat kejadian ini pihak kepolisian meminta agar pengerjaan proyek pembangunan kos-kosan tersebut untuk dihentikan sementara waktu.
"Khususnya mau dibuat kos-kosan. Untuk sementara kita mengimbau lewat aparat pemerintah, kepala desa dan unsurnya, untuk dihentikan sementara," pungkasnya.
Perpustakaan Gasibu Dibongkar
Proyek penataan kawasan Gedung Sate dan Lapangan Gasibu mulai mengubah wajah ruang publik ikonik di Kota Bandung. Salah satu dampaknya, bangunan Perpustakaan Gasibu yang selama ini menjadi tempat membaca favorit masyarakat kini telah dibongkar hingga rata dengan tanah.
Pantauan di lokasi, Kamis (10/7/2026), bangunan perpustakaan di sisi utara Lapangan Gasibu sudah tidak lagi berdiri. Yang tersisa hanya pos keamanan, sementara alat berat masih terlihat mengangkut material bekas pembongkaran.
Perpustakaan tersebut merupakan aset milik Biro Umum Sekretariat Daerah (Setda) Pemprov Jawa Barat yang ikut terdampak proyek penataan kawasan Gedung Sate dan Lapangan Gasibu.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispusipda) Jawa Barat Kusmana Hartadji mengatakan pembongkaran perpustakaan merupakan bagian dari penataan ruang publik yang tengah dilakukan Pemprov Jabar.
Meski begitu, ia memastikan langkah tersebut bukan berarti pemerintah mengesampingkan fungsi literasi di kawasan Gasibu.
"Ya itu kan terkait dengan penataan ruang publik ya. Jadi untuk lebih nyaman, juga lebih sesuai dengan fungsi, lebih optimal sebagai peruntukannya. Jadi intinya pasti berdampak kepada perpustakaan," kata Kusmana saat dihubungi.
"Bukan berarti tidak ada keberpihakan. Jadi sebetulnya saya juga sudah koordinasi dengan Biro Umum, sedang dikaji nanti apa namanya, pembagian ruang itu secara proporsional," sambungnya.
Menurut Kusmana, saat ini Biro Umum Setda Jabar masih mengkaji konsep penempatan fasilitas literasi yang baru agar selaras dengan wajah baru kawasan Gedung Sate dan Gasibu.
Kajian tersebut, kata dia, mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari kenyamanan pengunjung, kemudahan akses, hingga keberlanjutan layanan membaca bagi masyarakat.
"Jadi untuk literasi sebetulnya proses penataannya sambil menunggu, jadi ada tata letak yang lebih paling tepat untuk pengembangan layanan literasi ke depan. Jadi sedang dikaji oleh Biro Umum sebetulnya, hal tersebut dilakukan dengan pertimbangan aspek kenyamanan, termasuk juga kemudahan akses, serta keberlanjutan pemanfaatan oleh masyarakat," ujarnya.
Kusmana mengakui keberadaan Perpustakaan Gasibu selama ini memiliki nilai tersendiri bagi masyarakat. Selain menjadi tempat membaca, perpustakaan tersebut juga menjadi ruang berkumpul, terutama saat akhir pekan. Bahkan, jumlah pengunjungnya mencapai sekitar seribu orang setiap bulan.
"Bahwa perpustakaan memiliki nilai dan kenangan bagi masyarakat di sana ya. Banyak juga sebetulnya pengunjungnya, hampir rata-rata sekitar per bulan itu ada yang 1.000, apalagi Sabtu-Minggu ya," katanya.
Karena itu, Dispusipda berharap layanan literasi tetap menjadi bagian dari kawasan Gasibu setelah proyek penataan selesai.
"Jadi nanti barangkali bukan berarti mengurangi semangat, tapi saya juga sedang menunggu nih nanti kajian yang komprehensif, pemustaka tetap bisa dilayani gitu ya," ujarnya.
Saat ditanya peluang perpustakaan kembali dibangun di kawasan Gasibu, Kusmana mengaku optimistis fasilitas tersebut tetap akan dihadirkan, meski dengan konsep yang menyesuaikan hasil penataan ruang publik.
"Mudah-mudahan ya, mudah-mudah ada lagi.
Tapi juga kan ini juga sama-sama ruang publik dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekosistem literasi, sehingga keduanya dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. Jadi semangat literasinya mah tetap," ungkapnya.
"Kalau kami menunggu saja nanti karena kan pastilah ada beberapa pemustaka juga yang bertanya seperti itu," tambahnya.
Kusmana menjelaskan, Perpustakaan Gasibu sebenarnya bukan merupakan aset Dispusipda Jabar. Bangunan tersebut berstatus perpustakaan khusus dengan aset milik Biro Umum Setda Jabar, sedangkan Dispusipda hanya bertugas mengelola layanan dan petugas perpustakaannya.
"Ya itu kan perpustakaan khusus namanya. Karena di sana kan hanya baca, tidak boleh pinjam gitu. Tapi kalau pengelolaannya memang dari kita, petugas segala macamnya. Cuma asetnya memang milik Biro Umum Sekretariat Daerah," jelas Kusmana.
