Musim Kemarau Panjang, Cimahi Tetapkan Siaga Darurat Kekeringan

Musim Kemarau Panjang, Cimahi Tetapkan Siaga Darurat Kekeringan

Whisnu Pradana - detikJabar
Minggu, 05 Jul 2026 18:29 WIB
Ilustrasi kekeringan ekstrem
Ilustrasi kekeringan ekstrem (Foto: The Cool Down)
Cimahi -

Musim kemarau yang lebih panjang di tahun 2026 ini memunculkan kekhawatiran akan dampak kekeringan dan krisis air bersih di seluruh wilayah Kota Cimahi. Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus sampai September.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi, Fithriandy Kurniawan mengatakan sesuai arahan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, pihaknya sudah menetapkan status Siaga Darurat Kekeringan sejak 1 Juli sampai 30 September 2026 mendatang.

"Ya sudah, Pemerintah Kota Cimahi sudah menetapkan status Siaga Darurat Kekeringan di musim kemarau tahun ini, yang diprediksi datang lebih panjang," kata Fithriandy saat dikonfirmasi, Minggu (5/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fithriandy mengatakan sudah ada laporan awal potensi kekeringan yang terjadi di Kelurahan Cibeureum. Potensi kekeringan juga membayangi 312 RW di 15 kelurahan di Kota Cimahi berdasarkan laporan tahun-tahun sebelumnya.

ADVERTISEMENT

"Sudah ada, namun kekeringan masih tergolong kategori ringan. Kita sudah menyiagakan personel sekaligus koordinasi penyaluran air bersih ke wilayah terdampak," kata Fithriandy.

Sementara mengacu pada dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB), pada kemarau panjang dua tahun lalu kekeringan terparah terjadi di Cimahi bagian selatan, mulai dari Kelurahan Melong, Utama, hingga Leuwigajah.

"Kekeringan terparah yang kita catat itu dua tahun lalu, dampak yang ditimbulkan sama. Kemudian paling parah ada di daerah selatan, memang karena warga mengandalkan air PDAM dan sebagian air tanah," ucap Fithriandy.

Krisis air bersih yang dialami warga Kota Cimahi juga karena ketersediaan sumber air tanah dan sumur warga sudah mengalami penurunan muka air. Sehingga kondisi sumur pada musim kemarau nanti akan mengalami gangguan.

"Jadi kekeringannya itu disebabkan sumber air di sumur mengalami penurunan. Karena di sana mayoritas sumber airnya itu dari sumur ditambah kan berebut dengan industri air tanahnya juga," kata Fithriandy.



(dir/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads