Banyak orang mendambakan untuk punya rumah yang dikelilingi sawah. Rasanya, lebih damai, sejuk dan tenang. Memang tidak ada yang salah dengan impian itu.
Namun, ada hal yang perlu diperhatikan. Pasalnya, tanah untuk sawah punya sifat yang berbeda dengan tanah padat yang biasa dipakai untuk membangun rumah.
Sifat tanah sawah umumnya bertekstur halus dan lengket. Menurut kontraktor Taufiq Hidayat mengatakan jenis tanah seperti itu daya dukungnya rendah sehingga rentan terjadi pergeseran. Alhasil struktur bangunan juga akan berdampak, dampak terburuknya adalah bangunan bisa roboh.
"Yang dikhawatirkan kan tanah bekas rawa dan sawah itu, dia punya daya dukung tanah dasar tempat berpijaknya pondasi itu kan bergeser, gimana caranya supaya (tanah) nggak bergeser? Nah itu harus ada ahlinya," kata Taufiq saat diwawancara detikcom, Kamis (26/6/2025).
Taufiq memberikan contoh rumah dua lantai dibangun di atas tanah bekas sawah atau rawa. Rumah dua lantai ini pasti memiliki berat struktur. Fungsi perhitungan ini untuk mengetahui fondasi apa yang cocok dengan kondisi tanahnya.
"Nah yang mesti dilakukan adalah cek dulu penggunaan pondasi yang cocok di tanah bekas sawah atau rawa seperti apa, bisa juga dengan tiang pancang, atau pondasi cakar ayam, pondasi telapak," jelasnya.
Oleh karena itu, sebelum membangun rumah perlu ada uji kelayakan tanah atau sondir. Langkah ini dilakukan untuk mengetahui daya dukung tanah hingga kedalaman lapisan tanah keras.
Jika melewati tahapan ini, rumah yang dibangun berisiko cepat rusak akibat terjadi pergerakan tanah. Taufiq menyebut kondisi itu tak hanya menimbulkan dinding retak, tapi bisa sampai rumah roboh karena tanah ambles.
"Kalau bergesernya itu enggak beraturan, ini akan menimbulkan retak di dinding, retak di struktur, retak di balok, retak di konstruksi gitu. Kalau misalnya dia bergeraknya atau turunnya itu bersamaan, ya rumah itu bareng-bareng tuh ambles," ujar Taufiq.
Sisi buruk membangun rumah di tanah bekas sawah lainnya adalah kemungkinan kualitas air di rumah buruk. Padahal air merupakan hal penting yang harus tersedia di rumah dan kualitasnya harus aman digunakan. Sementara, kualitas air di area bekas sawah biasanya kurang baik karena terkontaminasi lumpur.
"Misalnya di kedalaman tertentu lapisan airnya yang didapat itu masih bisa terkontaminasi bekas-bekas rawa atau sawah sekitar, biasanya itu masih jelek ya. Tapi kalau misalnya di dalam lagi, itu akan lebih bagus," ungkap Taufiq.
"Meski begitu, bisa juga yang udah dibor sampai dalam nggak ketemu air bersih. Jadi itu tergantung kondisi geologi tanahnya juga," tambahnya.
Artikel ini telah tayang di detikproperti.
(aqi/yum)