Sementara selama Perpustakaan Gasibu belum kembali beroperasi, masyarakat yang ingin membaca dapat memanfaatkan sejumlah layanan perpustakaan lain yang disediakan pemerintah.
"Yang pertama bisa langsung juga ke Perpustakaan Provinsi ya di Jalan Kawaluyaan. Juga perpustakaan yang ada di Kota Bandung. Atau memang kalau memang berkelompok gitu, bisa juga minta perpustakaan keliling ke kita," tutup Kusmana.
Polisi Bekuk 10 Pelajar Bersenjata Resahkan Warga Rancamanyar Bandung
Polisi mengamankan 10 pelajar yang membawa senjata tajam dan meresahkan masyarakat di wilayah Desa Rancamanyar, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung. Aksi pelajar tersebut diduga didalangi oleh pelajar berusia 14 tahun yang tergabung dalam kelompok "Lapetre".
Kapolsek Baleendah AKP Hendri Noki mengatakan polisi langsung bergerak melakukan penyelidikan usai menerima laporan pelajar yang meresahkan, Minggu (5/7/2026) lalu. Kemudian sejumlah saksi mata di TKP langsung dimintai keterangan.
"Kami langsung segera melakukan penyelidikan dengan mendatangi lokasi kejadian, memeriksa rekaman CCTV, serta meminta keterangan sejumlah saksi," ujar Hendri kepada awak media, Jumat (10/7/2026).
Pihaknya menjelaskan bahwa hasil penyelidikan langsung mengarah ke kelompok pelajar yang diduga melakukan aksi tersebut. Kata dia, polisi langsung melakukan pengejaran kepada para pelajar tersebut.
"Petugas kemudian melakukan pengejaran dan berhasil mengamankan 10 orang anak. Selanjutnya mereka dibawa ke Polsek Baleendah untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut sesuai ketentuan peradilan anak," katanya.
Hendri mengungkapkan kelompok pelajar tersebut mengaku tergabung dalam kelompok yang menamakan diri "Lapetre". Hal tersebut diketahui setelah memeriksa para pelajar yang telah diamankan.
"Iya para anak tersebut mengaku tergabung dalam kelompok yang menamakan dirinya "Lapetre"," jelasnya.
Kelompok tersebut diduga berencana melakukan penyerangan terhadap sekelompok pemuda di wilayah Rancamanyar. Mereka menyerang dengan menggunakan sepeda motor dan membawa senjata tajam.
"Namun aksi tersebut tidak sempat terjadi, karena dihadang dan diusir oleh warga setempat. Sehingga rombongan tersebut berbalik arah meninggalkan lokasi," ungkapnya.
Hendri mengungkapkan, tim penyidik terus melakukan pendalaman terkait peran dari masing-masing pelajar tersebut. Salah satunya adalah anak berinisial RP (14) yang diduga mengajak rekan-rekannya melakukan penyerangan.
"Iya ada satu anak inisial RP (14) diduga mengajak rekan-rekannya melakukan penyerangan, mengendarai sepeda motor Honda PCX berwarna merah, serta membawa sebilah golok," kata Hendri.
3 Bulan Lagi Nikah, Warga Bandung yang Diseret Buaya Ditemukan Tewas
Ipan Nurzaman, pemuda asal Desa Batulayang, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), yang hilang disambar lalu diseret buaya di Sungai Desa I, Teluk Betung, Kecamatan Pulau Rimau, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan ditemukan tewas.
Pemuda 25 tahun itu diterkam buaya pada Senin (6/7/2026) sekitar pukul 02.00 WIB. Lalu jasadnya ditemukan pada Kamis (9/7/2026) pukul 18.15 WIB. Petugas mengevakuasi jasad Ipan sekitar 3,4 kilometer dari titik ia disambar buaya.
"Betul alhamdulillah sudah ditemukan kemarin sekitar jam 18.15, keluarga sudah kasih kabar katanya mau langsung dipulangkan," kata Kepala Desa Batulayang, Imam Mujahidin saat dikonfirmasi, Jumat (10/7/2026).
Jasad Ipan sudah dipulasara di rumah sakit setelah ia dievakuasi. Lalu kini keluarga sudah membawa jenazah mendiang Ipan ke kampung halaman untuk dikebumikan. Jenazah diperkirakan tiba pada Jumat petang.
"Keluarga koordinasi terus dengan saya, informasinya masih perjalanan. Diperkirakan sampai ke rumah di Cililin jam 5 sore ini kemudian akan dimakamkan malam hari," kata Imam.
Imam mengatakan mendiang Ipan ditemukan tepat di hari ulang tahunnya kemarin. Kemudian pemuda itu juga kabarnya akan melangsungkan pernikahan tiga bulan lagi setelah bertunangan dengan pujaan hatinya.
"Iya mau nikah, 3 bulan lagi kan sudah tunangan. Cuma karena musibah seperti ini, kita doakan saja untuk almarhum," kata Imam.
Tragedi yang menimpa Ipan berawal saat korban sedang memperbaiki perahu untuk bekerja. Tiba-tiba ada buaya yang menyambar lalu menyeret Ipan ke dalam air. Ipan sendiri baru setahun merantau ke Sumatera Selatan.
(sya/sud)
