Hamparan sawah di Desa Kalisapu, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon, tampak berbeda pada musim kemarau ini. Lahan yang sebelumnya dipenuhi tanaman padi, kini berubah menjadi tanaman semangka dan blewah yang mulai tumbun.
Perubahan itu bukan tanpa alasan. Keterbatasan pasokan air membuat para petani memilih beralih dari padi ke tanaman yang dinilai lebih sesuai dengan kondisi lahan saat kemarau.
Salah seorang petani, Suhana, mengatakan sawah di wilayahnya umumnya hanya bisa ditanami padi satu kali dalam setahun. Tanam kedua kerap terkendala pasokan air yang tidak mencukupi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau di sini padi kuatnya cuma satu kali tanam. Tanam kedua berat karena airnya enggak kebagian," kata Suhana saat berbincang dengan detikJabar di Desa Kalisapu, Rabu (8/7/2026).
Pria yang menjabat sebagai Kepala Desa (Kuwu) Kalisapu itu mengaku pernah memaksakan diri menanam padi untuk kedua kalinya dalam periode satu tahun. Namun hasilnya jauh dari harapan karena tanaman kekurangan air hingga gagal berkembang.
"Saya pernah memaksakan tanam kedua, tapi enggak nyampe. Sudah mau berbuah malah kering karena enggak kuat, enggak kebagian air," ujar Suhana.
Berbagai upaya sempat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan air, mulai dari memanfaatkan genangan hingga membeli air menggunakan truk tangki. Namun hasilnya tetap tidak maksimal.
"Bahkan beli air pakai tangki juga tetap enggak nyukupi. Malah saya rugi," ungkapnya.
Pengalaman itu menjadi pelajaran bagi para petani di Desa Kalisapu. Saat musim kemarau, mereka memilih beralih ke tanaman lain, seperti semangka dan blewah.
"Yang di sini itu tanamannya semangka, blewah, sama palawija lain. Kalau semangka sama blewah perawatannya lebih ringan. Airnya enggak terlalu banyak. Kalau padi kan harus basah terus," tutur Suhana.
Ia menjelaskan, masa tanam padi di wilayahnya membutuhkan waktu sekitar tiga bulan hingga panen. Sementara semangka maupun blewah sudah dapat dipanen dalam waktu sekitar 70 hingga 75 hari setelah ditanam.
"Kalau padi itu 3 bulan. Dari penyemaian, terus masa tanam sampai panen itu 3 bulan. Sedangkan semangka itu 70 sampai 75 hari, blewah juga sama," kata dia.
Dari sisi hasil panen, pada lahan sekitar setengah hektare, tanaman padi umumnya menghasilkan sekitar 2,5 hingga 3 ton gabah. Adapun semangka dan blewah pada luasan lahan yang sama dapat menghasilkan sekitar 10 ton hingga 12 ton saat kondisi tanaman baik.
"Tanaman padi, untuk lahan setengah hektare, itu biasanya dapat 2,5 sampai 3 ton. Sedangkan semangka dan blewah kalau lagi bagus bisa sekitar 10 ton sampai 12 ton," katanya.
Menurut Suhana, pergantian komoditas ini merupakan bentuk penyesuaian terhadap musim dan kondisi lahan agar sawah tetap produktif.
"Menyesuaikan musim dengan kondisi lahan. Bagaimana caranya petani jangan sampai merugi dan lahannya jangan sampai nganggur," pungkasnya.
Sekadar diketahui, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia terjadi pada Juli - September 2026. Masyarakat diminta mulai mengantisipasi dampaknya, mulai dari ketersediaan air, kondisi kesehatan, hingga berbagai sektor yang berpotensi terdampak.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan puncak kemarau pada Juli mencakup 83 Zona Musim (ZOM) atau 12,26 persen luas daratan Indonesia. Sedangkan pada Agustus, puncak kemarau terjadi di 369 ZOM (48,84 persen luas daratan) dan 169 ZOM (25,41 persen luas daratan) pada September.
"Wilayah yang diprediksi mengalami puncak kemarau pada Juli 2026 meliputi sebagian Sumatra, sebagian kecil Kalimantan dan Jawa, Nusa Tenggara Timur bagian selatan, Sulawesi Barat bagian utara, Sulawesi Tengah bagian barat, sebagian kecil Maluku, Papua Barat Daya bagian selatan, Papua Barat bagian Tengah, dan Papua bagian timur," kata Faisal dikutip dari laman resmi BMKG.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, telah menetapkan status Siaga Darurat Kekeringan yang berlaku mulai 1 Juli hingga 30 September 2026.Penetapan status ini menjadi payung hukum bagi pemerintah daerah untuk mempercepat langkah mitigasi sebelum dampak kekeringan meluas.
Sekretaris Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon, Samsul Huda, menjelaskan keputusan ini merujuk pada Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat. Instruksi tersebut mewajibkan seluruh perangkat daerah meningkatkan kewaspadaan dan mempercepat penanganan di titik-titik rawan.
"Status siaga darurat ini diberlakukan sebagai langkah antisipasi agar pemerintah daerah dapat bergerak lebih cepat dalam melakukan mitigasi dan penanganan apabila dampak kekeringan mulai dirasakan masyarakat," ujarnya, Kamis (2/7/2026).
BPBD telah mengidentifikasi sejumlah risiko krusial. Selain kelangkaan air bersih, vegetasi yang mengering meningkatkan risiko karhutla. Sektor ekonomi seperti pertanian, peternakan, dan perikanan juga terancam mengalami penurunan produktivitas.
(yum/yum)
