Di Balik Polemik MBG, Jajang Temukan Harapan Hidup

Dadang Hermansyah - detikJabar
Jumat, 05 Jun 2026 08:00 WIB
Jajang saat ditemui di rumahnya. (Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar)
Ciamis -

Badan Gizi Nasional (BGN) belakangan menjadi sorotan setelah Kepala BGN, Dadan Hindayana, dicopot dari jabatannya dan kemudian ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi yang berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Di tengah berbagai polemik yang berkembang, program MBG ternyata menyimpan cerita berbeda di kalangan masyarakat bawah. Bagi sebagian warga, program tersebut justru menjadi sumber penghasilan yang membantu memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.

Salah satunya dirasakan oleh Jajang Nurjaman (25), warga Dusun Citutut, Desa Dewasari, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis.

Sudah tujuh bulan terakhir, Jajang bekerja sebagai relawan di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) program MBG. Pekerjaan itu memberinya penghasilan yang selama ini sulit ia dapatkan saat masih bekerja serabutan.

Jajang mulai bekerja sejak pukul 13.00 WIB hingga sekitar pukul 21.00 WIB. Bersama relawan lainnya, ia bertugas membersihkan peralatan makan atau ompreng yang digunakan dalam program MBG.

Sebelum bergabung dengan program tersebut, kehidupan Jajang jauh dari kata pasti. Ia mengaku hanya mengandalkan pekerjaan serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ia pernah bekerja di jasa sablon, kadang memperbaiki motor di bengkel kecil miliknya di rumah. Namun pekerjaan itu tidak selalu mendatangkan penghasilan.

"Dulu mah serabutan, penghasilannya nggak tentu, kadang ada, kadang nggak ada sama sekali," kata Jajang kepada detikJabar.

Latar belakang pendidikan Jajang juga terbilang sederhana. Ia mengaku tidak sempat menyelesaikan pendidikan hingga lulus SMP. Karena itu, peluang mendapatkan pekerjaan tetap tidak mudah baginya. Kesempatan datang ketika ia mendengar ada pembukaan relawan dapur MBG di wilayahnya. Jajang pun langsung mendaftarkan diri.

Ia mengaku sempat menunggu selama hampir tiga bulan tanpa kabar setelah menyerahkan berkas lamaran ke SPPG di wilayah Cijeungjing.

"Saya daftar waktu ada dapur baru dibuka. Awalnya nunggu lama, sekitar tiga bulan nggak ada kabar. Saya kira nggak diterima. Ternyata suatu hari dihubungi lewat WhatsApp untuk ikut seleksi, alhamdulillah lolos," ujarnya.

Kini, setiap bulan Jajang menerima penghasilan sekitar Rp 2,4 juta. Nilai itu menurutnya jauh lebih baik dibandingkan saat mengandalkan pekerjaan serabutan.

"Kalau dibanding dulu, sekarang lebih jelas. Ada penghasilan tetap setiap bulan. Jadi bisa ngatur kebutuhan. Sedikit-sedikit bisa bantu renovasi rumah orang tua juga," tuturnya.

Penghasilan tersebut bahkan membuat Jajang mulai berani merencanakan masa depannya. Ia kini tengah menabung untuk biaya menikah.

"Saya anak kedua. Sekarang lagi nabung buat nikah. Kalau dulu waktu masih serabutan rasanya susah mau punya target karena penghasilannya nggak pasti," katanya sambil tersenyum.

Sebelum bekerja di program MBG, Jajang sempat merantau ke Kalimantan Tengah. Selama sekitar enam bulan ia bekerja membuat batako dan sesekali bekerja di area perkebunan sawit. Namun karena jauh dari keluarga dan penghasilannya tidak sesuai harapan, ia memutuskan pulang kampung.

"Merantau pernah ke Kalimantan. Kerja batako sama sawit sekitar enam bulan. Tapi jauh dari keluarga dan akhirnya balik lagi ke Ciamis," ungkapnya.

Kini, selain menjadi relawan SPPG, Jajang masih menjalankan usaha tambal ban dan bengkel kecil di rumahnya pada pagi hingga siang hari sebelum berangkat bekerja.

Ia berharap program MBG tetap berjalan dalam jangka panjang karena manfaatnya sangat dirasakan masyarakat kecil.

"Harapan saya program ini terus berlanjut. Soalnya bukan cuma membantu penerima manfaat, tapi juga membuka lapangan pekerjaan buat warga seperti saya," katanya.

Hal senada disampaikan orang tua Jajang, Ining. Ia mengaku bersyukur anaknya kini memiliki pekerjaan dengan penghasilan yang lebih pasti.

Menurutnya, sebelum bekerja di dapur MBG, pendapatan Jajang sering kali tidak menentu karena bergantung pada pekerjaan serabutan.

"Alhamdulillah sekarang ada penghasilan tetap. Dulu mah kadang ada uang, kadang tidak ada. Sebagai orang tua tentu senang karena anak bisa lebih mandiri," ujar Ining.

Ia mengenal anaknya sebagai sosok pekerja keras. Kemampuan memperbaiki motor yang dimiliki Jajang bahkan dipelajari secara otodidak sejak kecil.

"Anak saya memang rajin kerja. Dari dulu suka ikut di bengkel. Belajarnya otodidak dari ayahnya. Makanya sekarang bisa buka bengkel sendiri di rumah," katanya.

Ining berharap program MBG tetap dilanjutkan karena tidak hanya memberikan manfaat bagi siswa penerima makanan bergizi, tetapi juga membantu perekonomian masyarakat yang bekerja di dalamnya.

"Mudah-mudahan programnya terus ada. Banyak warga yang merasakan manfaatnya, termasuk anak saya," pungkasnya.



Simak Video "Video: Intip Pengelolaan SPPG Polri yang Terapkan Standar Food Safety untuk MBG"

(dir/dir)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork