Mana Lebih Sehat Telur Ceplok atau Telur Dadar? Ini Kata Pakar Gizi

Mana Lebih Sehat Telur Ceplok atau Telur Dadar? Ini Kata Pakar Gizi

Andi Annisa Dwi R - detikJabar
Senin, 27 Jul 2026 05:00 WIB
Two eggs frying in a pan with oil
Ilustrasi telur ceplok (Foto: Getty Images/Miguel Angel Flores)
Bandung -

Olahan telur mata sapi maupun telur dadar sama-sama memiliki banyak peminat. Namun, jika ditinjau dari aspek gizi, manakah opsi yang terbukti lebih menyehatkan? Berikut penjelasan dari ahli nutrisi Institut Pertanian Bogor (IPB).

Kala menyantap hidangan pagi, tidak sedikit masyarakat yang memilih telur karena penyajiannya yang serba praktis sekaligus lezat. Selain itu, bahan pangan ini kaya akan gizi-mencakup perpaduan protein bermutu tinggi, asupan lemak baik, hingga aneka vitamin serta mineral. Kandungan tersebut efektif menunjang stamina tubuh sekaligus memberi rasa kenyang yang lebih tahan lama setelah terbangun dari tidur.

Di Indonesia sendiri, beragam kreasi olahan telur kerap menjadi menu andalan, tak terkecuali telur mata sapi dan telur dadar yang tergolong dalam teknik penggorengan. Jika disandingkan, terdapat perbedaan profil nutrisi di antara keduanya yang dapat Anda jadikan pertimbangan dalam menentukan pilihan makanan yang lebih sehat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal ini diungkap Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Dr Karina Rahmadia Ekawidyani. Mengutip situs IPB University (17/7), Dr Karina mengatakan secara umum telur ceplok dan telur dadar memiliki kandungan gizi yang hampir sama.

Perbedaan utamanya terletak pada jumlah minyak dan bahan tambahan yang digunakan selama proses pengolahan. Hal tersebut terkait kandungan kalori dan lemak olahan telur nantinya.

ADVERTISEMENT

Telur dadar berpotensi memiliki kandungan kalori dan lemak yang lebih tinggi karena cenderung menyerap lebih banyak minyak. Selain itu, penambahan bahan seperti keju, tepung, sosis, atau daging cincang juga dapat meningkatkan nilai energi pada hidangan tersebut.

Dr Karina juga menyoroti proses masak telur yang justru bisa meningkatkan kualitas gizinya. "Proses memasak telur dapat meningkatkan daya cerna dan penyerapan protein hingga sekitar 91 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan telur mentah yang hanya sekitar 51 persen," jelasnya.

Meski demikian, ia mengingatkan agar telur tidak dimasak pada suhu yang terlalu tinggi dalam waktu lama. Suhu memasak yang dianjurkan berkisar 60-80 derajat Celsius.

Jika telur dimasak di atas 150-160 derajat Celsius, maka berpotensi merusak sebagian asam amino dan menurunkan kualitas gizinya.

Selain itu, Dr Karina mengungkap, ada olahan telur ideal untuk mereka yang sedang diet atau jaga berat badan. Ia menyarankan metode memasak tanpa minyak, seperti merebus, membuat poached egg, atau mengukus.

Namun, ia menegaskan bahwa telur ceplok maupun telur dadar tetap dapat menjadi pilihan selama penggunaan minyak dibatasi. Kamu bisa mengakalinya dengan memanfaatkan wajan anti lengket atau minyak semprot.

Menyoal konsumsi kuning telur yang kerap dikaitkan dengan efek meningkatkan kadar kolesterol, Dr Karina meluruskan anggapan tersebut.

Berdasarkan berbagai penelitian terbaru, konsumsi telur tidak terbukti meningkatkan risiko penyakit jantung.

Peningkatan kolesterol darah lebih dipengaruhi oleh konsumsi pangan tinggi lemak jenuh dan lemak trans yang dikonsumsi bersamaan dengan makanan sumber kolesterol.

Karena itu, Dr Karina mengimbau agar masyarakat tidak ragu mengonsumsi telur sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang dengan tetap memperhatikan cara pengolahannya.

Artikel ini telah tayang di detikFood

(adr/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads