Ancaman musim kemarau di wilayah Kabupaten Sukabumi mulai membayangi. Krisis air bersih mulai mencekik warga, memaksa barisan emak-emak di Kecamatan Cibadak turun tangan berjejer menanti pasokan air tangki akibat sumur mereka yang mengering.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sukabumi, Eky Radiana, mengungkap bahwa pihaknya memantau ketat pergerakan anomali cuaca melalui Peta Risiko Bencana Kekeringan di Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Instrumen ini menjadi fondasi utama dalam menentukan arah kebijakan mitigasi. Hal itu juga sudah tertulis dalam Peta Kajian Risiko Bencana Kabupaten Sukabumi 2024-2028.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika kita bedah secara detail, peta tersebut membentangkan konstelasi kerawanan yang sangat luas. Pemetaan kami mencakup seluruh wilayah administratif yang berbatasan langsung dengan Provinsi Banten di sisi barat, Kabupaten dan Kota Bogor di utara, Kabupaten Cianjur di timur, hingga hamparan pesisir Teluk Palabuhanratu," papar Eky kepada detikJabar, Kamis (9/7/2026).
Eky menambahkan bahwa gradasi warna pada legenda Indeks Risiko Bencana Kekeringan memberikan panduan presisi terkait titik-titik kerentanan tertinggi.
"Peta ini bukan sekadar dokumen administratif, melainkan alarm bagi kami. Ketika curah hujan mulai menyusut, kami sudah tahu titik mana saja yang harus disiagakan armada tangki airnya," tegasnya.
Apa yang dikhawatirkan BPBD dari peta risiko tersebut kini telah menjadi realitas yang mendesak. Kasus kedaruratan air yang cukup parah melanda warga di Kampung Cikiwul Tonggoh RW 01, Desa Sekarwangi, Kecamatan Cibadak.
BPBD langsung menerjunkan armada tangki air bersih berkapasitas besar untuk merespons kebutuhan mendesak warga. Di lokasi, warga tampak berkumpul di bawah rindangnya pepohonan mengelilingi truk tersebut. Tanpa komando, warga yang didominasi kalangan ibu-ibu mengantre dengan tertib mengamankan pasokan air untuk dapur mereka.
Pemandangan dari jarak dekat memperlihatkan realitas perjuangan warga menembus krisis. Beragam wadah berjejer menutupi tanah; mulai dari galon air kemasan bening, ember bekas cat berwarna putih dan biru, hingga jerigen plastik.
Terlihat seorang ibu berkerudung hijau dan ibu lainnya yang mengenakan daster bergaris tampak sibuk mengarahkan mulut galonnya ke ujung selang yang dipegang erat oleh petugas BPBD berseragam oranye. Deretan galon kosong yang menunggu giliran menjadi saksi bisu beratnya krisis air yang tengah mereka hadapi.
Menyikapi eskalasi kebutuhan tersebut, Eky Radiana memastikan BPBD terus bergerak. Ia mengungkapkan bahwa jangkauan krisis rupanya tidak hanya terkonsentrasi di Desa Sekarwangi, melainkan menyebar ke wilayah administratif lain.
"Langkah tanggap darurat mutlak dilakukan. Kita tidak bisa membiarkan warga berlama-lama menanggung krisis air bersih. Alhamdulillah, sejauh ini kita sudah dua kali menyalurkan bantuan air bersih. Kami memfokuskan pada titik-titik terdampak di wilayah Kecamatan Cibadak," papar Eky.
Eky merinci, armada BPBD juga sudah masuk dan melakukan distribusi di tiga titik wilayah kelurahan, yaitu di RT 004/019, RT 004/020, dan RT 004/021 Kelurahan Cibadak.
"Kondisi di Cibadak ini harus menjadi pelajaran. Saya mengimbau pemerintah desa dan kelurahan lain yang masuk zona kerentanan di Peta Risiko Kekeringan untuk terus memonitor sumber air warganya. Jangan ragu untuk segera melapor," pungkasnya.
(sya/sud)
